Pinjal dan Metode Pengendaliannya

Posted on

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pinjal termasuk ordo Siphonaptera yang mulanya dikenal sebagai ordo Aphniptera. Terdapat sekitar 3000 spesies pinjal yang masuk ke dalam 200 genus. Sekarang ini baru 200 spesies pinjal yang telah diidentifikasi (Zentko, 1997).
Seringkali orang tidak dapat membedakan antara kutu dan pinjal. Pinjal juga merupakan serangga ektoparasit yang hidup pada permukaan tubuh inangnya. Inangnya terutama hewan peliharaan seperti kucing, dan anjing, juga hewan lainnya seperti tikus, unggas bahkan kelelawar dan hewan berkantung (Soviana dkk, 2003).
Secara morfologi perbedaan yang jelas anatara kutu dan pinjal yang sama-sama tidak bersayap adalah bahwa tubuh pinjal dewasa yang pipih bilateral., sedangkan kutu tubuhnya pipih dorsoventral. Dengan demikian bentuk pinjal secara utuh dapat dilihat dari pandangan samping. Bentuk tubuhnya yang unik ini ternyata amat sesuai dengan habitatnya diantara bulu atau rambut inangnya. Pengenalan pinjal secara mudah adalah apabila kita mengelus kucing, dan tiba-tiba secara sekelebat kita menemukan makhluk kecil yang melintas diantara bulu-bulu kucing dan kemudian menghilang (Soviana dkk, 2003).
Gigitan pinjal ini dapat menimbulkan rasa gatal yang hebat kemudian berlanjut hingga menjadi radang kulit yang disebut flea bites dermatitis. Selain akibat gigitannya, kotoran dan saliva pinjal pun dapat berbahaya karena dapat menyebabkan radang kulit (Zentko, 1997).

.
B. Tujuan
1. Mengetahui morfologi pinjal.
2. Mengetahui peran pinjal terhadap kesehatan.
3. Mengetahui metode pengendalian pinjal.

BAB II
ISI

A. Klasifikasi Pinjal
Pinjal masuk ke dalam ordo Siphonaptera yang pada mulanya dikenal sebagai ordo Aphniptera. Ordo Siphonaptera terdiri atas tiga super famili yaitu Pulicoidea, Copysyllodea dan Ceratophylloidea. Ketiga super famili ini terbagi menjadi Sembilan famili yaitu Pulicidae, Rophalopsyllidae, Hystrichopsyllidae, Pyglopsyllidae, Stephanocircidae, Macropsyllidae, Ischnopsyllidae dan Ceratophillidae. Dari semua famili dalam ordo Siphonaptera paling penting dalam bidang kesehatan hewan adalah famili Pulicidae (Susanti,2001).

B. Morfologi Pinjal
Menurut Sen & Fetcher (1962) pinjal yang masuk ke dalam sub spesies C. felis formatipica memiliki dahi yang memanjang dan meruncing di ujung anterior. Pinjal betina tidak memiliki rambut pendek di belakang lekuk antenna. Kaki belakang dari sub spesies ini terdiri dari enam ruas dorsal dan manubriumnya tidak melebar di apical, sedangkan pinjal yang masuk ke dalam sun spesies C. felis formatipica memiliki dahi yang pendek dan melebar serta membulat di anterior. Pinjal pada sub spesies ini memiliki jajaran rambut satu sampai delapan yang pendek di belakang lekuk anten. Kaki belakang dari pinjal ini terdiri atas tujuh ruas dorsal dan manubrium melebar di apical.
Pinjal merupakan insekta yang tidak memiliki sayap dengan tubuh berbentuk pipih bilateral dengan panjang 1,5-4,0 mm, yang jantan biasanya lebih kecil dari yang betina. Kedua jenis kelamin yang dewasa menghisap darah. Pinjal mempunyai kritin yang tebal. Tiga segmen thoraks dikenal sebagai pronotum, mesonotum dan metanotum (metathoraks). Segmen yang terakhir tersebut berkembang, baik untuk menunjang kaki belakang yang mendorong pinjal tersebut saat meloncat. Di belakang pronotum pada beberapa jenis terdapat sebaris duri yang kuat berbentuk sisir, yaitu ktenedium pronotal. Sedangkan tepat diatas alat mulut pada beberapa jenis terdapat sebaris duri kuat berbentuk sisir lainnya, yaitu ktenedium genal. Duri-duri tersebut sangat berguna untuk membedakan jenis pinjal.
Pinjal betina mempunyai sebuah spermateka seperti kantung dekat ujung posterior abdomen sebagai tempat untuk menyimpan sperma, dan yang jantan mempunyai alat seperti per melengkung , yaitu aedagus atau penis berkitin di lokasi yang sama. Kedua jenis kelamin mmiliki struktur seperti jarum kasur yang terletak di sebelah dorsal , yaitu pigidium pada tergit yang kesembilan. Fungsinya tidak diketahui, tetapi barangkali sebagai alat sensorik.
Mulut pinjal bertipe penghisap dengan tiga silet penusuk (epifaring dan stilet maksila). Pinjal memiliki antenna yang pendek, terdiri atas tiga ruas yang tersembunyi ke dalam lekuk kepala (Susanti, 2001)

C. Daur Hidup Pinjal
Pinjal termasuk serangga Holometabolaus atau metamorphosis sempurna karena daur hidupnya melalui 4 stadium yaitu : telur-larva-pupa-dewasa. Pinjal betina bertelur diantara rambut inang. Jumlah telur yang dikeluarkan pinjal betina berkisar antara 3-18 butir. Pinjal betina dapat bertelur 2-6 kali sebanyak 400-500 butir selama hidupnya (Soviana dkk, 2003).

Telur berukuran panjang 0,5 mm, oval dan berwarna keputih-putihan. Perkembangan telur bervariasi tergantung suhu dan kelembaban. Telur menetas menjagi larva dalam waktu 2 hari atau lebih. Kerabang telur akan dipecahkan oleh semacam duri (spina) yang terdapat pada kepala larva instar pertama.
Larva yang muncul bentuknya memanjang, langsing seperti ulat, terdiri atas 3 ruas toraks dan 10 ruas abdomen yang masing-masing dilengkapi dengan beberapa bulu-bulu yang panjang. Ruas abdomen terakhir mempunyai dua tonjolan kait yang disebut anal struts, berfungsi untuk memegang pada substrata tau untuk lokomosi. Larva berwarna kuning krem dan sangat aktif, dan menghindari cahaya. Larva mempunyai mulut untuk menggigit dan mengunyah makanan yang bisan berupa darah kering, feses dan bahan organic lain yang jumlahnya cukup sedikit. Larva dapat ditemukan di celah dan retahkan lantai, dibawah karpet dan tempat-tempat serupa lainnya. Larva ini mengalami tiga kali pergantian kulit sebelum menjadi pupa. Periode larva berlangsung selama 7-10 hari atau lebih tergantung suhu dan kelembaban.
Larva dewasa panjangnya sekitar 6 mm. Larva ini akan menggulung hingga berukuran sekitar 4×2 mm dan berubah menjadi pupa. Stadium pupa berlangsung dalam waktu 10-17 hari pada suhu yang sesuai, tetapi bisa berbulan-bulan pada suhu yang kurang optimal, dan pada suhu yang rendah bisa menyebabkan pinjal tetap terbungkus di dalam kokon.
Stadium pupa mempunyai tahapan yang tidak aktif atau makan, dan berada dalam kokon yang tertutupi debris dan debu sekeliling. Stadium ini sensitive terhadap adanya perubahan konsentrasi CO2 di lingkungan sekitarnya juga terhadap getaran. Adanya perubahan yang signifikan terhadap kedua factor ini, menyebabkan keluarnya pinjal dewasa dari kepompong. Hudson dan Prince (1984) melaporkan pada suhu 26,6 °C, pinjal betina akan muncul dari kokon setelah 5-8 hari, sedangkan yang jantan setelah 7-10 hari.
Perilaku pinjal secara umum merupakan parasit temporal, berada dalam tubuh saat membutuhkan makanan dan tidak permanen. Jangka hidup pinjal bervariasi pada spesies pinjal, tergantung dari makan atau tidaknya pinjal dan tergantung pada derajat kelembaban lingkungan sekitarnya. Pinjal tidak makan dan tidak dapat hidup lama di lingkungan kering tetapi di lingkungan lembab, bila terdapat reruntuhan yang bisa menjadi tempat persembunyian maka pinjal bisa hidup selama 1-4 bulan.
Pinjal tidak spesifik dalam memilih inangnya dan dapat makan pada inang lain. Pada saat tidak menemukan kehadiran inang yang sesungguhnya dan pinjal mau makan inang lain serta dapat bertahan hidup dalam periode lama (Soviana dkk, 2003).

D. Ekologi Pinjal
Menurut Susanti (2001), kehidupan pinjal dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah :
1. Suhu dan Kelembaban
Perkembangan setiap jenis pinjal mempunyai variasi musiman yang berbeda-beda. Udara yang kering mempunyai pengaruh yang tidak menguntungkan bagi kelangsungan hidup pinjal. Suhu dalam sarang tikus lebuh tinggi selama musim dingin dan lebih tendah selama musim panas daripada suhu luar. Suhu didalm dan diluar sarang memperlihtkan bahwa suhu didalam sarang cncerung berbalik dengan suhu luar.
2. Cahaya
Beberapa jenis pinjal menghindri cahaya (fototaksis negatif). Pinjal jenis ini bisaanya tidak mempunyai mata. Pada sarang tikus yang kedalamannya dangkal populasi tidak akan ditemukan karena sinar matahari mampu menembus sampai dasar liang. Sedangkan pada sarang tikus yang kedalamannya lebih dalam dan mempunyai jalan yang berkelok, sinar matahari tidak dapat menembus sampai ke dasar liang. Sehingga pada sarang tikus ini banyak ditemukan pinjal.
3. Parasit
Bakteri Yersinia pestis di dalam tubuh pinjal merupakan parasit pinjal yang mempengaruhi umur pinjal. Pinjal yang mengandung bakteri pes pada suhu 10-150C hanya bertahan hidup selama 50 hari, sedangkan pada suhu 270C betahan hidup selama 23 hari. Pada kondisi normal, bakteri pes akan berkembang cepat, kemudian akan menyumbat alat mulut pinjal, sehingga pinjal tidak bisa menghisap darah dan akhirnya mati.
4. Predator
Predator pinjal alami merupakan faktor penting dalam menekan populasi pinjal di sarang tikus. Beberapa predator seperti semut dan kumbang kecil telah diketahui memakn pinjal pradewasa dan pinjal dewasa.

E. Makanan Pinjal
Pinjal pradewasa mempunyai struktur mulut, organ anatomi dan fisiologi yang berbeda dengan pinjal dewasa, sehingga jenis makanan yang dikonsumsi juga berbeda. Makanan larva pinjal terdiri dari bahan-bahan organic yang ada disekitarnya, seperti darah yang dikeluarkan melalui organ ekskresi pinjal (anus), bahan organic yang kaya akan protein dan vitamin B. Bila bahan-bahan makanan tersebut terpenuhi, maka larva pinjal akan tumbuh secara maksimum.
Pinjal, baik jantan maupun betina merupakan serangga penghisap darah. Bagi pinjal betina, darah diperlukan untuk perkembangan telur. Pinjal akan sering menghisap darah di musim panas daripada musim penghujan atau dingin, karena di musim panas pinjal cepat kehilangan air dari tubuhnya.

F. Jenis Pinjal
Insekta ini termasuk ordo Siphonaphtera. Nama tersebut berarti bahwa mereka makan dengan menyifon (yaitu menghisap) darah. Pinjal dibagi 6 genus yaitu :

1. Genus Ctenocephalides
Ctenocephalides adalah pinjal yang umum pada anjing dan kucing. Pinjal ini juga menggigit hewan lain termasuk sapi dan manusia sebagai induk semang antara cacing pita anjing (Dipylidum caninum) dan cacing filarial anjing (Dipetalonema reconditum).
Ctenocephalides felis yang makan pada inangnya dan bisa hidup selam 58 hari serta tanpa makan tetapi tinggal pada lingkungan yang lembab dan dapat hidup selama 234 hari (Soviana, ).
2. Genus Echidnophaga

Echidnophaga adalah pinjal lekat unggas. Pinjal ini dapat juga menyerang anjig, kuing, mamalia lain dan bahkan manusia. Pinjal ini berbeda dari kebanyakan pinjal lain karena pinjal ini akan melompat bila diganggu.
3. Genus Pulex

Pulex irritans adalah pinjal manusia. Pinjal ini umum terdapat di California dan kadang-kadang terdapat di kandang-kandang ayam. Pinjal tersebut dapat menyerang banyak hewan lain termasuk babi, anjing, kucing dan tikus. Pinjal ini membawa tifus endemic.
Pulex irritans yang makan pada inangnya bisa hidup selama 125 hari dan tanpa makan tetapi tinggal pada lingkungan yang lembab dan dapat hidup selama 513 hari (Soviana, ).
4. Genus Nosopsyllus fasciatus
Nosopsyllus fasciatus adalah pinjal tikus umum di daerah beriklim sedang. Pinjal tersebut menyerang banyak hewan lain tapi tidak slalu menggigit orang.

5. Genus Xenopsylla
Xenopsylla cheopis adalah pinjal tikus tropis. Pada tikus pinjal ini lebih umum daripada Nosopsyllus fasciatus di Negara tropis dan banyak menyerang orang. Pinjal ini sangat penting karena memerlukan pes (disebabkan kuman Pasteurella pestis) dari tikus kepada manusia. Bakteri tersebut berkembang biak di dalam proventikulus pinjal sampai dapat memenuhinya. Kemudian bila pinjal terinfeksi bakteri ini dan pinjal menggigit korban lain, pinjal tersebut tidak dapat menghisap darah tetapi memuntahkan bakteri ke dalam luka. Pinjal ini juga menularkan thyphus endemic (disebabkan oleh Rickettsia typhi) dari tikus kepada manusia. X. cheopis merupakan pinjal kosmopolitan atau synathropic murine rodent yang mempunyai ciri-ciri pedikel panjang, bulu antepidigidal panjang dan kaku. Receptakel seminalis besar dan berkitin dengan sudut ekor meruncig.
Xenopsylla cheopis yang makan pada inangnya bisa hidup selama 38 hari dan tanpa makan tetapi tinggal pada lingkungan yang lembab dan dapat hidup selama 100 hari (Soviana, ).
6. Genus Tungau
Tungau penetrans adalah pinjal pasir. Pinjal ini merupakan pinjal yang terdapat di Negara-negara tropic dan sub tropic, pinjal ini sering ditemukan pada orang-orang yang bekerja sebagai penjelajah di Negara-negara tropis terutama di dataran Asia.

G. Peran dalam Bidang Kesehatan
Pinjal dapat mengganggu manusia dan hewan baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung biasanya berupa reaksi kegatalan pada kulit dan bentuk-bentuk kelainan kulit lainnya. Infestasi pinjal merupakan penyebab kelainan kulit atau dermatitis yang khas. Reaksi ini merupakan reaksi hipersensitifitas kulit terhadap komponen antigenik yang terdapat pada saliva pinjal. Dermatitis ini biasanya juga diperparah dengan infeksi sekunder sehingga dermatitis yang semula berupa dermatitis miliari, hiperpigmentasi dan hiperkeratinasi dapat berlanjut dengan alopesia difus (kegundulan) akibat penggarukan yang berlebihan.
Manusia sebagai inang asidental dapat menjadi sasaran gigitan pinjal. Dari beberapa kasus yang pernah ditemui gigitan pinjal ke manusia terjadi akibat manusia menempati rumah yang telah lama kosong, tidak terawat dan menjadi sarang kucing atau tempat kucing/ anjing beranak.
Pupa pinjal dapat bertahan di alam tanpa keberadaan inangnya, akan tetapi sangat sensitive terhadap perubahan kadar CO2 dan vibrasi. Sehingga begitu terdeteksi perubahan factor tersebut, pupa tahap akhir yang telah siap menjadi dewasa segera keluar dari kulit pelindungnya untuk mencari dan menghisap darah inangnya. Itulah sebabnya serangan pinjal terhadap manusia umumnya terjadi pada keadaan tersebut.
Selain gangguan langsung, pinjal juga berperan di dalam proses penularan beberapa penyakit yang berbahaya bagi manusia dan hewan. Contohnya adalah penyakit klasik Bubonic plaque atau pes yang disebabkan oleh Pasteurella pestis ditularkan oleh pinjal Xenopsylla cheopis. Jenis-jenis pinjal yang lain secara eksperimental dapat menularkan penyakit tetapi dianggap bukan vektor alami (Soviana dkk, 2003).

H. Interaksi Pinjal dengan Tikus
Tikus dan pinjal berinteraksi secara ektoparasit obligate sementara. Dalam interaksi ini pinjal dewasa selalu hidup menempel pada permukaan tubuh inang, sedangkan stadium pra dewasa tumbuh terlepas dari inangnya. Interaksi ini lebih bersifat leluasa, tidak seperti kutu (Anoplura) yang menetap selama hidupnya di tubuh tikus.
Istilah inang sejati (true host) sering digunakan untuk menandai suatu inang tunggal atau inang pilihan yang dianggap paling utama jika seandainya satu jenis pinjal menempati beberapa jenis inang. Inang utama yaitu inang yang cocok atau sesuai untuk kelanjutan reproduksi pinjal dalam jangka waktu yang tidak terbatas. Istilah ini dipakai untuk mengungkapkan hubungan asal nenek moyang.
Pada umumnya pinjal menyukai mamalia yang hidup didalam sarang, lubang dan gua yang terinfeksi pinjal. Amalia yang membuat sarang terbuka atau tidak terlindung dan terkena sinar matahari tidak disukai oleh pinjal, namun beberapa jenis pinjal ditemukan hidup parasit pada enguin dan burung laut yang sarangnya berada di pantai atau di pulau-pulau terpencil tanpa pepohonan.
Pinjal umumnya ditemukan pada mamalia ordo Monotremata, Marsupialia, Insektivora, Chiroptera, Edentata, Pholidota, Lagomarpha, Rodentia, Carnivora, Hyracoidea dan Astiodaetyla, tetapi jarang ditemukan pada mamalia ordo Dermoptera, Primata, Tubii dentate, Proboscidia, atau Perissodactyla

I. Pengendalian Pinjal
Menurut Soviana dkk (2003)Pengendalian pinjal terbagi menjadi 2 cara yaitu :

1. Mekanik atau Fisik
Pengendalian pinjal secara mekanik atau fisik dilakukan dengan cara membersihkan karpet, alas kandang, daerah di dalam rumah yang biasa disinggahi tikus atau hewan lain dengan menggunakan vaccum cleaner berkekuatan penuh, yang bertujuan untuk membersihkan telur, larva dan pupa pinjal yang ada. Sedangkan tindakan fisik dilakukan dengan menjaga sanitasi kandang dan lingkungan sekitar hewan piaraan, member nutrisi yang bergizi tinggi untuk meningkatkan daya tahan hewan juga perlindungan dari kontak hewan peliharaan dengan hewan liar atau tidak terawat lain di sekitarnya.
2. Kimia
Pengendalian pinjal secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida. Repelen seperti dietil toluamide (deet) atau benzilbenzoat bisa melindungi orang dari gigitan pinjal. Sejauh ini resistensi terhadap insektisida dari golongan organoklor, organofosfor, karbamat, piretrin, piretroid pada pinjal telah dilaporkan di berbagai belahan dunia. Namun demikian insektisida masih tetap menjadi alat utama dalam pengendalian pinjal, bahkan saat ini terdapat kecenderungan meningkatnya penggunaan Insect Growth Regulator (IGR).
Secara umum untuk mengatasi pinjal, formulasi serbuk (dust) dapat diaplikasikan pada lantai rumah dan tempat jalan lari tikus. Insektisida ini dapat juga ditaburkan dalam lubang persembunyian tikus. Diberbagai tempat Xenopsylla cheopis dan Pulex irritans telah resisten terhadap DDT, HCH dan dieldrin. Bila demikian, insektisida organofosfor dan karbamat seperti diazinon 2 %, fention 2%, malation 2%, fenitrotion 2%, iodofenfos 5%, atau karbaril 3-5% dapat digunakan.
Insektisida fogs atau aerosol yang mengandung malation 2% atau fenklorfos 2% kadang-kadang juga digunakan untuk fumigasi rumah yang mengandung pinjal. Insektisida smoke bombs yang mengandung permetrin atau tirimifos metal dapat juga digunakan untuk desinfeksi rumah.
Pengendalian pinjal di dalam ruangan terutama ditujukan terhadap pinjal dewasa, baik pada inang maupun diluar inang. Keefektifan insektisida pada pinjal dewasa ternyata bervariasi tergantung jenis permukaan tempat aplikasi. Pada permukaan kain tenun dan karpet, insektisida organofosfat paling efektif, selanjutnya berturut-turut karbamat > pirethrin sinergis > pirethtroid. Penurunan pinjal dewasa dapat mencapai 98% selama 60 hari pada aplikasi semprot campuran 0,25% propetamfos dan 0,5% diazinon microencapsulated.
Upaya pengendalian pinjal di daerah urban pada saat meluasnya kejadian pes atau murinethyphus, diperlukan insektisida dan aplikasi yang terencana dengan baik agar operasi berjalan dengan memuaskan. Pada saat yang sama ketika insektisida diaplikasikan, rodentisida seperti antikoagulan, warfarin dan fumarin dapat digunakan untuk membunuh populasi tikus. Namun demikian, bila digunakan redentisida yang bekerja cepat dan dosis tunggal seperti zink fosfid, sodium fluoroasetat, atau striknin atau insektisida modern seperti bromadiolon dan klorofasinon, maka hal ini harus diaplikasikan beberapa hari setelah aplikasi insektisida. Jika tidak dilakukan maka tikus akan mati tetapi pinjal tetap hidup dan akan menggigit mamalia termasuk orang dan ini akan menongkatkan transmisi penyakit.
Sementara itu, berbagai formulasi insektisida untuk mengendalikan pinjal dewasa pada hewan piaraan telah banyak dipasarkan mulai dari shampoo, spray, bahan dipping (berendam), sabun foam untuk mandi, serbuk bedak, hinggga yang bekerja sistemik seperti spoton untuk aplikasi diteteskan/ tuang langsung ke tubuh hewan inang, collar (kerah/kalung anti pinjal), dan oral berupa tablet oral. Akan tetapi, pemilihan jenis dan formulasi insektisida harus memperhatikan jenis dan unur hewan inang, tingkat investasi C. felis yang terjadi, potensi reinfeksi, perlakuan pengendalian pinjal di lingkungan sekitar hewan juga tingkat resistensi populasi pinjal di sekitar.
Dengan semakin tingginya kesadaran untuk meminimalkan penggunaan insektisida kimia, perhatian pengendalian terutama ditujukan dengan memutus siklus hidup pinjal. Penggunaan bahan pengatur perkembangan serangga (IGR) memunculkan paradigm baru dalam pengendalian pinjal. Paradigm ini berfokus pada pengendalian stadium pra dewasa pinjal dengan aplikasi IGR, baik pada inang maupun lingkungan. Efek kerja IGR dapat berupa penghambatan pembentukan kitin (benzoylphenyl ureachitin siynthesis inhibitors), seperti alsistin, siromazine, diflubenzuron dan lufenuron, atau berupa peniru hormone juvenile (mimic insect juvenile hormone), seperti piriproksifen, fenoksikrb dan metophrene. Kedua jenis IGR tersebut diaplikasikan baik secara kontak maupun sebagai racun perut larva.
Kemampuan beberapa jenis IGR ternyata juga berbeda-beda tergantung pada tahap pra dewasa maupun umur setiap stadium. Metophrene sangat efektif terhadap telur pinjal berumur muda, sebaliknya tidak terhadap telur berumur 24-42 jam pada konsentrasi yang sama. Piriproksipen dan metophrene memiliki efek ovisidal terhadap pinjal dewasa yang kontak dengan hewan yang telah diaplikasikan kedua bahan ini, karena kedua bahan tersebut membunuh tahapan embrio pinjal dalam perut. Hewan yang dimandikan dengan 26 mg metophrene dapat mencegah menetasnya telur pinjal hingga 34 hari. Saai ini telah banyak beredar produk IGR di pasaran baik dalam bentuk shampo, spray maupun collar bahkan oral, yang berupa tablet yang diminumkan pada hewan piara yang bekerja secara sistemik pada darah. Tablet yang mengandung fenuron diberikan sekali sebulan dengan dosis 30 mg/kg berat badan. Maka pinjal betina yang menghisap darah dari kucing akan menghasilkan telur-telur steril selama 2 minggu.



BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Pinjal merupakan insekta yang tidak memiliki sayap dengan tubuh berbentuk pipih bilateral dengan panjang 1,5-4,0 mm dan yang jantan biasanya lebih kecil dari yang betina. Terdiri dari 3 segmen thoraks yang dikenal sebagai pronotum, mesonotum dan metanotum (metathoraks).
2. Pinjal dapat mengganggu manusia dan hewan baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung biasanya berupa reaksi kegatalan pada kulit dan bentuk-bentuk kelainan kulit lainnya. Reaksi ini merupakan reaksi hipersensitifitas kulit terhadap komponen antigenik yang terdapat pada saliva pinjal. Dermatitis ini bisaanya juga diperparah dengan infeksi sekunder sehingga dermatitis yang semula berupa dermatitis miliari, hiperpigmentasi dan hiperkeratinasi dapat berlanjut dengan alopesia difus (kegundulan) akibat penggarukan yang berlebihan.
3. Pengendalian pinjal dapat dilakukan melalui 2 cara yaitu pengendalian pinjal secara mekanik atau fisik dilakukan dengan cara membersihkan karpet, alas kandang, daerah di dalam rumah yang biasa disinggahi tikus atau hewan lain dengan menggunakan vaccum cleaner berkekuatan penuh. Pengendalian pinjal secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida.

DAFTAR PUSTAKA

Soviana, Susi dan Upik Kesumawati Hadi. 2003. Hama Pemukiman Indonesia. IPB unit Kajian pengendalian hama pemukiman fakultas kedokteran hewan. Bogor.
Susanti, M. 2001. Infestasi Pinjal Ctenocephalides felis (Siphonaptera : Pulicidae) Pada Kucing Di Bogor. Bogor : IPB http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/21339/B01dms.pdf?sequence=2. Diakses pada tanggal 20 Mei 2011.
Zentko. 1997. Infestasi Pinjal. http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/10/ jtptunimus-gdl-s1-2008-abdulmutho-483-3-bab2.pdf. Diakses pada tanggal 20 Mei 2011

Hasil penelusuran:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *