STUDI PENGENDALIAN VEKTOR NYAMUK Aedes aegypti DI KANTOR KESEHATAN PELABUHAN II KABUPATEN CILACAP (contoh proposal magang)

Posted on

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu penyakit menular yang masih terjadi sepanjang tahun dan memerlukan penanganan serius dalam pencegahan dan pemberantasannya adalah penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyakit DBD ini disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti (Dinkes Jateng, 2004).
Kabupeten Cilacap merupakan salah satu kabupaten endemis DBD. Terhitung mulai Januari hingga Desember 2008 jumlah penderita DBD di Cilacap mencapai 607 orang dengan enam orang di antaranya meninggal dunia. Dan diperkirakan jumlah penderita DBD itu akan terus berkembang pada tahun 2009 (Kedaulatan Rakyat, 2009).
Penyakit yang ditular oleh vektor ini harus dicegah diantaranya dengan upaya pengendalian vektor khususnya nyamuk Aedes aegypti (Ae. aegypti). Cara yang paling efektif dari pengendalian vektor adalah penatalaksanaan lingkungan, yang termasuk perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pemantauan aktivitas untuk modifikasi atau manipulasi faktor-faktor lingkungan dengan suatu pandangan untuk mencegah atau mengurangi perkembangan vektor dan kontak manusia-vektor-patogen (WHO, 1999).
Keberadaan Kantor Kesehatan Pelabuhan di wilayah Cilacap dituntut mampu menangkal risiko kesehatan yang mungkin masuk melalui orang, alat angkut, barang termasuk kontainer dari negara lain dengan melakukan tindakan tanpa menghambat perjalanan dan perdagangan. Hal demikian dilaksanakan guna mengantisipasi ancaman penyakit global serta permasalahan kesehatan masyarakat yang merupakan masalah darurat yang menjadi perhatian dunia.
Keberadaan vektor nyamuk Ae. aegypti di pelabuhan dimungkinkan terjadi karena terbawa oleh kapal yang singgah di pelabuhan tersebut dan mungkin juga nyamuk tersebut di negaranya merupakan sumber penyakit DBD yang sering menyebabkan KLB di Amerika Selatan dan Amerika Tengah (Widoyono, 2005). Oleh karena itu KKP mempunyai tugas dan fungsi yang harus dilaksanakan yang sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 356 Tahun 2008 dalam pasal 2 yaitu melaksanakan pencegahan masuk dan keluarnya penyakit karantina dan penyakit menular potensial wabah, kekarantinaan, pelayanan kesehatan terbatas di wilayah kerja pelabuhan/ bandara dan lintas batas, serta pengendalian dampak kesehatan lingkungan. Dalam mengemban tugasnya, berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 356 Tahun 2008 dalam pasal 3, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) melaksanakan 13 fungsi yaitu :
1. Pelaksanaan Kekarantinaan.
2. Pelaksanaan pengamatan penyakit karantina dan penyakit menular potensial wabah.
3. Pelaksanaan sentra/simpul jejaring surveilans epidemiologi regional, nasional sesuai penyakit yang berkaitan dengan lalu lintas internasional.
4. Pelaksanaan fasilitasi & advokasi kesiapsiagaan dan penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan bencana bidang kesehatan, serta kesehatan matra (pelayanan kesehatan dalam situasi khusus) termasuk penyelenggaraan kesehatan haji.
5. Pelaksanaan fasilitasi & advokasi kesehatan kerja dilingkungan Pelabuhan/ Bandara dan Lintas Batas Darat.
6. Pelaksanaan pemberian Sertifikat Obat, Makanan, Kosmetika dan Alat Kesehatan (OMKA) ekspor dan mengawasi persyaratan dokumen kesehatan OMKA impor.
7. Pelaksanaan pengawasan kesehatan alat angkut.
8. Pelaksanaan pemberian pelayanan kesehatan terbatas di wilayah kerja Pelabuhan/ Bandara dan Lintas Batas Darat.
9. Pelaksanaan pengendalian risiko lingkungan Pelabuhan/ Bandara dan Lintas Batas Darat.
10. Pelaksanaan jaringan informasi dan teknologi bidang kesehatan Pelabuhan/ Bandara dan Lintas Batas Darat.
11. Pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan bidang kesehatan Pelabuhan/ Bandara dan Lintas Batas Darat.
12. Pelaksanaan pelatihan teknis bidang kesehatan Pelabuhan/ Bandara dan Lintas Batas Darat.
13. Pelaksanaan ketatausahaan dan kerumahtanggaan Kantor Kesehatan Pelabuhan.
Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman mewajibkan mahasiswanya untuk melaksanakan magang. Kegiatan magang merupakan sarana latihan kerja sebagai upaya untuk memahami, menghayati, dan melatih keterampilan profesional serta sikap sesuai dengan bidang kerjanya. Kegiatan magang memberikan kesempatan belajar untuk menghayati pengetahuan melalui pengalaman langsung dan mencoba mengintegrasikan pengetahuan melalui pendekatan masalah kesehatan yang ada di masyarakat yang bersifat holistik dan multidisiplin. Selain itu, mahasiswa diharapkan mampu menambah pengetahuan dan keterampilan serta membantu memecahkan masalah kesehatan di tempat magang.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan yaitu “Bagaimana cara pengendalian vektor nyamuk Aedes aegypti di Kantor Kesehatan Pelabuhan Cilacap?”

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melaksanankan latihan kerja di tempat magang untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan kerja.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat mengumpulkan informasi dan memperoleh gambaran nyata tentang ruang lingkup pencegahan dan pengendalian vektor nyamuk Ae. aegypti di Kantor Kesehatan Pelabuhan Cilacap.
b. Mahasiswa memperoleh pemahaman dan penghayatan terhadap pencegahan dan pengendalian vektor nyamuk Ae. aegypti di Kantor Kesehatan Pelabuhan Cilacap.
c. Mahasiswa dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan manajemen kesehatan masyarakat secara nyata terhadap program pencegahan dan pengendalian vektor nyamuk Ae. aegypti di Kantor Kesehatan Pelabuhan Cilacap.
d. Mengetahui tugas pokok dan fungsi seksi Pengendalian Resiko Lingkungan di KKP Cilacap.

D. Manfaat

1. Bagi Institusi Magang
a. Institusi dapat memanfaatkan tenaga magang sesuai dengan kebutuhan di unit kerjanya.
b. Institusi mendapat alternatif calon karyawan yang telah dikenal mutu, dedikasi dan kredibilitasnya.
c. Laporan magang dapat dijadikan sebagai salah satu audit internal kualitas tempat magang.
2. Bagi Jurusan Kesehatan Masyarakat
a. Memperoleh informasi tentang kondisi nyata di dunia kerja yang berguna bagi peningkatan kualitas lulusan Jurusan Kesehatan Masyarakat.
b. Menjalin kerja sama dengan institusi magang sehingga dapat mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi lainnya.
3. Bagi Mahasiswa
a. Mendapatkan pengalaman nyata yang terkait dengan aplikasi ilmu kesehatan masyarakat di dunia kerja.
b. Mendapatkan kesempatan mengaplikasikan teori yang diperoleh dari proses perkuliahan dengan kenyataan di dunia kerja.
c. Mendapatkan permasalahan yang dapat digunakan sebagai bahan penelitian dalam rangka penulisan tugas akhir.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A. Nyamuk Aedes aegypti Sebagai Vektor Penyakit

Aedes aegypti (Ae. aegypti) adalah spesies nyamuk yang ditemukan di daerah tropis dan subtropis. Meski Ae. aegypti telah ditemukan sejauh 45 LU, invasi ini telah terjadi selama musim hangat, dan nyamuk tidak hidup pada musim dingin. Distribusi Ae. aegypti juga dibatasi oleh ketinggian. Ini biasanya tidak ditemukan diatas ketinggian 1000 m tetapi telah dilaporkan pada ketinggian 2121 m di India, pada 2200 m di Kolombia, yang memiliki suhu rerata tahunan 17º C, dan pada ketinggian 2400 m di Eritrea. Ae. aegypti adalah salah satu vektor nyamuk yang paling efisien untuk arbovirus, karena nyamuk ini sangat antrofilik dan hidup dekat manusia terutama di dalam rumah. Nyamuk Ae. aegypti merupakan vektor penyakit Demam Berdarah Dengue (WHO, 1999).
Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Demam Dengue (DD) adalah penyakit demam akut yang disebabkan infeksi oleh salah satu dari empat serotipe virus dengue. Dengue Faver (DF) atau DD merupakan bentuk penyakit yang ringan dengan gejala demam dan kemerahan pada kulit. Sedangkan Dengue Hemorragic Faver (DHF) menimbulkan sakit yang lebih hebat dan kadang-kadang fatal (Hadi, 2001). Demam dengue (DD) atau Dengue Fever (DF) adalah penyakit febris virus akut, seringkali disertai dengan sakit kepala, nyeri tulang atau sendi dan otot, ruam serta leukopenia (berkurangnya sel-sel darah putih) sebagai gejalanya (WHO, 1999).
Vektor utama penyakit DBD adalah nyamuk Ae. aegypti (di daerah perkotaan) dan Ae. albopictus (di daerah pedesaan). Ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti adalah :
a. Sayap dan badannya belang-belang atau bergaris-garis putih.
b. Berkembang biak di air jernih yang tidak beralaskan tanah seperti bak mandi, WC, tempayan, drum, dan barang-barang yang menampung air seperti kaleng, ban bekas, pot tanaman air, tempat minum burung, dan lain-lain.
c. Jarak terbang ± 100 m.
d. Nyamuk betina bersifat ” multiple biters ” (menggigit beberapa orang karena sebelum nyamuk tersebut kenyang sudah berpindah tempat).
e. Tahan dalam suhu panas dan kelembaban tinggi (Widoyono, 2005).

B. Siklus Hidup Nyamuk Aedes aegypti
Siklus hidup nyamuk sejak telur hingga menjadi dewasa mengalami tiga tingkatan yang berbeda. Siklus hidup nyamuk terdapat empat stadium dengan tiga stadium yaitu stadium telur, jentik dan pupa berkembang biak di air dan satu stadium hidup bebas di alam. Berikut stadium-stadium dalam siklus hidup nyamuk :

1. Telur Nyamuk
Seekor nyamuk betina dapat meletakkan rata-rata sebanyak 1000 butir telur tiap kali bertelur. Telurnya berwarna hitam dengan ukuran ± 0,8 mm. Nyamuk biasanya meletakkan telurnya di tempat yang berair karena di tempat yang keberadaannya kering maka telur akan rusak dan mati. Nyamuk Aedes meletakkan telur dan menempel pada yang terapung di atas air atau menempel pada permukaan benda yang merupakan tempat air pada batas permukaan air dan tempatnya. Stadium telur ini memakan waktu kurang dari 1-2 hari.
2. Jentik Nyamuk
Pada perkembangan stadium jentik, nyamuk tumbuh menjadi besar dengan panjang 0,5 – 1 cm dan melengkapi bulu-bulunya. Jentik selalu bergerak aktif dalam air. Gerakannya berulang-ulang dari bawah ke atas permukaan air untuk bernafas, kemudian turun kembali ke bawah. Pada waktu istirahat, posisinya hampir tegak lurus dengan permukaan air. Biasanya berada di sekitar dinding tempat penampungan air. Stadium jentik memerlukan waktu satu minggu. Jentik tidak menyukai genangan air yang langsung dengan tanah. Pertumbuhan jentik dipengaruhi faktor temperatur, nutrient dan ada tidaknya predator.
3. Kepompong
Merupakan stadium terakhir dari nyamuk yang berada di dalam air. Kepompong berbentuk seperti koma, gerakan lambat, sering berada di permukaan air. Pada stadium ini memerlukan makanan dan terjadi pembentukan sayap hingga dapat terbang. Stadium kepompong memakan waktu kurang lebih 1-2 hari.
4. Nyamuk Dewasa
Nyamuk jantan dan betina dewasa memiliki perbandingan 1:1, nyamuk jantan keluar terlebih dahulu dari kepompongnya, baru disusul nyamuk betina dan nyamuk jantan tersebut akan tetap tinggal di dekat sarang nyamuk sampai betina keluar dari kepompong. Setelah nyamuk betina keluar, maka nyamuk jantan akan langsung mengawini nyamuk betina sebelum mencari darah. Selama hidupnya, nyamuk betina hanya kawin sekali saja. Selama perkembangan telur tergantung kepada beberapa faktor yaitu temperatur, kelembaban dan spesies dari nyamuk. Sedangkan umur nyamuk betina bisa mencapai 10 hari (Dirjen P2M & PLP 2004, Hadi 2001 dan Dinkes Prov Jateng 2006).

C. Perilaku Hidup Nyamuk Aedes aegypti
Nyamuk dewasa setelah keluar dari kepompong beristirahat di kulit kepompong untuk sementara waktu. Beberapa saat kemudian sayap meregang menjadi kaku, sehingga nyamuk mampu terbang untuk mencari mangsa. Aktivitas menggigit biasanya mulai pagi sampai petang hari, dengan dua puncak aktivatas yaitu antara pukul 09.00 – 10.00 dan pukul 16.00 – 17.00 WIB. Setelah menghisap darah, nyamuk ini beristirahat di dalam atau di luar rumah, berdekatan dengan tempat perkembangbiakannya. Tempat istirahatnya dapat berupa semak-semak dan juga berupa benda-benda yang tergantung seperti pakaian, kelambu, sarung dan lain sebagianya. Biasanya di tempat yang agak gelap dan lembab ini nyamuk menunggu proses pematangan telurnya (Hadi, 2001). Nyamuk Aedes berkembang biak dalam tempat penampungan air yang tidak beralaskan tanah, seperti bak mandi, tempayan, drum, vas bunga dan barang bekas yang dapat menampung air hujan (Anies, 2006).

D. Survei Nyamuk Dewasa

Prosedur sampling vektor nyamuk dewasa dapat memberikan data yang berharga untuk studi yang spesifik seperti kecenderungan populasi musiman, dinamika penularan, risiko penularan, dan evaluasi pemberantasan nyamuk dewasa. Tetapi, sampling nyamuk dewasa kurang produktif dari pada sampling sampling nyamuk pradewasa. Dalam penangkapan nyamuk dewasa perlu pemanfaatan petugas yang intensif dan juga tergantung pada keterampilan serta kecakapan petugas. Dibawah ini adalah tehnik dalam penangkapan nyamuk dewasa :
1. Landing/ Bitting Collections
Landing/ bitting Collections pada manusia adalah cara yang sensitif untuk mendeteksi lokasi yang infestasi nyamuknya rendah tetapi membutuhkan penggunaan tenaga yang intensif. Nyamuk jantan dan betina keduanya tertarik pada manusia. Penyebaran nyamuk dewasa tidak jauh, maka keberadaannya merupakan indikator terdapatnya habitat jentik yang tidak jauh pula. Angka hasil tangkapan, terutama dengan menggunakan jaringan tangan atau aspirator pada waktu nyamuk mendekat atau hinggap pada petugas penangkap nyamuk, disebut landing/ bitting rate (hinggap atau menggigit) dinyatakan dalam per jam per orang.
Karena hingga saat ini tidak ada cara pencegahan terhadap penyakit dengue atau virus-virus lain yang ditularkan oleh nyamuk Aedes, maka atas dasar etika, penangkapan nyamuk Aedes dewasa dilakukan dengan cara landing collection saja.
2. Resting collections
Pada waktu nyamuk dewasa tidak aktif, nyamuk dewasa beristirahat di dalam rumah terutama di kamar tidur dan di tempat gelap seperti tempat gantungan pakaian dan tempat yang terlindung lainnya. Kegiatan Resting collections dilakukan dengan cara yang sistematik di tempat istirahat nyamuk dewasa dengan bantuan senter. Metode penangkapan yang intensif adalah penangkapan nyamuk dewasa dengan menggunakan aspirator mulut, aspirator bertenaga baterai atau jaringan tangan dengan bantuan senter. Akhir-akhir ini metode yang lebih produktif dan memenuhi standar penangkapan serta memerlukan sedikit tenaga telah dikembangkan yaitu dengan menggunakan aspirator bertenaga baterai yang diletakkan di punggung petugas. Dengan mengikuti standar penangkapan dan waktu yang telah direncanakan di rumah terpilih, kepadatan nyamuk dicatat seperti jumlah nyamuk dewasa per rumah (nyamuk dewasa betina jantan atau keduanya) atau jumlah nyamuk dewasa per jam per orang.

E. Pengendalian Nyamuk Aedes aegypti
Usaha pemberantasan DBD dilakukan dengan memutuskan mata rantai penularan, yang terdiri dari nyamuk Ae. aegypti, virus dan manusia. Usaha pemberantasan ini terutama ditujukan pada manusia dan vektor penularannya yaitu nyamuk Ae. aegypti yang sampai saat ini belum ditemukan vaksin yang dapat mencegah atau membunuh virus tersebut. Ada beberapa prinsip yang tepat dalam usaha mencegah DBD yaitu:
a. Memanfaatkan perubahan keadaan nyamuk akibat pengaruh alamiah dengan melaksanakan pemberantasan vektor pada saat sedikit terdapatnya kasus DBD
b. Memutuskan lingkaran penularan dengan menahan kepadatan vektor pada tingkat sangat rendah untuk memberikan kesempatan penderita viremi sembuh secara spontan.
c. Mengusahakan pemberantasan vektor di pusat daerah penyebaran, yaitu sekolah dan rumah sakit, termasuk pula daerah penyangga di sekitarnya.
d. Mengusahakan pemberantasan vektor di semua daerah berpotensi penularan tinggi (Hadi, 2001).
Menurut WHO (1999), cara paling efektif dari pengendalian vektor adalah penatalaksanaan lingkungan. Ada tiga tipe penatalaksanaan lingkungan yaitu :
a. Modifikasi lingkungan yaitu transformasi fisik jangka panjang dari habitat vektor.
b. Manipulasi lingkungan yaitu perubahan temporer pada habitat vektor sebagai hasil dari aktivitas yang direncanakan untuk menghasilkan kondisi yang tidak disukai dalam perkembangbiakan vektor.
c. Perubahan pada habitat atau perilaku manusia yaitu upaya untuk mengurangi kontak manusia-vektor-patogen.
Metode penatalaksanaan lingkungan ini untuk mengontrol Ae. aegypti dan Ae. albopictus dan mengurangi kontak vektor-manusia termasuk perbaikan suplai dan penyimpanan air, penanganan sampah padat dan modifikasi habitat larva yang dibuat manusia. Penatalaksanaan lingkungan harus difokuskan pada penghancuran, perubahan, pembuangan atau daur ulang wadah dan habitat larva alamiah yang menghasilkan jumlah terbesar nyamuk Aedes dewasa pada setiap komunitas. Program ini harus dilakukan secara bersamaan dengan program pendidikan kesehatan dan komunikasi yang mendorong partisipasi komunitas dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengevaluasian program penanganan (misal yaitu sanitasi rumah tangga reguler atau kampanye kebersihan).
Beberapa metode yang dapat digunakan dalam upaya pengendalian nyamuk Ae. aegypti adalah :
1. Lingkungan Fisik
Pengendalian nyamuk Ae. aegypti dari segi lingkungan fisik dapat dilakukan dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat dan manajemen lingkungan yang baik, sebagai contoh :
a. Menguras bak madi atau tempat penampungan air sekurang-kurangnya satu minggu sekali.
b. Mengganti atau menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali dan menutup dengan rapat tempat penampungan air.
c. Mengubur kaleng-kaleng bekas, ban bekas serta barang bekas lainnya di sekitar rumah.
d. Penggunaan Kelambu Celup (yang telah dicelup dengan cairan insektisida permetrin) sangat efektif untuk penanggulangan kontak langsung dengan serangga
e. Repellent (obat anti nyamuk) dalam bentuk oles (lotion) atau semprot (spray) (Dirjen P2M & PLP, 2004).
2. Lingkungan Biologis
a. Pengendalian secara biologis untuk mengendalikan populasi nyamuk vektor penyakit masih dipakai dalam skala kecil. Penggunaan ikan pemakan larva (Gambusia affanis dan Poecilia reticulata) telah semakin banyak digunakan untuk mengendalikan nyamuk Anopheles stephensi dan Ae. aegypti dikumpulan air yang banyak atau di kontainer air yang besar. Sementara penggunaan bakteri, terdapat dua spesies bakteri penghasil endotoksin, yaitu Bacillus thuringiensis serotipe H-14 dan Bacillus sphaericus, yang efektif utuk pengendalian nyamuk (Anies, 2006).
b. Penaburan bubuk Abate pada tempat-tempat penampungan air efektif dilakukan tetapi memakan biaya yang cukup mahal (Widodo, 2007).
Cara yang paling efektif dalam upaya pencegahan penyakit DBD adalah dengan mengkombinasikan hal-hal tersebut dengan 3M plus antara lain yaitu :
a. Menguras dengan menyikat tempat penampungan air.
b. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air agar nyamuk tidak dapat masuk dan berkembangbiak di dalamnya.
c. Mengubur barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan misalnya ban bekas, kaleng bekas, tempat minuman bekas dan lain-lain.
d. Memelihara ikan pemakan jentik.
e. Menabur larvasida.
f. Menggunakan kelambu.
g. Menggunakan obat nyamuk.
h. Menggunakan repellent.
i. Memeriksa jentik sekaligus PSN yang mencakup wilayah yang luas secara berkala dan berkesinambungan (Dinkesprov Jateng, 2006).
3. Fogging (Pengasapan)
Nyamuk Ae. aegypti dapat diberantas dengan fogging (pengasapan) racun serangga yang dipergunakan sehari-hari. Melakukan pengasapan saja tidak cukup, karena dengan pengasapan itu yang mati hanya nyamuk dewasa saja. Selama jentiknya tidak di basmi setiap hari akan muncul nyamuk yang baru menetas dari tempat perkembang biaknya, karena itu cara yang tepat adalah memberantas jentiknya yang di kenal dengan istilah PSN DBD yaitu singkatan dari Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah (Dinas Kesehatan Bonebolango, 2009).
Fogging bertujuan untuk memutuskan rantai penularan penyakit dengan membunuh secara langsung nyamuk dewasa sehingga populasinya menurun. Pada umumnya digunakan dalam kegiatan pengendalian atau pemberantasan nyamuk vektor Demam Berdarah Dengue. Pelaksanaan fogging dilakukan dua siklus dengan interval satu minggu. Siklus pertama bertujuan membunuh nyamuk yang mengandung virus Dengue (nyamuk infektif). Akan segera muncul nyamuk baru yang diantaranya akan menghisap darah penderita viremia (infeksi yang menyebar dalam darah) yang masih ada sehingga dapat menimbulkan terjadinya penularan kembali. Oleh karena itu dilakukan siklus kedua (Dirjen P2M & PLP, 2004).


BAB III
METODE PELAKSANAAN KEGIATAN

A. Rencana Kegiatan
Tabel 3.1. Rencana Kegiatan

B. Lokasi Kegiatan
Kegiatan magang akan dilaksanakan di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kabupaten Cilacap dengan alamat Jl. Selat Madura No.7 Cilacap, Telp (0282) 534825.

C. Waktu Kegiatan
Kegiatan magang akan dilaksanakan mulai tanggal 1 Agustus 2009 sampai dengan tanggal 31 Agustus 2009.


DAFTAR PUSTAKA

Anies. 2006. Manajemen Berbasis Lingkungan: Solusi Mencegah dan Menanggulangi Penyakit Menular. PT. Elex Media Komputindo, Jakarta.

Depkes RI. 2001. Pedoman Program Filariasis di Indonesia. Depkes RI, Jakarta.

Dinas Kesehatan Bonebolango.2009. Cara Memberntas Nyamuk Aedes Aegypti (DBD). http://dinkesbonebolango.org/index.php?option=com_content&task=view&id=354&Itemid=1. Diakses pada tanggal 18 Maret 2009.

Dinkes Prop Jateng. 2004. Buku Pegangan Kader Pengendalian Faktor Risiko Penyakit. Yayasan Dian Nusantara. Jateng

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. 2006. Prosedur Tetap Penanggulangan KLB dan Bencana Provinsi Jawa Tengah. Dinkesprov Jateng, Semarang.

Dirjen P2M dan PL. 2002. Pedoman Survey Entomologi Demam Berdarah Dengue. DEpkes RI. Jakarta.

Dirjen P2M dan PLP. 2004. Ekologi Vektor dan Beberapa Perilaku. Depkes RI. Jakarta.

Dirjen PP dan PL. 2005. Pencegahan dan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue Di Indonesia. Depkes RI. Jakarta.

Dirjen PP dan PL. 2007. Ekologi dan Aspek Perilaku Vektor. Depkes RI. Jakarta.

Hadi, A. 2001. Vector Borne Diseases. FKM UI, Jakarta.

Kedaulatan Rakyat. 2009. http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=188085&actmenu=39 Diakses pada tanggal 15 Maret 2009.

Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 356. 2008. Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan. http://pbbsibolga.files.wordpress.com/2008/02/dalam-mengemban-tugasnya-kkp-melaksanakan-13-fungs.pdf. diakses tanggal 13 April 2009.

Suroso T, Imran A. 2000. Situasi Penyakit DBD 5 Tahun Terakhir (1995-1999) di Indonesia dan Renstra Program Penyakit DBD Tahun 2001-2005. Dipresentasikan pada Pertemuan Demam Berdarah Dengue di Jakarta.

Widodo, Arif. 2007. Peningkatan Pengetahuan, Sikap, dan Keterampilan Ibu-Ibu PKK Desa Makamhaji Mengenai Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). http://eprints.ums.ac.id/535/1/2._Arif_Widodo.pdf. Diakses pada tanggal 8 Maret 2009.

Widoyono. 2005. PENYAKIT TROPIS : Epidemiologi, Penularan, Pencegahan & Pemberantasannya. Erlangga, Jakarta.

WHO. 1999. Demam Berdarah Dengue: Diagnosis, Pengobatan, Pencegahan, dan Pengendalian. Edisi 2. EGC, Jakarta.

WHO dan Depkes RI. 2003. Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue. Depkes RI. Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *