pekarangan terhadap holtikultura

Posted on
Pengembangan pertanian yang sudah dilaksanakan sekarang ini masih terbatas pada  penanganan lahan sawah, sedangkan  untuk pekarangan belum banyak mendapatkan perhatian. Mengenai pekarangan kalau kita lihat hampir semua tempat di Indonesia ini dapat kita jumpai adanya pekarangan, kecuali di daerah Banten selatan, dan pekarangan merupakan agroekosistem yang sangat baik serta mempunyai potensi yang tidak kecil dalam mencukupi kebutuhan hidup petani atau pemiliknya, bahkan kalau dikembangkan secara baik akan dapat bermanfaat lebih jauh lagi, seperti kesejahteraan masyarakat sekitar, pemenuhan kebutuhan pasar bahkan mungkin memenuhi kebutuhan nasional.

Di Pulau Jawa terdapat pekarangan seluas kurang lebih sekitar satu setengah juta ha (1,5 ha), atau hampir mencapai luas sebesar dua puluh (20) persennya dari seluruh luas   tanah pertanian, dan di sekitar daerah Jawa Barat rata-rata luas pemilikan tanah pekarangan sebesar sekitar 208,12 m2.          Luas pekarangan seluruh Indonesia mencapai sekitar dua ribu dua ratus limapuluh enam dua ratus enam puluh enam ha (2.256.266 ha) atau sekitar enam belas koma delapan puluh delapan persen (16,88 %) dari seluruh luas tanah pertanian rakyat. Pekarangan yang berada disekitar rumah tersebut dapat memberi tambahan hasil berupa bahan makanan seperti palawija, buah-buahan dan sayur-sayuran, kayu-kayuan baik untuk bahan kayu bakar maupun untuk kayu bahan bangunan. Maka untuk merubah penghasilan petani dan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat perlu memperhatikan arti penting lahan pekarangan.

1.   Pengertian Pekarangan.
Setiap orang akan dengan mudah menunjukkan apabila ditanya mana pekarangannya atau mana yang disebut pekarangan maka orang segera menunjuk tanah disekitar rumah seseorang atau yang dilihat atau dimilikinya, tetapi walau demikian mudah untuk menunjukkannya secara nyata tetapi kalau untuk memberi pengertian atau batasan tentang apa yang dimaksudkan dengan pekarangan sering orang mengalami kesulitan. Banyak orang berusaha untuk membuat definisi atau pengertian pekarangan tetapi dari banyak pengertian atau definisi tersebut yang umum digunakan adalah yang dirumuskan oleh Terra (1948), selanjutnya definisi tersebut diperluas oleh Soemarwoto (1975).

2.   Fungsi Pekarangan
Fungsi sosial dari pekarangan adalah untuk memberi rasa nyaman bagi lingkungan tempat tinggal, tempat anak-anak bermain-main juga untuk melepaskan lelah serta bersantai ria pada waktu senggang maupun untuk melepaskan binatang kesayangannya. Fungsi ekonomi dari pekarangan menurut penelitian yang dilakukan oleh Terra (1948) diungkapkan oleh Danoesastro 1976, serta dari hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Dinas Perkebunan Rakyat diperoleh hasil bahwa pekarangan mempunyai banyak fungsi (Manfaat pekarangan) yaitu  : Sumber Karbohidrat, Menghasilkan bahan setiap hari, Sumber bahan bangunan rumah atau keperluan lain, Penghasil bumbu masak yang diperlukan, Penghasil kayu bakar, Penghasil bahan dasar untuk kerajinan rumah tangga , dan Penghasil Protein hewani.

3.   Faktor-faktor yang Mempengaruhi Bentuk, Luas dan Intensitas Pekarangan
Apabila dilakukan pengamatan pada pekarangan yang ada baik itu di Jawa maupun di luar Jawa, maka akan nampak bahwa bentuk, luas dan intensitas pekarangannya berbeda-beda. Pada dataran rendah berbeda dengan di pegunungan, daerah dengan iklim basah berbeda dengan daerah yang mempunyai iklim kering, serta letak suatu daerah dengan perkotaan, tempat yang jauh dari kota dengan yang dekat dengan kota akan ada perbedaan pengembangannya.
Terra (1953) mengemukakan bahwa penyebaran, luas dan intensitas serta bentuk pekarangan dipengaruhi oleh faktor ethnologis, iklim, tanah dan tergantung pada seberapa besar kepadatan penduduk, serta imbangan dengan pemilikan tanah yang lain.

4.   Pengaturan Pekarangan.
Seperti yang telah diuraikan tedahulu bahwa pekarangan dapat memberikan bermacam-macam hasil seperti : Palawija, Buah-buahan, Sayur-sayuran Bunga-bungaan, Rempah-rempah, Obat-obatan, Kayu-kayuan, Bahan kerajinan, Ikan, Pupuk kandang, Hewan ternak, dan  Madu tawon/lebah.
Pekarangan sering memberikan kesan pada yang melihatnya sebagai hutan rimba yang produktif (Agroforestry) atau sebagai kebun yang terlantar karena pekarangan tersebut ditumbuhi oleh bermacam-macam tanaman. Pengaturan pekarangan yang kurang baik akan memberikan pandangan yang kurang baik pula. Dengan pengaturan tanaman dalam pekarangan secara baik akan menciptakan keindahan alam lingkungan terbuka di pekarangan. Keindahan pekarangan tidak saja memberi kegembiraan pada pemiliknya tetapi juga memberi kesenangan pada siapa saja yang lewat dan memandangnya.

5.   Kemungkinan Pengembangan Pekarangan
Pengembangan pekarangan yang terarah, tidak cukup hanya dengan melakukan perlombaan-perlombaan yang bersifat seremonial belaka seperti lumbung hidup, apotik hidup atau warung hidup yang bersiaft sementara selagi ada kegiatan lomba yang dahulu sering dilakukan untuk sekedar menyenangkan pejabat belaka tetapi tanpa ada pembinaan lebih lanjut. Sebenarnya hal tersebut juga dapat mendorong pengembangan pengusahaan pekarangan asalkan dilakukan dengan perencanaan yang baik dari pejabat yaitu dengan usaha peningkatan pengetahuan pemilik pekarangan, dilakukan pembinaan dan pendidikan yang menyeluruh serta diikuti penyediaan sarana maupun penampungan hasilnya atau paling tidak arahan kemungkinan pemasaran produk yang nantinya akan dihasilkan kalau pekarangan benar-benar telah berkembang nantinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *