JAGUNG

Posted on

Suatu kebahagiaan tiada tara bagi petani apabila cucuran keringatnya membuahkan hasil. Lahan yang mereka olah, kemudian ditanami, dan dirawatnya selama beberapa bulan, akhirnya panen sudah di depan mata. Itu benar-benar lantaran peluh mereka sendiri. Bukan kerja akal-akalan yang merugikan banyak pihak. Seperti yang nampak pada gambar, jagung yang montok-montok siap dipetik.

Jagung merupakan tanaman semusim yang umurnya antara 80hari–150hari, tingginya antara 1m–3m, berakar serabut, berbatang tegak beruas-ruas, berdaun sempurnya berbentuk memanjang, memiliki bungan jantan dan bunga betina yang terpisah. Tanaman ini berasal dari Meksiko bagian selatan (Amerika Tengah) yang dapat tumbuh baik di daerah beriklim tropis (panas) maupun subtropis (setengah panas) pada ketinggian 0m–1.500m di atas permukaan laut. Jagung ditanam pada lahan kering di ladang (tegalan) maupun di sawah ketika musim kemarau atau sawah yang airnya sudah hampir tidak ada lagi. Ada pula yang ditanan di lahan babadan, yakni lahan hutan produksi milik Perhutani yang telah ditembang pepohonannya (misalnya pada hutan jati), kemudian sebelum ditanami bibit yang baru, ditanami jagung terlebih dahulu. Biasanya hal tersebut merupakan bentuk kemitraan antara Perum Perhutani dengan masyarakat sekitar hutan. Tanaman jagung dapat hidup di berbagai jenis tanah, asal tidak memiliki kandungan air yang berlebihan.

Jagung menurut klasifikasi tumbuhan berdasarkan kebutuhan air, termasuk mesofit. Sedang menurut kelas vegetasi dalam biosfer, termasuk dalam biocycle daratan. Tanaman jagung yang banyak dikembangkan di Indonesia memiliki biji berwarna putih dan kuning. Sebagian kecil berwarna kuning keunguan dan ungu kemerahan.

Jagung sebagai sumberdaya alam; berdasarkan lokasi/letaknya, jagung termasuk sumberdaya alam di permukaan Bumi yang berupa daratan (sumberdaya terestrial). Berdasarkan kemungkinan pengolahannya, jagung termasuk sumberdaya alam yang dapat diperbaharui (renewable resourcess). Berdasarkan sifatnya, jagung termasuk sumberdaya alam hayati (biotik). Menurut derajat nilai ekonomisnya, jagung termasuk sumberdaya alam bernilai ekonomis karena memiliki harga, dapat diperjual-belikan, dan dalam proses pengolahannya memerlukan biaya dan teknologi tertentu. Sedangkan menurut pemanfaatan sumberdaya alamnya, jagung termasuk sumberdaya alam pertanian pada lahan kering, baik pada pertanian ladang tetap maupun ladang berpindah.

Jagung merupakan makanan pokok sebagian penduduk, di samping padi, gandum, dan sagu. Menurut Bagja Waluya (2007:116) “jagung merupakan makanan pokok sebagian penduduk yang tinggal di Madura, Nusa Tenggara Timur, dan Minahasa. Daerah persebaran jagung di Indonesia antara lain Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat”. Menurut pengamatan “nuansa masel” daerah sentra jagung di Provinsi Jawa Timur adalah Kabupaten Kediri, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang. Khusus di Kabupaten Kediri dan Nganjuk, sejauh mata memandang, jagung merupakan tanaman yang mendominasi lahan pertanian penduduk. Bahkan di Pare, ibukota Kabupaten Kediri terdapat sebuah bangunan besar di antara lahan pertanian jagung. Menurut penuturan, bangunan tersebut sedianya digunakan untuk pabrik pengolahan minyak jagung yang kemudian urung beroperasi.

Di samping sebagai makanan pokok, jagung dalam kehidupan sehari-hari bermanfaat sebagai sumber karbohidrat, pakan ternak (baik hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya, dibuat tepung (tepung maizena), bahan baku industri, bahan baku furfural, dan untuk bahan farmasi (untuk jagung yang telah direkayasa genetikanya).

Keterangan gambar:
Dokementasi pribadi pada obyek tanaman jagung di ladang jagung wilayah Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang. Jagung tersebut merupakan jagung varietas unggul dengan dua tongkol. Sebelum dipanen, jagung yang telah tua dipotong dahulu bagian atasnya, hingga tinggal batang dengan dua tongkol yang sudah mulai mengering. Cara ini dipakai untuk membantu proses pengeringan biji jagung dan sekaligus untuk memudahkan proses pemanenan. Sementara proses pengeringan berlangsung, di antara pangkal batang jagung sudah tumbuh tanaman pertanian yang baru. Dengan demikian lahan pertanian ini tak sempat terbengkelai. Sesudah jagung dipetik, tanaman baru tersebut telah tumbuh dan berkembang. Biasanya jenis tanaman tersebut adalah lombok.

Sumber:
1. Waluya, Bagja. 2007. Memahami Geografi SMA/MA Jilid 2. Bandung: Armico.
2. Wardiyatmoko, K. 2004. Geografi SMA Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
3. Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. Situs: http://id.wikipedia.org/wiki/Jagung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *