SENTRA CERMIN PEJOMPONGAN, JAKARTA

Posted on
Peluang Usaha

Selasa, 22 November 2011 | 15:26  oleh Fitri Nur Arifenie
SENTRA CERMIN PEJOMPONGAN, JAKARTA
Sentra cermin Pejompongan: Tiga dekade becermin di Pejompongan (1)

Kawasan di sekitar Pejompongan sudah sejak lama dikenal sebagai pusatnya penjualan cermin. Di situ bercokol belasan perajin sekaligus pedagang cermin. Pembeli cermin berasal dari berbagai kalangan, mulai dari kalangan menengah hingga kaum berpunya dan pebisnis.

Cermin tak hanya untuk berkaca mematut diri. Namun cermin juga bisa dijadikan penghias ruang. Nah, bagi Anda yang tinggal di Jakarta dan ingin mendapatkan cermin unik dan cantik, tak ada salahnya mampir ke Jalan Pejompongan Raya, Jakarta Pusat.

Bisa dibilang, di kawasan itu ada belasan perajin sekaligus pedagang cermin dengan aneka produk cermin. Mulai cermin yang biasa-biasa saja, hingga cermin penghias ruang tadi.

Salah satu perajin dan juga pedagang itu adalah Iwan Wahyudi. Pemilik Rasdja Furniture sejatinya sudah menggeluti bisnis cermin ini sudah puluhan tahun silam. Maklum, bisnis ini merupakan warisan keluarga Iwan.

Bisa dibilang, keluarga Iwan adalah salah satu perintis usaha cermin di Pejompongan ini. “Berdirinya sejak lama, sejak 1980-an. Setelah ayah tidak ada, usaha ini akhirnya saya yang meneruskan,” kata Iwan.

Awalnya, di daerah Pejompongan ini hanya ada dua perajin cermin. Kini, di situ setidaknya bercokol 15 toko yang menjual aneka cermin.

Selain ayah Iwan, perajin lainnya adalah Haji Sarkawi. “Haji Sarkawi pertama kali mengenalkan bisnis cermin ini,” ujar Lupi, anak Sarkawi, pemilik PD Hikmah Jaya.

Lupi bercerita, pada awalnya, Sarkawi tidak hanya berjualan kaca saja. Dia juga menjual aneka furnitur seperti kursi, meja, lemari, dan kusen pintu. Namun, di antara semua produk Sarkawi itu, justru cermin yang paling laku. Makanya sejak 1998, Sarkawi memutuskan hanya menjual cermin saja.

Demikian juga dengan keluarga Iwan. Menurut Iwan, ayahnya juga tak hanya membuat dan menjual cermin. Seperti halnya Sarkawi, orangtua Iwan juga membuat aneka furnitur berukir. Maklum, ayah Iwan berasal dari Jepara sehingga sudah pandai mengukir dari sono-nya.

Sayangnya, usaha furnitur itu berantakan saat negeri ini dilanda badai moneter pada 1998 silam. “Hanya cermin yang tersisa. Selain itu permintaan cermin juga terus ada sehingga kami memutuskan untuk berjualan kaca cermin saja,” lanjut Iwan.

Sedendang seirama dengan Iwan, Lupi juga memilih hanya berjualan cermin. Menurut Lupi, para pedagang kaca cermin lainnya mulai berbondong-bondong berjualan di Pejompongan sejak tujuh tahun lalu.

Para pedagang kaca cermin itu pindahan dari sekitar Gedung DPR/MPR yakni di sekitar Jalan Gatot Subroto. “Mereka diusir dari sana oleh Satpol PP,” jelas Lupi.

Pelanggan cermin made in Pejompongan ini memang lumayan banyak. Bahkan Lupi sering mendapatkan order dari kalangan menengah ke atas. Selain pesanan individu, Lupi juga mendapatkan pesanan dari pengembang apartemen, hotel, dan juga perkantoran. “Biasanya kalau pemesannya dari apartemen, hotel atau perkantoran, sekali pesan bisa sekitar 20 hingga 30 cermin,” lanjut Lupi.

Dari berjualan cermin, kalau pas lagi ramai, Lupi bisa mendulang omzet sebesar Rp 2 juta per hari. Namun, jika sedang sepi, paling-paling Lupi hanya bisa mendapatkan omzet Rp 500.000 per hari. “Pembelian ramai itu biasanya Sabtu dan Minggu. Selain itu, omzet semakin besar kalau memasuki bulan suci Ramadan atau menjelang Natal dan tahun baru,” jelas Lupi.  

Rabu, 23 November 2011 | 13:52  oleh Fitri Nur Arifenie
SENTRA CERMIN PEJOMPONGAN, JAKARTA
Sentra cermin Pejompongan: Dari cermin persegi sampai bentuk kartun (2)

Perajin dan pedagang cermin di sekitar Pejompongan, Jakarta Pusat, menjual jenis cermin polos dan jenis cermin jenis bevel kepada pelanggannya. Dua jenis cermin ini memiliki bentuk dan ukuran yang beragam, namun cermin jenis bevel lebih mahal ketimbang cermin polos.

Para perajin dan pedagang di sentra penjualan cermin di Pejompongan Raya, Jakarta Pusat, umumnya menjual dua jenis cermin, yakni cermin polos dan cermin bevel atau bentuk cermin yang pengerjaan dengan menggunakan gerinda.

Tentu saja, dua jenis cermin itu tersedia dalam berbagai ukuran. Bentuk cermin itu bisa persegi panjang, oval atau membentuk buah-buahan atau tokoh kartun terkenal. Demikian juga dengan ukuran cermin, mulai ukuran puluhan hingga ratusan sentimeter. “Biasanya kaca yang di-bevel itu tidak menggunakan bingkai tetapi tergantung selera konsumen juga,” kata Dayat, pemilik UD Sumber Rejeki.

Dayat menjual kaca cermin dengan dua jenis yakni kaca cermin polos tanpa bingkai dan kaca cermin polos dengan bingkai. Untuk bingkai, kebanyakan kaca cermin yang dibuat oleh Dayat menggunakan kayu jati. “Ada juga yang fiber tapi cuma sedikit dan ukuran kacanya kecil,” tambah Dayat.

Dayat melego kaca cermin dengan bingkai kayu jati berbentuk oval anggur seharga Rp 350.000. Sedangkan untuk kaca cermin bentuk persegi panjang ukuran 60 cm x 90 cm dengan bingkai kayu jati, harganya Rp 800.000.

Semakin besar ukuran kaca dan semakin sulit ukiran bingkai, Dayat akan memasang harga lebih tinggi. Misalnya untuk kaca cermin persegi panjang dengan ukuran 200 cm x 150 cm, Dayat mematok harga hingga Rp 2,5 juta.

Pelanggan pun kebanyakan lebih menyukai kaca dengan bingkai kayu jati ukiran ketimbang bingkai fiber. Meski mahal, kaca cermin dengan bingkai kayu jati lebih enak dilihat dan lebih kuat. Biasanya pembeli meletakkan cermin berbingkai kayu jati itu di ruang tamu. Karena itu, “Ukiran pada bingkai juga harus indah,” terang Dayat.

Sedangkan Lupi Arisal, pemilik PD Hikmah Jaya, menjual kaca bevel dengan berbagai ukuran dan bentuk. Selain bentuk buah-buahan, seperti apel atau mangga, Lupi juga menyediakan cermin bevel berbentuk binatang atau tokoh kartun seperti Donald Bebek dan Winnie The Pooh. “Untuk pembelian perorangan, kaca dengan bentuk lucu ini yang laris,” kata Lupi.

Harga cermin biasa dan cermin bevel memang beda. Cermin bevel lebih mahal. Selisihnya bisa dua kali lipat. Lupi memberi contoh, cermin bevel dengan bingkai ukuran 40 cm x 160 cm dilego Rp 550.000. Namun untuk cermin biasa dengan ukuran yang sama harganya cuma Rp 300.000.

Cara membuat cermin bevel memang rumit. Awalnya, lembaran kaca dipotong sesuai dengan kebutuhan pembeli. Selanjutnya, potongan kaca itu dibentuk motif tertentu dengan menggunakan bevel. Pinggiran kaca yang masih kasar kemudian dihaluskan dengan gerinda besi dan diperhalus lagi dengan gerinda batu.

Selain jenis dan ukuran kaca cermin, ketebalan kaca cermin juga mempengaruhi harga. Baik Lupi dan Dayat menyediakan kaca cermin dengan ketebalan dua milimeter hingga lima milimeter. Makin tebal kacanya, makin mahal pula harganya.

 
Kamis, 24 November 2011 | 14:21  oleh Fitri Nur Arifenie
SENTRA CERMIN PEJOMPONGAN, JAKARTA
Sentra cermin Pejompongan: Dulu pernah ekspor, kini main di lokal (3)

Sentra pembuatan dan penjualan cermin di Pejompongan bahkan pernah terkenal hingga di luar negeri. Namun, setelah krisis moneter pada 1998, ekspor kaca cermin dari sentra ini terhenti. Selain surutnya jumlah pembeli, para perajin cermin ini juga kesulitan modal.

Jumlah penjual cermin di Pejompongan memang makin membengkak. Demikian juga dengan jumlah pembeli. Hanya saja, saat ini susah untuk menemukan pembeli asing di sini.

Padahal, sebelum krisis moneter tahun 1998, para perajin dan pedagang di sentra ini sering dihampiri pembeli asing. Bahkan beberapa pedagang juga sudah berani bermain di pasar ekspor.

Menurut Iwan Wahyudin, pemilik dari Rasdja Furniture, dulu, ketika usaha ini masih dipegang ayahnya, order cermin sering datang dari luar negeri. Bahkan, saban bulan, Rasdja Furniture mampu mengekspor cermin sebanyak 30-40 buah. “Paling banyak datang dari Singapura dan Malaysia,” kata Iwan. Para pelanggan Rasdja di luar negeri itu kebanyakan memesan cermin ukuran 100 cm x 150 cm berbingkai kayu jati.

Namun, kegiatan ekspor ini terhenti ketika krisis moneter dan harga bahan baku naik tinggi. Kini, Iwan hanya bisa berangan-angan suatu ketika nanti cermin Pejompongan bisa bertengger lagi di mancanegara. Maklum, sulitnya modal membuat para perajin dan pedagang cermin di situ susah mengembangkan usaha. Padahal, dulu pemerintah masih mau menggelontorkan modal untuk para perajin itu.

Iwan mengenang, pada 1996, Perum Peruri pernah membantu permodalan hingga sebesar Rp 10 juta. Modal ini kemudian dipergunakan oleh ayah Iwan untuk memperbesar bisnisnya dan memperbanyak penjualan kaca cermin. Memang bantuan modal itu hanya datang sekali saja karena setelah itu Rasdja mampu berkembang secara mandiri.

Menurut Iwan, saat ini para perajin dan pedagang memang lagi terdesak permodalan. Lihat saja, bahan baku cermin dan kayu kini sudah membubung tinggi. Sementara itu, para pedagang kesulitan untuk menaikkan harga jual.

Saban bulan, harga kaca naik sekitar 10%, bahkan pernah naik hingga 15%. “Harga kaca itu mengikuti harga emas. Kalau harga emas naik, ya, naik, kalau turun ikut turun,” tutur Iwan.

Adapun Lupi Arisal, pemilik PD Hikmah Jaya, memang tak berminat membidik pasar ekspor. Dia mengaku, saat ini saja tokonya kewalahan menerima order dari pembeli lokal.

Lupi beranggapan, sangat susah menembus pasar ekspor. Setidaknya dia perlu rajin berpromosi atau rajin ikut pameran. Padahal, untuk ikut pameran jelas butuh biaya tak sedikit. Sementara itu, dengan usaha seperti sekarang, promosi cukup dari mulut ke mulut saja. “Pernah juga diajak oleh pemerintah. Tapi tidak ada modal. Kan, kalau ikut pameran juga butuh modal,” kata Lupi.

Meski “main” di pasar lokal, cermin Lupi sudah menjangkau seluruh Indonesia. Ia punya pelanggan tetap dari Medan hingga Medan.

Rezeki ini juga menimpa Achmad Lutfi, pemilik PD Sumber Rejeki. Selama 10 tahun menggeluti bisnis cermin, Lutfi masih suka berjualan di pasar lokal lantaran peluangnya lokal masih sangat terbuka. Itulah sebabnya, Lutfi rajin membuka cabang, seperti di Bekasi, Tangerang, dan di Kebon Jeruk.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1321950380/83352/Sentra-cermin-Pejompongan-Tiga-dekade-becermin-di-Pejompongan-1-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/83448/Sentra-cermin-Pejompongan-Dari-cermin-persegi-sampai-bentuk-kartun-2-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/83556/Sentra-cermin-Pejompongan-Dulu-pernah-ekspor-kini-main-di-lokal-3-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *