Vektor Demam Berdarah Dengue

Posted on

Vektor Demam Berdarah Dengue

1. Aedes aegypti dan Aedes albopictus
Aedes aegypti dan Aedes albopictus merupakan jenis nyamuk yang dapat membawa virus Dengue penyebab penyakit DBD. Selain Dengue, Aedes aegypti juga merupakan pembawa virus demam kuning (yellow fever) dan chikungunya. Penyebaran jenis ini sangat luas, meliputi hampir semua daerah tropis di seluruh dunia. Sebagai pembawa virus Dengue, Aedes aegypti merupakan pembawa utama (primary vektor) dan bersama Aedes albopictus (co vektor) menciptakan siklus persebaran Dengue di desa dan kota (Womack, 1993).

2. Klasifikasi Ilmiah
Klasifikasi ilmuah nyamuk Aedes menurut Womack (1993) adalah sebagai berikut:
a. Aedes aegypti
1) Kerajaan : Animalia
2) Filum : Arthropoda
3) Kelas : Insecta
4) Ordo : Diptera
5) Familia : Culicidae
6) Subfamilia : Culicinae
7) Genus : Aedes (Stegomyia)
8) Spesies : Aedes aegypti
b. Aedes albopictus
1) Kerajaan : Animalia
2) Filum : Arthropoda
3) Kelas : Insecta
4) Ordo : Diptera
5) Familia : Culicidae
6) Subfamilia : Culicinae
7) Genus : Aedes (Stegomyia)
8) Spesies : Aedes albopictus

 

3. Ciri-ciri Nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes albopictus
Secara umum ciri-ciri nyamuk penyebab penyakit DBD (nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes albopictus) menurut Womack (1993) adalah sebagai berikut:
a. Badan kecil, warna hitam dengan bintik-bintik putih
b. Pertumbuhan telur sampai dewasa ± 10 hari
c. Menggigit atau menghisap darah pada pagi dan sore hari
d. Senang hinggap pada pakaian yang bergantung dalam kamar
e. Bersarang dan bertelur di genangan air jernih di dalam dan di sekitar rumah yang agak gelap dan lembab, bukan di got atau comberan
f. Hidup di dalam dan di sekitar rumah
1) Di dalam rumah : bak mandi, tampayan, vas bunga, tempat minum burung, perangkap semut dan lain-lain.
2) Di luar rumah: drum, tangki penampungan air, kaleng bekas, ban bekas, botol pecah, potongan bambu, tempurung kelapa, dan lain-lain.
Aedes Aegypti dan Aedes albopictus secara morfologis keduanya sangat mirip, namun dapat dibedakan dari strip putih yang terdapat pada bagian skutumnya (Merrit & Cummins, 1978). Skutum Aedes Aegypti berwarna hitam dengan dua strip putih sejajar di bagian dorsal tengah yang diapit oleh dua garis lengkung berwarna putih (Gambar 2.1). Sementara skutum Aedes albopictus yang juga berwarna hitam hanya berisi satu garis putih tebal di bagian dorsalnya (Gambar 2.1). Roche (2002) dalam Supartha (2008), melaporkan bahwa Aedes aegypti mempunyai dua sub spesies yaitu Aedes aegypti queenslandensis dan Aedes aegypti formosus. Sub spesies pertama hidup bebas di Afrika sementara sub spesies kedua hidup di daerah tropis yang dikenal efektif menularkan virus DBD. Sub spesies kedua lebih berbahaya dibandingkan sub spesies pertama.

 

4. Siklus Hidup Aedes Aegypti dan Aedes albopictus
Menurut Departemen Kesehatan (2004) siklus hidup nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes albopictus dibagi menjadi 4 tahapan siklus yaitu:
a. Telur
1) Satu per satu pada dinding bejana
2) Telur tidak berpelampung
3) Sekali bertelur nyamuk betina menghasilkan sekitar 100-250 butir
4) Telur kering dapat tahan 6 bulan
5) Telur akan menjadi jentik setelah sekitar 2 hari
b. Jentik
1) Sifon dengan satu kumpulan rambut
2) Pada waktu istirahat membentuk sudut dengan permukaan air
3) 6-8 hari menjadi pupa
c. Pupa
1) Sebagian kecil tubuhnya kontak dengan permukaan air
2) Bentuk terompet panjang dan ramping
3) 1-2 hari menjadi nyamuk Aedes aegypti
d. Nyamuk Dewasa
1) Panjang 3-4 mm
2) Bintik hitam dan putih pada badan dan kepala
3) Terdapat ring putih di kakinya

 

5. Tempat Berkembang Biak Aedes Aegypti dan Aedes albopictus
Lingkaran hidup nyamuk ini melalui metamorfosis sempurna, artinya sebelum menjadi stadium dewasa harus mengalami beberapa stadium pertumbuhan yakni telur, beberapa stadium larva dan stadium pupa. Satu siklus lamanya kira-kira 9-12 hari dan ini sangat tergantung dengan adanya persediaan makanan dan temperatur yang sesuai. Pengetahuan tentang oviposition (tempat bertelur) dan breeding place (tempat perkembangbiakan) dalam siklus hidup mem[unyai arti tersendiri karena ada kaitannya dengan program penanggulangan vektor (Wijana,1992).
Secara biologis kedua spesies nyamuk tersebut mempunyai dua habitat yaitu akuatik (perairan) untuk fase pra dewasanya (telur, arva dan pupa), dan daratan atau udara untuk serangga dewasa. Nyamuk yang habitat imago di daratan atau udara akan mencari tempat di dekat permukaan air untuk meletakkan telurnya. Bila telur yang diletakkan itu tidak mendapat sentuhan air atau kering masih mampu bertahan hidup antara 3 bulan sampai satu tahun. Masa hibernasi telur-telur itu akan berakhir atau menetas bila sudah mendapatkan lingkungan yang cocok pada musim hujan untuk menetas. Telur itu akan menetas antara 3-4 jam setelah mendapat genangan air menjadi larva. Habitat larva yang keluar dari telur tersebut hidup mengapung di bawah permukaan air (Judarwanto, 2007).
Berbeda dengan habitat imagonya yaitu hidup bebas di daratan (terrestrial) atau udara (aborial). Aedea aegypti lebih menyukai tempat di dalam rumah penduduk sementara Aedes albopictus lebih menyukai tempat di luar rumah yaitu hidup di pohon atau kebun atau kawasan pinggir hutan oleh karena itu sering disebut nyamuk kebun. Nyamuk Aedes aegypti yang lebih memilih habitat di dalam rumah sering hinggap pada pakaian yang digantung untuk beristirahat dan bersembunyi menantikan saat tepat inang datang untuk menghisap darah (Supartha, 2008).
Berdasarkan pola pemilihan habitat dan kebisaaan hidup nyamuk dewasa Aedes aegypti dapat berkembang biak di tempat penampungan air bersih seperti bak mandi, tempayan, tempat minum burung dan barang-barang bekas yang dibuang sembarangan yang pada waktu hujan terisi air. Sementara Aedes albopictus dapat berkembang biak di habitat perkebunan terutama pada lubang pohon atau pangkal bambu yang sudah dipotong yang bisaanya jarang terpantau di lapangan. Kondisi itu dimungkinkan karena larva nyamuk tersebut dapat berembang biak dengan volume air minimum kira-kira 0,5 sentimeter setara atau setara dengan satu sendok teh (Hasyimi dan Soekirno, 2004).
Nyamuk Aedes aegypti lebih senang bertelur di permukaan-permukaan yang basah dari kontainer. Tidak pernah ditemukan bertelur di permukaan kering dan permukaan berlumpur. Berdasarkan percobaan di laboratorium ternyata 29,9% telur dapat ditetaskan di permukaan air apabila disediakan permukaan kontainer yang tidak cocok, misalnya permukaan gelas. Suatu survai telah dilakukan oleh Moore, dkk (1978) di Tanzania dan menemukan breeding place pada tempat-tempat sebagai berikut:

a. Ban-ban bekas
b. Bekas bagian-bagian (onderdil)
c. Tong-tong kayu
d. Kulit-kulit kacang
e. Tempayan-tempayan berisi air
f. Lekukan-lekukan daun
g. Bekas rumah-rumah siput
h. Lubang-lubang pada pohon
i. Potongan-potogan bambu
Perilaku hidup larva tersebut berhubungan dengan upayanya menjulurkan alat pernafasan yang disebut sifon menjangkau permukaan air guna mendapatkan oksigen untuk bernafas. Habitat seluruh masa pradewasanya dar telur, larva dan pupa hidup di dalam air walaupun kondisi airnya sangat terbatas (Judarwanto, 2007).

 

6. Perilaku Aedes Aegypti dan Aedes albopictus
Menurut Departemen Kesehatan (20044) pola perilaku nyamuk meliputi perilaku mencari darah, istirahat dan berkembang biak:
a. Perilaku Mencari Darah
Imago Aedes aegypti dan Aedes algopictus jantan mempunyai perilaku makan yang sama yaitu mengisap vektor dan juga tanaman sebagi sumber energinya. Selain energi, imago betina juga membutuhkan pasokan protein untuk keperluan produksi (anautogenous) dan proses pematangan telurnya. Pasokan protein tersebut diperoleh dari cairan darah inang (Merrit & Cummins, 1978).
Setelah kawin, nyamuk betina memerlukan darah untuk bertelur. Nyamuk betina menghisap darah manusia setiap 2-3 hari sekali pada pagi hari sampai sore hari, dan lebih suka pada jam 08.00-12.00 dan jam 15.00-17.00. nyamuk betina untuk mendapatkan darah yang cukup sering menggigit lebih dari satu orang (multiple bitter). Jarak terbang nyamuk sekitar 100 meter dan umur nyamuk betina dapat mencapai sekitar 1 bulan (Merrit & Cummins, 1978).
b. Perilaku Istirahat
Setelah kenyang menghisap darah, nyamuk betina perlu istirahat sekitar 2-3 hari untuk mematangkan telur. Tempat istirahat yang disukai Aedes aegypti adalah tempat-tempat yang lembab dan kurang terang, seperti kamar mandi, dapur, WC dan di dalam rumah seperti baju yang digantung, kelambu, tirai sedangkan Aedes albopictus di luar rumah seperti pada tanaman hias di halaman rumah (Merrit & Cummins, 1978).
c. Perilaku Berkembang Biak
1) Telur diletakkan menempel pada dinding penampungan air, sedikit di atas permukaan air.
2) Setiap kali bertelur, nyamuk betina dapat mengeluarkan sekitar 100 butir telur dengan ukuran sekitar 0,7 mm per butir.
3) Telur ini di tempat kering (tanpa air) dapat bertahan sampai 6 bulan.
4) Telur akan menetas menjadi jentik setelah sekitar 2 hari terendam air.
5) Jentik nyamuk setelah 6-8 hari akan tumbuh menjadi pupa nyamuk.
6) Pupa nyamuk masih dapat aktif bergerak di dalam air, tetapi tidak makan dan setelah 1-2 hari akan memunculkan nyamuk Aedes aegypti baru.

Daftar Pustaka
Departemen Kesehatan RI. 2004. Demam Berdarah Dengue, Depkes. Jakarta

Judarwanto, W. 2007. Profil Nyamuk Aedes dan Pembasmiannya, Http://www.indonesiaindonesia.com/f/1344-profil-nyamuk-aedes-pembasmian .

Merrit, R.W. & K.W. Cummins(Eds). 1978. An Introduction to The Aquatic Insects of North America. Kendall/Hunt Publishing Company. 441p.

Wormack, M. 1993. The yellow fever mosquito, Aedes aegepty. Wing Beats, Vol. 5(4);4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *