SENTRA CETAKAN KUE PASAR SENEN, JAKARTA

Posted on

Peluang Usaha

Kamis, 06 Oktober 2011 | 15:41  oleh Hafid Fuad
SENTRA CETAKAN KUE PASAR SENEN, JAKARTA
Sentra cetakan kue Senen: Sentra bisnis yang turun-temurun (1)

Pasar Senen punya sentra perdagangan cetakan kue yang berlokasi di Blok III. Terdapat 50-an pedagang yang menjual cetakan kue dan loyang yang terbuat dari aluminium, logam hingga plastik. Usaha dagang cetakan kue ini merupakan warisan turun-temurun sejak 1950-an.

Bagi produsen kue atau bagi pengusaha katering yang berdomisili di sekitar Jabodetabek, nama Pasar Senen di Jakarta Pusat tentu sudah sangat mereka kenal. Sebab di pasar inilah pusat perdagangan cetakan kue yang terbuat dari berbagai bahan.

Lokasi perdagangan cetakan kue itu ada di Blok III, Pasar Senen. Di sana terdapat 50 pedagang yang menyediakan aneka cetakan kue dan loyang mulai yang terbuat dari aluminium, logam, plastik, dan sebagainya.

Selain itu pedagang juga menyediakan aneka peralatan pembuat kue seperti oven, alat kukus, mixer adonan kue, serta aneka kebutuhan lainnya.

Menuju Pasar Senen relatif tidak terlalu sulit. Pasar yang berdiri sejak zaman Belanda itu dekat dengan stasiun kereta api Pasar Senen serta terminal bus dalam kota.

Walaupun pasar berdiri sejak zaman Belanda, tetapi kebanyakan pedagang cetakan kue hadir pada era 1950-an. Namun baru tahun 1985, pedagang cetakan kue itu direlokasi ke Blok III hingga sekarang ini.

Salah satu pedagang yang lama berjualan cetakan kue di Pasar Senen itu adalah Agus Winoto Halim. Pria berusia 61 tahun itu mewarisi toko cetakan kue merek ACC dari orangtuanya yang telah merintis usaha ini sejak 1950. “Toko kami yang pertama kali direlokasi ke Blok III,” klaim Agus.

Selain Agus, pedagang cetakan kue lainnya adalah Nunung, yang juga mewarisi usaha dari orangtuanya. Nunung memulai usaha karena terinspirasi dari toko ACC milik orang tua Agus. “Waktu itu orangtua sering belanja cetakan kue ke toko ACC,” kata Nunung.

Namun kini, toko milik Nunung berkembang lebih cepat ketimbang toko ACC. Nunung berhasil menambah jumlah toko dari satu toko menjadi delapan toko di lokasi Blok III Pasar Senen itu. “Suatu saat nanti usaha ini juga akan saya wariskan lagi kepada anak-anak,” terang Nunung.

Tidak hanya Agus dan Nunung saja yang menjadi pewaris toko cetakan kue di Blok III Pasar Senen itu. Keduanya bilang, ada beberapa toko cetakan kue lainnya yang menjadi bisnis keluarga turun temurun.

Nunung bilang, selain menjadi lahan ekonomi keluarga, toko cetakan kue itu juga menjadi bukti dari kesuksesan orang tua mereka. “Maka itu usaha ini harus diwariskan lagi,” kata Nunung.

Sayangnya, Blok III di Pasar Senen ini tak ditata dengan baik. Lihat saja, pedagang cetakan kue bercampur baur dengan pedagang sembako. Menurut pengurus Pasar Senen dari PD Pasar Jaya, ada 1.423 pedagang di Blok III itu. “Mayoritas memang pedagang sembako,” kata pengurus pasar yang enggan menyebut nama itu.

Padahal kalau ditata dengan baik, para pemburu cetakan kue tentu bisa berbelanja dengan lebih nyaman. Apalagi belakangan ini jumlah pedagang cetakan juga terus bertambah. Lokasi Blok III Pasar Senen itu terasa penuh dan kumuh karena banyak ruang kosong jadi tempat penimbunan dagangan pemilik toko.

Karena itu, jika berkunjung ke sana, pembeli mesti siap-siap kegerahan dan berhadapan dengan kekumuhan. “Sejak berdiri pasar ini tak pernah direnovasi,” keluh Agus yang kini berusia 61 tahun itu.

Masalah lain adalah, Blok III itu tidak terjamah sinyal telepon seluler. “Kami masih mengandalkan telepon kabel (fixed line),” jelas Agus.

Namun begitu, pedagang cetakan kue Pasar Senen tetap ramai dikunjungi pelanggan. Kebanyakan mereka adalah produsen kue, pengusaha katering hingga ibu rumah tangga. Ada juga pelanggan yang berprofesi sebagai pedagang cetakan kue yang datang khusus dari daerah. “Tapi mayoritas pembeli kami masih dari Jabodetabek,” jelas Agus.

Waktu berkunjung pelanggan kebanyakan pagi dan siang hari. Karena pada pukul 17.00 WIB, pedagang cetakan kue sudah menutup gerai.  

Jumat, 07 Oktober 2011 | 15:33  oleh Hafid Fuad
SENTRA CETAKAN KUE PASAR SENEN, JAKARTA
Sentra cerakan kue Senen: Memperbanyak toko agar bisa bersaing (2)
dibaca sebanyak 218 kali

0 Komentar

Persaingan yang kian ketat sesama pedagang cetakan kue di Blok III Pasar Senen membuat omzet mereka menurun. Untuk bisa mengais laba, perlu strategi jitu, yakni dengan menambah jumlah toko. Itulah sebabnya, beberapa pedagang punya beberapa toko.

Sentra cetakan kue Blok III Pasar Senen menawarkan berbagai produk yang berkaitan dengan pembuatan kue. Beragam loyang dipajang mulai yang berukuran mini sampai jumbo. Tak hanya ukuran, berbagai bentuk cetakan kue dengan desain menarik juga ditawarkan di sini.

Mulai bentuk yang sederhana, seperti persegi, bintang, sampai yang sedikit rumit seperti bentuk boneka juga ada. Harga yang ditawarkan juga sangat bervariasi tergantung jenis dan ukuran.

Menurut Majdi Syarif alias Adi, pemilik Toko ABC di sentra cetakan kue Pasar Senen, saat ini, hampir semua produk cetakan kue berbahan baku aluminium. Selain lebih ringan, harga yang ditawarkan juga lebih murah. Bahkan untuk cetakan kue buatan perajin di Citeureup, Bogor, bisa 30% lebih murah dibanding produk yang sama buatan pabrik.

Memang saat ini, sentra cetakan kue Pasar Senen selain menampung karya perajin asal Bogor, juga dibanjiri produk pabrikan, baik produk lokal maupun impor. Dengan penampilan yang lebih rapi, produk impor banyak disukai pembeli walaupun harganya lebih mahal.

Sebenarnya, menurut Adi, mahal murahnya harga cetakan kue ditentukan oleh tebal tipisnya aluminium. Walaupun ketebalan hanya selisih beberapa milimeter, perbedaan harga cukup signifikan.

Perbedaan harga ini pula yang menurut Adi, cukup membuatnya pusing. Sebab banyak pelanggan baru yang tidak mengetahui mengapa harga cetakan mahal, sehingga mereka batal membeli.

Keluhan yang sama juga dikatakan oleh W Lung, pemilik toko cetakan kue ACC. Menurut Lung, beberapa tahun belakangan ini omzet yang didapatnya terus mengalami penurunan. Saat ini, jika kondisi sepi, rata-rata omzet yang diperoleh Lung tak lebih Rp 400.000 per hari. “Jika ramai bisa mencapai Rp 1 juta per hari,” tambahnya.

Lung mengaku tidak tidak mengetahui mengapa omzetnya terus menurun. Yang pasti, mahalnya berbagai kebutuhan pokok yang membuat masyarakat berhenti membuat kue atau setidaknya berhenti membeli cetakan. “Kami tidak bisa memprediksi kapan pengunjung ramai,” ujarnya.

Sebenarnya tidak semua toko di sentra cetakan kue Pasar Senen menurut omzetnya. Adi mengaku omzetnya masih stabil di kisaran Rp 15 juta per per bulan per toko. Adi memiliki delapan toko serupa di Blok III Pasar Senen dan tiga di luar Pasar Senen. Kalau dari seluruh toko, Adi bisa mendapatkan omzet Rp 50 juta per bulan. Dari total omzet, “Bersihnya sekitar Rp 20 juta,” ujar Adi.

Walaupun omzetnya stabil, Adi mengakui, dagang cetakan kue di Pasar Senen saingannya semakin ketat. Semakin banyaknya penjual yang menjajakan barang yang sama, membuat pedagang harus pintar-pintar pasang strategi untuk menarik pembeli.

Inilah yang mendorong Adi membuka delapan toko di lokasi yang sama. Sebab, menurutnya, untuk mendapat keuntungan besar, pedagang harus mempunyai banyak toko sehingga volume penjualan meningkat.

Senin, 10 Oktober 2011 | 13:56  oleh Hafid Fuad
SENTRA CETAKAN KUE PASAR SENEN, JAKARTA
Sentra cetakan kue Senen: Bertahan di tengah panasnya pasar (3)

Walaupun bangunan Blok III Pasar Senen sudah uzur, puluhan pedagang cetakan kue tetap mengandalkan pasar itu untuk mencari laba. Namun pedagang mesti kerja keras karena kini mereka harus bersaing dengan pasar swalayan yang juga menjual cetakan kue.

Pasar Senen di kawasan Jakarta Pusat sudah lama dikenal sebagai pasar yang supersibuk. Apalagi setelah Pemerintah DKI Jakarta memugar pasar ini pada 1985 silam. Di pasar ini berkumpul berbagai pedagang, mulai jualan aneka jam, aneka kudapan ringan di pagi, dan juga sentra penjualan cetakan kue.

Masalahnya, keramaian pasar ini tak diimbangi dengan pengawasan keamanan yang baik. Akibatnya, tukang copet dan tukang todong pun merajalela. Pedagang di pasar ini pun mengeluh, tingginya angka kriminalitas membuat pengunjung enggan datang ke pasar ini.

W. Lung, pemilik toko cetakan kue ACC di Blok III, menceritakan, pada 1990-an silam, kejahatan itu sering terjadi dan banyak dikeluhkan pelanggannya, terutama ibu-ibu rumah tangga. Mereka enggan datang ke pasar karena khawatir menjadi korban kejahatan. “Saat itu jumlah pengunjung kami turun,” keluh Lung.

Selain masalah keamanan, pedagang juga mengeluhkan soal kenyamanan. Banyak infrastruktur pasar tidak terawat dan usang. Lung memberi contoh, gorong-gorong saluran air sering tersumbat sehingga air meluap dan menyebarkan bau busuk ke seantero pasar. Selain itu, pasar jadi lembab, kumuh, dan licin. “Masalah ini ini membuat orang malas belanja,” terang Lung.

Tak hanya itu, minimnya ventilasi udara membuat hawa panas menyengat di Blok III itu. Pengunjung bahkan harus rela bercucuran keringat jika datang belanja. Apalagi pasar BLok III itu tidak memiliki alat penyejuk udara. “Walau kami memakai kipas angin tetap saja hawa terasa panas,” kata Lung.

Namun kondisi sekarang agak lebih baik. Banyaknya keluhan itu rupanya sampai juga ke telinga PD Pasar Jaya, pengelola Pasar Senen. Mereka pun sudah memberikan solusi. Pada tahun 2000 lalu, pengelola pasar sudah menambah jumlah pegawai untuk dijadikan petugas keamanan dan juga petugas kebersihan pasar.

Tetapi peningkatan layanan keamanan dan kebersihan itu ternyata membuat pedagang mengeluarkan biaya ekstra. Mereka setiap bulan mesti merogoh kocek mulai dari Rp 240.000 sampai Rp 460.000, tergantung besar kecilnya toko, untuk ongkos petugas keamanan dan kebersihan itu. “Hasilnya memang bagus, sekarang premanisme sudah turun,” ujar Majdi Syarif, pedagang cetakan kue dari Toko ABC.

Walaupun sudah ada upaya pembenahan dari pengelola pasar, tapi pedagang cetakan kue tetap saja risau dengan kendurnya penjualan cetakan kue milik mereka. Agar omzet mereka tidak kendor, sebagian pedagang juga berjualan barang pecah belah.

Agus Winoto Halim, pedagang cetakan kue lainnya, menilai bahwa belakangan ini ada tren perubahan pola hidup membuat kue. “Sekarang orang ingin serbapraktis, mereka tidak mau lagi sibuk membuat kue di dapur,” kata dia.

Ia bilang, masyarakat lebih gemar belanja kue jadi. Kalau toh butuh cetakan, mereka mencari di pasar swalayan. “Pelanggan lebih senang ke swalayan yang sejuk,” keluhnya.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1317890486/79291/Sentra-cetakan-kue-Senen-Sentra-bisnis-yang-turun-temurun-1
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/79396/Sentra-cerakan-kue-Senen-Memperbanyak-toko-agar-bisa-bersaing-2
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/79555/Sentra-cetakan-kue-Senen-Bertahan-di-tengah-panasnya-pasar-3

Hasil penelusuran:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *