Urine sebagai Sumber Hara pada Produksi Bawang Merah

Posted on

Oleh : ICHSAN KURNIAWAN

Bawang merah adalah jenis sayuran yang banyak digemari oleh masyarakat Indonesia, terutama sebagai bumbu penyedap masakan dan sebagai obat-obatan untuk penyakit tertentu sehingga bawang merah dikenal sebagai tanaman rempah dan obat. Tanaman ini termasuk komoditas unggulan dalam Rencana Strategis Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura dan Tanaman Perkebunan dengan nilai ekonomi yang cukup tinggi.
Di Sumatera Barat, khususnya di Kabupaten Agam, komoditi ini juga termasuk menjadi item andalan yang dikembangkan, karena selalu dibutuhkan pasar. Dan tentunya nilai ekonomis komoditi ini membuatnya menjadi salah satu budidaya hortikultura yang “menjanjikan” setelah cabe. Dan juga tak jarang pada sebagian petani, penanaman komoditi ini bergandengan dengan cabe, akan memberikan keuntungan berlipat. Hal ini juga tentunya dengan menyesuaikan dengan pola tanam yang tepat sehingga dapat menempati posisi harga yang baik saat panen karena harga pasar sayuran sangat sangat fluktuatif.
Krisis ekonomi yang berdampak hingga saat ini telah menyisakan masalah pada sektor pertanian karena ketergantungan petani kepada pupuk dan pestisida berbahan kimia yang harganya semakin mahal. Sementara di satu sisi, budaya bertani kita yang terbiasa dengan pola instant merupakan masalah tersendiri dalam menerapkan sistem pertanian berkelanjutan termasuk komoditi sayuran ini. Kebiasaan petani menggunakan pupuk dan pestisida yang tidak menurut rekomendasi, justru menimbulkan dampak negatif terhadap tanaman, lingkungan dan rusaknya habitat pertanian itu sendiri. Akibatnya seiring waktu keproduktifan lahan juga semakin berkurang.
Penelitian tentang Limbah Ternak
Di kabupaten Agam sendiri, pengembangan kawasan organik yang melibatkan pemakaian bahan yang salah satunya limbah ternak sebagai solusi permasalahan kompleks pertanian dewasa ini juga dilakukan. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Agam di tahun 2011 merencanakan 13 kelompok tani di kecamatan sebagai pengembang. Dengan melibatkan penyuluh dari BP4K2P Kabupaten Agam sebagai pentransfer teknologi, kegiatan ini diharapkan bisa berkembang dan pemahaman mengenai teknologi efektif dan efisien bisa diterapkan sebagai.
Berbagai penelitian sebagai bahan rujukan teknologi mengenai hal ini sebenarnya telah lama dilakukan, baik pada skala besar (balai penelitian) maupun sederhana  (lapang) dilakukan sebagai alternatif terutama untuk komoditi-komoditi strategis termasuk bawang merah ini. Pemanfaatan pupuk organik dalam mensubstitusi pupuk sintetis ternyata memiliki berbagai keuntungan terutama yang berasal dari bahan alami. Selain rendahnya efek samping pemanfaatan bahan organik, biaya produksi juga dapat ditekan.
Limbah ternak sebagai salah satu bahan organik yang bermanfaat, banyak mengandung unsur hara makro seperti Nitrogen (N), Fospat (P2O5), Kalium (K2O) dan Air (H2O). Meskipun jumlahnya tidak besar, dalam limbah ini juga terkandung unsur hara mikro diantaranya Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Tembaga (Cu), Mangan (Mn), dan Boron (Bo). Kandungan berbagai unsur pada bahan organik membuatnya berpotensi dalam menggantikan posisi pupuk anorganik.
Penelitian yang dilakukan Adijaya, Yasa dan Guntoro (2006) menyatakan penggunaan pupuk kandang padat dan cair pada tanaman mampu memberikan produksi yang tidak berbeda dengan penggunaan pupuk  anorganik. Pemupukan organik kompos dan urine sapi pada mampu meningkatkan produksi sebesar 92,26% dan 90,21%, sedangkan pemupukan dengan urea memberikan peningkatan produksi sebesar 93,24%.  Sementara itu pada bawang merah,  pemberian urine kambing mampu menekan penggunaan pupuk kimia. Tingkat produksi hasil penelitian ini bahkan lebih tinggi ± 5% dibandingkan penggunaan pupuk kimia anjuran.
Analisa kandungan unsur yang telah dilakukan BPTPH Provinsi Sumatera Barat, urine kambing memberikan kontribusi unsur N sebesar 37,1 %. Apabila dilakukan konversi per ton bahan, maka urin kambing mengandung 371 kg N. Hal ini berarti setara dengan 824,4 kg Urea. Pemberian urin kambing dosis 4000 liter/ha dengan konsentrasi 33% mampu menekan penggunaan pupuk kimia sampai 50% dengan tingkat produksi yang lebih tinggi ± 5% dibandingkan penggunaan pupuk kimia anjuran.

Hasil Pengujian Manfaat Urine
Merujuk pada penemuan pemanfaatan urine, pengujian lapangan yang pernah dilakukan penulis pada lahan UPT BP4K2P Kecamatan IV Koto penghujung tahun 2009 sampai tahun 2010 lalu menunjukkan bahwa tingkat peranan pemakaian bahan organik khususnya urine kambing mampu mensubstitusi atau menggantikan pemakaian pupuk berbahan sintetis seperti urea.
Pengujian sendiri dilakukan dengan melibatkan tiga jenis bahan organik yakni urine kambing, sapi dan ekstrak bunga pahit (Tithonia sp.) dan penggunaan pupuk sintetis berupa teknologi konvensional (paket urea, TSP dan KCl rekomendasi) sebagai pembanding. Tujuan penelitian lapang ini sendiri untuk mengujikan seberapa besar peran penggunaan bahan organik dalam budidaya komoditi hortikultura khususnya bawang merah. 
Pengujian penggunaan bahan organik menunjukkan bahwa bobot umbi kering per plot dan per Ha bawang merah berkisar antara 2006,66 – 2316,66 g per plot dan kisaran 6,87 – 7,23 ton/Ha. Pemupukan dengan urine kambing dengan berat bawang 2233,33 g/ plot atau 7,23 ton/ Ha, dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Hal ini diduga karena kombinasi pupuk organik urine kambing mengandung unsur yang lebih sesuai untuk meningkatkan bobot umbi bawang. Semakin berat umbi yang dihasilkan, maka semakin banyak pula unsur hara yang dimanfaatkan untuk pertumbuhan umbi.
Hampir semua tolok ukur pengamatan menunjukkan hasil nyata dari pemberian bahan organik ini mulai dari Hari Muncul Tunas (HMT), jumlah batang, tinggi tanaman, jumlah siung, ketahanan terhadap hawar daun serta produksi itu sendiri.
Terlepas dari dampak jangka panjang serta harga pupuk sintetis itu sendiri, pemberian berbahan kimia buatan ini memang memberikan hasil cukup tinggi pada beberapa tolok ukur khususnya pada pengujian ini. Namun hasil-hasil signifikan tetap dipimpin dan diperlihatkan oleh pemakaian urine kambing.
Pada tinggi tanaman saja pemberian pupuk sintetis saja tertinggal dibanding semua bahan organik yakni rata-rata 38,66 cm, sedangkan urine kambing 55,66 cm. Tolok ukur lain yang menentukan yakni jumlah siung per rumpun. Untuk pemakaian bahan organik, dipimpin urine kambing dengan jumlah rata-rata 11 siung, sementara bahan lain 7,33 siung untuk urine sapi dan tithonia serta angka 8,00 rata-rata yang ditunjukkan pemakaian paket urea,TSP dan KCl.

Selain itu, pengaruh terhadap perlkuan bahan organik ini juga ditunjukkan ketahanan tanaman terhadap penyakit hawar daun bawang. Tanaman yang diberi perlakuan urine kambing terserang hanya sebesar 4,00 %, perlakuan urine sapi terserang 6,80 %, tithonia 8,17 % dan intensitas tertinggi terletak pada paket konvensional (urea, TSP, KCl dengan angka 9,67 %.
Pengaruh lain yang signifikan dari pemakaian bahan organik yakni aroma khas bawang yang lebih gurih dan berbeda dengan pemakaian bahan sintetis yang cenderung memberikan aroma yang cenderung datar. Hal ini disimpulkan dari beberapa responden yang diujikan tanpa memberitahukan jenis perlakuan masing-masing umbi yang dicobakan.

Tabel  Bobot umbi kering/ Ha akibat pengaruh pupuk organik dan  sintetis.

Bobot umbi kering per Ha (ton)
Rata-rata
Pupuk organik
A
B
Urine kambing
7,08 
7,23
7,16 A
Urine sapi
6,71
6,69
6,70 B
Ekstrak Tithonia
6,30
6,61
6,46 B
Urea, TSP dan KCl
6,56
6,87
6,72 B
Rata-rata
6,66 a
6,85 a

Sumber : Ichsan Kurniawan (2010)- “ Pengaruh Pupuk Organik dan Pseudomonad fluorescens terhadap Pertumbuhan, Hasil dan Ketahanan terhadap Hawar Daun Bakteri pada Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *