Penyakit Gumboro Pada Ayam Masih Menakutkan

Posted on

Menelusuri catatan penyakit di Indonesia, kita akan menemukan bahwa Gumboro sempat menyebabkan outbreak di tahun 1991. Sebelumnya di tahun 1987, strain very virulent infectious bursal disease (vvIBD) menyebabkan outbreak di Eropa. Data terakhir Technical Support Medion selama 2006-2010 memperlihatkan bahwa Gumboro selalu berada di 10 besar penyakit pada ayam pedaging maupun petelur. Hal ini mengindikasikan penyakit ini masih tetap mengintai di sekitar ayam kita.
Di Indonesia, tingkat kesakitan akibat penyakit ini mencapai 100% sedangkan tingkat kematian hingga 30% pada ayam pedaging dan 60% pada ayam petelur (Ignatovic et all., 2003). Meskipun tingkat kematian sudah tidak sebesar dibandingkan 20 tahun yang lalu, tetapi akibat serangan Gumboro efek negatifnya tetap besar yaitu immunosuppressive, sehingga ayam mudah terserang penyakit lain seperti ND atau bahkan AI walaupun ayam telah divaksin dengan baik.
Beberapa faktor yang menyebabkan Gumboro masih sering mengincar di peternakan akan dibahas dalam artikel ini.
  • Sanitasi dan Desinfeksi Kandang yang Tidak Optimal
Penyebaran penyakit Gumboro umumnya terjadi secara horizontal. Oleh karena itu manajemen yang meliputi sanitasi dan biosekuriti sangat berpengaruh. Munculnya kasus Gumboro dipicu dengan perlakuan sanitasi yang kurang tepat, yaitu masih ditemukan adanya sisa-sisa kotoran/tumpukan karung yang berisi feses di sekitar lokasi kandang saat DOC tiba. Seperti kita ketahui bersama, feses merupakan media utama penularan Gumboro. Virus IBD di dalam feses masih infektif hingga 122 hari setelah diekskresikan (dikeluarkan).
Penumpukan feses di sekitar kandang berperan sebagai sumber penularan penyakit Gumboro
(Sumber : Dok. Medion)

Hal lain yang terkadang masih terjadi adalah penyemprotan desinfektan tanpa dilakukan pembersihan kandang terlebih dahulu atau pembersihan tidak optimal (masih terdapat sisa litter/feses di sela-sela kandang). Kondisi ini tentunya akan mengakibatkan kerja desinfektan tidak akan optimal, terutama pada penggunaan Antisep (oxidizing agent). Jenis desinfektan ini kerjanya dipengaruhi oleh materi organik (feses, darah dan lendir).
Virus IBD merupakan virus yang sangat stabil. Virus ini relatif tahan terhadap panas (560C selama 5 jam, 600C selama 30 menit) dan beberapa macam desinfektan. Jenis desinfektan yang tepat untuk mengeliminasi virus IBD yaitu golongan oxidizing agent (kompleks iodium) dan golongan aldehyde (formalin). Produk yang dapat digunakan yaitu Antisep, Neo Antisep atau Formades.

Lakukan pembersihan kandang dengan optimal
(Sumber: Dok. Medion)

  • Minimnya Monitoring Level dan Kesegaraman Antibodi Maternal
Program vaksinasi Gumboro (vaksin aktif) sangat dipengaruhi oleh status antibodi maternal. Vaksin Gumboro aktif yang diberikan ketika antibodi maternal masih tinggi dapat mengakibatkan virus vaksin akan dinetralkan oleh antibodi maternal. Alhasil vaksin yang diberikan tidak mampu memberikan perlindungan secara optimal (De Wit. J.J et all.,).
Mengetahui status antibodi maternal dapat digunakan untuk membantu menentukan jadwal vaksinasi pertama dengan tepat. Selain itu dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk menentukan jenis vaksin yang akan digunakan, jenis intermediate atau intermediate plus. Ketepatan jadwal vaksinasi serta ketepatan pemilihan jenis vaksin merupakan titik kritis yang mempengaruhi keberhasilan vaksinasi. Pengambilan sampel serum untuk pemeriksaan antibodi maternal dilakukan pada umur 1-3 hari.
Pada kenyataannya monitoring antibodi maternal belum secara rutin dilakukan bahkan mungkin belum pernah sama sekali dilakukan. Kendala ini bisa karena ketersediaan laboratorium penguji. MediLab (Medion Laboratorium) menyediakan jasa pengujian titer antibodi maternal Gumboro dengan metode ELISA, hasil uji tersebut akan dilengkapi dengan analisa untuk memperkirakan umur vaksinasi Gumboro pertama.
Peralatan ELISA yang digunakan untuk mengukur status antibodi maternal
(Sumber: Dok. Medion)

  • Aplikasi Vaksinasi yang Kurang Tepat
Aplikasi vaksin Gumboro aktif dilakukan per oral baik secara tetes mulut/ cekok maupun air minum. Aplikasi secara tetes mulut/cekok akan lebih menjamin setiap ayam mendapatkan 1 dosis penuh. Metode aplikasi ini terkait dengan bagaimana virus Gumboro secara alami menginfeksi ayam yaitu secara per oral.
Jumlah virus dalam 1 dosis vaksin Gumboro aktif minimal hanya 102 atau sama dengan 100, bandingkan dengan vaksin ND yang 1 dosis vaksin minimal mengandung 107 atau 10 juta. Bila handling dan aplikasi vaksinasi Gumboro tidak tepat maka jumlah virus yang sampai ke target organ tidak sesuai lagi dengan minimal dosis dan memerlukan waktu yang lebih lama. Akibatnya pembentukan antibodi tidak optimal dan tidak bisa protektif. Praktek di lapangan aplikasi vaksinasi Gumboro masih dominan dilakukan melalui air minum. Meskipun praktis, aplikasi via air minum memiliki kekurangan yang berpeluang menyebabkan hasil vaksinasi tidak optimal karena tidak konsistensinya dosis vaksin yang diterima ayam. Dosis vaksin yang diterima ayam tergantung pada jumlah konsumsi air minum serta terkendala oleh batas waktu vaksinasi dimana 2 jam harus habis terkonsumsi. Beberapa hal lain yang juga menjadi kendala saat vaksinasi air minum, yaitu :
  • Kualitas air tidak sesuai (mengandung logam berat, sadah, pH tidak netral, terkontaminasi bahan kimia seperti desinfektan/klorin)
  • Tempat minum yang berisi vaksin terpapar sinar ultraviolet dari sinar matahari, terlalu dekat brooder sehingga menyebabkan kerusakan virus vaksin
Pastikan tempat minum yang berisi vaksin tidak terlalu dekat dengan brooder
(Sumber: Dok. Medion)

  • Manajemen Brooding yang Tidak Optimal
Periode brooding merupakan periode pemeliharaan dari DOC (chick in) hingga umur 14-21 hari (hingga lepas pemanas). Masa pemeliharaan ini ikut menentukan baik tidaknya performa ayam di masa berikutnya. Apabila terjadi kesalahan manajemen pada periode ini seringkali tidak bisa dipulihkan dan berdampak negatif terhadap performa ayam di fase berikutnya. Hal yang terkait erat dengan keberhasilan vaksinasi yaitu pada masa ini terjadi perkembangan pesat organ kekebalan tubuh ayam.
Pada umur satu minggu perkembangan organ limfoid sudah mencapai 70%. Perkembangan optimal dari organ limfoid ini berkaitan erat dengan penggertakan kekebalan aktif yang akan menggantikan peran kekebalan pasif yang diturunkan dari induk ke anak ayam. Oleh karena itu perlu diingat jika berat badan ayam tidak mencapai standar maka perkembangan organ limfoid pun terganggu sehingga akan berpengaruh terhadap keberhasilan vaksinasi yang dilakukan pada periode ini.
Manajemen brooding yang baik ikut menentukan keberhasilan vaksinasi yang dilakukan di periode ini
(salah satunya vaksinasi Gumboro)
(Sumber: Dok. Medion)

  • Adanya Faktor Immunosuppressant yang Mempengaruhi Keberhasilan Vaksinasi
Faktor lain yang perlu diperhatikan dalam keberhasilan vaksinasi yaitu memastikan tidak ada faktor-faktor yang bersifat immunosuppressant. Vaksinasi Gumboro umumnya dilakukan pada umur akhir minggu pertama atau masuk minggu kedua. Pada umur ini adakalanya mulai terjadi kesalahan manajemen pemeliharaan seperti keterlambatan pelebaran kandang, pembukaan tirai kandang atau penambahan bahan litter. Praktek manajemen yang kurang tepat akan menyebabkan kualitas udara dalam kandang tidak segar, bau amonia mulai muncul. Kondisi ini merupakan faktor pemicu munculnya kasus penyakit terutama penyakit pernapasan seperti CRD atau penyakit pencernaan (koksidiosis). Kedua penyakit ini bersifat immunosuppressant sehingga akan mempengaruhi keberhasilan vaksinasi yang dilakukan.
Pada periode umur satu sampai dengan dua minggu merupakan masa padat vaksinasi, selain vaksinasi Gumboro anak ayam juga menerima vaksinasi yang lain seperti ND (4 hari), IB (4 hari) serta AI (10 hari). Padatnya jadwal vaksinasi ini jika tidak diimbangi dengan manajemen pemeliharaan yang baik akan beresiko menimbulkan stres pada anak ayam. Kita ketahui bersama stres merupakan faktor yang juga dapat menekan keberhasilan vaksinasi. Oleh karenanya menjadi hal penting untuk mempersiapkan anak ayam dalam kondisi optimal saat menerima vaksinasi. Berikan ransum, air minum sesuai kebutuhan dan support dengan pemberian multivitamin (Vita Stress).


Kenali Kembali Penyebab Gumboro

Penyakit Gumboro disebabkan oleh virus IBD yang berasal dari famili (keluarga) virus Birnaviridae dan genus Avibirnavirus. Virus ini memiliki dua serotipe yaitu I dan II. Hanya serotipe I yang patogenik (menimbulkan sakit) pada ayam.
Struktur virus IBD tidak beramplop, berbentuk simetris ikosahedral dan berisi utas rantai RNA (Ribonucleic Acid) (en.wikipedia.org). Virus yang tidak beramplop ini memiliki kelebihan yaitu lebih stabil terhadap perubahan di lingkungan. Virus IBD tetap stabil dalam range pH yang luas (2-8), terpapar enzim proteolitik di usus seperti tripsin dan panas 600C selama 30 menit tetap infektif. MacLachlan dan Stott (2004) juga menyatakan bahwa virus IBD masih bisa ditemukan di kandang yang telah dipanen ayamnya lebih dari 100 hari, di mana jika kandang tersebut tanpa dilakukan desinfeksi.
Penularan virus IBD hanya secara horizontal dengan media penularan utama yaitu feses. Virus IBD di dalam feses masih infektif hingga 122 hari setelah diekskresikan (dikeluarkan) oleh ayam. Sedangkan virus dalam air minum dan ransum ayam masih infektif hingga 52 hari setelah diekskresikan. Tempat minum dan tempat ransum yang terkontaminasi feses dapat juga berperan sebagai media penular. Penularan virus secara vertikal (dari induk ke anak atau via telur tetas) tidak terjadi. Begitupun dengan ayam yang carrier, juga tidak ditemukan sehingga ayam yang sembuh dari Gumboro tidak berpotensi menularkan virus ke lingkungan.
Semua jenis/strain ayam peka terhadap penyakit ini, tetapi yang paling peka adalah ayam petelur terutama yang jantan. Ayam berumur 22-35 hari ternyata paling rentan terhadap serangan Gumboro Dari pemantauan Technical Support Medion 2 tahun terakhir (tahun 2009-2010), pada ayam pedaging umur paling rentan yaitu 22-28 hari, sedangkan pada ayam petelur umur > 35 hari (tahun 2009) dan 22-28 hari (tahun 2010) (Grafik 1 dan 2).

Kerugian Utama Akibat Gumboro
Immunosuppressive menjadi karakteristik yang paling dikhawatirkan dari infeksi Gumboro, selain menyebabkan adanya mortalitas dan morbiditas juga menyebabkan penurunan efisiensi ransum maupun gangguan pertumbuhan. Hal ini dikarenakan virus menyerang sistem kekebalan tubuh ayam khususnya organ bursa Fabricius yang terletak di bagian atas lubang dubur (kloaka) ayam. Dalam kondisi normal, bursa Fabricius mengalami regresi pada awal dewasa kelamin. Bursa Fabricius dapat ditemukan hingga 6 bulan, meski demikian pada umur lebih muda (4-5 bulan) bisa saja organ ini sudah tidak ditemukan karena proses menghilangnya organ ini turut dipengaruhi oleh hormon reproduksi.
Bursa Fabricius merupakan tempat berkumpulnya sebagian besar sel limfosit B yang belum matang (immature). Sel ini akan mengalami pematangan di bursa Fabricius. Selain di bursa Fabricius sel limfosit B juga terdapat di tymus dan limpa dalam jumlah yang jauh lebih sedikit. Limfosit B mature apabila bertemu dengan antigen (bibit penyakit maupun vaksin) akan teraktivasi dan membentuk antibodi sebagai tanggap kebal. Virus Gumboro menyerang sel limfosit B yang belum matang sehingga menyebabkan penurunan jumlah limfosit B matang. Keadaan ini berimbas pada menurunnya jumlah antibodi yang terbentuk (immunosuppressive).
Gumboro klinis ditandai oleh ayam lesu, perdarahan bergaris di otot paha, peradangan dan pembengkakan bursa Fabricius dan pembengkakan ginjal
(Sumber: Dok. Medion)

Pencegahan Kasus Gumboro
1.   Mengoptimalkan masa persiapan kandang
Istirahat kandang minimal 14 hari sejak kandang sudah dibersihkan dan disemprot desinfektan
(Sumber: Dok. Medion)

Optimalisasi masa persiapan kandang dapat membantu mengeliminasi virus Gumboro. Lakukan desinfeksi kandang dengan baik dan benar mulai dari penurunan litter dan pengeluaran feses dari farm. Kemudian kandang disikat, disabun dan dibiarkan beberapa saat hingga kering. Selanjutnya semprot desinfektan dengan Sporades atau Formades.
Sanitasi peralatan kandang (tempat minum, tempat ransum, dsb) dan rendam dengan larutan Neo Antisep atau Sporades minimal selama 30 menit. Simpan peralatan kandang yang sudah disanitasi dalam kandang yang sudah didesinfeksi. Tutup tirai kandang dan istirahatkan selama minimal 14 hari sebelum chick in. Lakukan juga penyemprotan insektisida untuk mengeliminasi kumbang Alphitobius diaperinus dan Carcinops purnilio yang berperan menyebarkan virus Gumboro (vektor).

2.   Evaluasi program vaksinasi
Program vaksinasi Gumboro dipengaruhi oleh :
a)   Jenis dan umur ayam
      Vaksinasi pada ayam pedaging minimal dilakukan 1 kali, sedangkan pada ayam petelur minimal 2 kali vaksinasi.
b)   Level antibodi maternal
      Titer antibodi maternal menentukan umur dan jenis vaksin yang akan digunakan, apakah intermediate (Medivac Gumboro B) atau intermediate plus (Medivac Gumboro A).
c)   Keseragaman antibodi maternal
      Jika tingkat antibodi materal dalam sekelompok ayam uniform (seragam), keberhasilan vaksinasi dapat diperoleh hanya dengan satu kali vaksinasi. Pada kenyataannya sangat sulit untuk mendapatkan tingkat antibodi maternal yang seragam. Pada kelompok ayam dengan antibodi maternal yang tidak seragam, untuk mendapatkan hasil vaksinasi yang seragam diperlukan vaksinasi lebih dari satu kali (pengulangan vaksinasi).
d)   Keganasan virus Gumboro lapangan dan waktu outbreak
      Pada daerah yang rawan serangan pada umur < 3 minggu atau di atas 3 minggu dengan kematian lebih dari 5%, lakukan vaksinasi pada umur 7 hari menggunakan vaksin intermediate plus (Medivac Gumboro A). Sedangkan untuk daerah yang rawan pada umur > 3 minggu dengan kematian kurang dari 5%, lakukan vaksinasi umur 10-14 hari menggunakan vaksin intermediate (Medivac Gumboro B).

Aplikasi vaksin juga mempengaruhi keberhasilan vaksinasi. Untuk ayam dengan umur < 7 hari sebaiknya aplikasi vaksin Gumboro dilakukan secara tetes mulut mengingat konsumsi air minum pada umur tersebut belum optimal. Sedangkan pada umur > 7 hari bisa dilakukan melalui tetes mulut maupun air minum. Pastikan dosis yang diterima ayam sesuai dan seragam.

Contoh Program Vaksinasi Gumboro
Program ini hanya sebagai petunjuk umum dan dapat disesuaikan dengan kondisi di peternakan.
Tabel 1. Program Vaksinasi pada Ayam Pedaging

Tabel 2. Program Vaksinasi pada Ayam Petelur


Keterangan : * dan ** (lihat pada penjelasan poin d)

Produk vaksin aktif Medion.
Medivac Gumboro A dan Medivac Gumboro B

Terlanjur Terserang Gumboro, Tindakan Apa yang Dilakukan

Kejadian kasus Gumboro di lapangan bisa murni maupun komplikasi, mengingat penyakit ini bersifat immunosuppressive. Dari data Technical Support Medion tahun 2009-2010 menunjukkan kasus Gumboro pada ayam pedaging paling sering berkomplikasi (3 tertinggi) dengan CRD, CRD kompleks dan ND. Sedangkan pada ayam petelur dengan ND, koksidiosis dan CRD. Berikut tindakan yang perlu dilakukan jika ada kasus Gumboro :

  • Therapy supportive
Berikan air gula 2-5% (20-50 gram per liter air minum) untuk memulihkan stamina ayam. Tambahkan multivitamin atau multivitamin plus anti stres (Vita Stress). Selain itu berikan juga antibiotik untuk mengatasi infeksi sekunder bakteri. Pemilihan antibiotik perlu dilakukan dengan benar karena kasus Gumboro dapat menyebabkan kebengkakan ginjal, sehingga kita perlu pilih antibiotik yang tidak menimbulkan efek samping memperparah kerja ginjal (misal: Neo Meditril, Koleridin atau Doxytin). Jika kondisi ginjal mengalami kebengkakan dan peradangan maka therapy supportive yang diberikan yaitu air gula dan Gumbonal. Pemberian Gumbonal akan mengurangi angka kematian pada kasus Gumboro akibat pembengkakan ginjal, pengobatan infeksi sekunder dan antiseptik di saluran kemih.

  • Isolasi, desinfeksi dan jika memungkinkan pengeluaran feses
Penyakit Gumboro sangat mudah menular dengan tingkat morbiditas (kesakitan) mencapai 100%. Tingginya tingkat morbiditas ini ditunjang dengan adanya ayam sakit yang terus mengeluarkan partikel virus serta keberadaan virus di feses. Oleh karena itu, lakukan pemisahan ayam yang sakit.
Lakukan penyemprotan desinfektan untuk menekan populasi virus di kandang dan lingkungan kandang. Pilih desinfektan yang aman untuk ayam dan efektif untuk membunuh virus Gumboro, seperti Antisep atau Neo Antisep.

Meskipun ancaman Gumboro tetap mengincar, namun membebaskan farm kita dari serangan Gumboro akan menjadi mungkin jika kita mengenal faktor penyebab munculnya Gumboro. Langkah selanjutnya kita lakukan upaya yang optimal, meliputi program pencegahan yang ketat (vaksinasi, sanitasi kandang dan lingkungan kandang). Semoga informasi ini bisa membantu Anda dalam menekan kasus Gumboro.

Info Medion Edisi Mei 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *