GUNUNG ARJUNO

Posted on

Namanya mengingatkan pada seorang tokoh pewayangan dari keluarga Pandhawa. Dia adalah anak ketiga (penengah) dari lima bersaudara, keturunan raja Pandhu Dewanata. Arjuna (baca: Arjuno) digambarkan sebagai seorang ksatria tampan yang berpenampilan lemah-lembut, sehingga banyak wanita yang mabuk kepayang kepadanya. Ksatria ini sangat mahir memanah. Senjata andalannya sebuah panah yang disebut panah Pasopati. Dia sering berpasangan dengan saudara misannya, raja nDwarawati, Kresna namanya yang juga punya panah andalan bernama Cakra. Lantas pertanyaannya, apakah nama gunung yang gambarnya tertera di atas ada hubungannya dengan tokoh pewayangan tersebut? Wallahu a’lam.

Jelasnya gunung Arjuno (3.239m) merupakan sebuah gunung berapi yang saat ini berada pada fase dorman bersama gunung yang satu rangkaiannya di sebelah barat lautnya, gunung Welirang (3.156m). Fase dorman adalah fase tidak aktifnya gunung Arjuno dan gunung Welirang dari kegiatan vulkanisme. Kedua gunung tersebut sudah tidak lagi menunjukkan letusan-letusan dan sejenisnya. Justru nampaknya sudah mengarah pada gejala-gejala pos vulkanismus, yakni gejala-gejala yang mengarah akan matinya aktifitas kegunungapian dari sebuah gunung. Ini dapat diidentifikasi dengan keluarnya gas belerang (solfatar) pada kawah utama dan berbagai celah di gunung Welirang. Sedang pada gunung Arjuno sendiri kabarnya pernah ada penelitian tentang panas Bumi (geothermal) yang dilakukan oleh tim dari Selandia Baru. Konon bila memungkinkan akan dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga geothermal. Namun rupanya tidak ada tindak lanjutnya. Mungkin bila diusahakan tidak ekonomis.

Gunung Arjuno, juga gunung Welirang terletak di sebelah barat laut Kota Malang yang menjadi batas alam antara Kabupaten Malang dengan Kabupaten Pasuruan di bagian utara. Di samping itu juga menjadi batas wilayah antara Kabupaten Malang dengan wilayah pemekarannya, Kota mBatu di sebelah utara agak ke barat laut. Sebagai vulkan tentu gunung Arjuno memiliki tanah yang subur. Didukung ketinggiannya, gunung ini memiliki variasi iklim lokal yang graduatif, sehingga juga memiliki variasi vegetasi yang beragam. Terlebih kaki gunungnya yang sebelah utara berhadapan langsung dengan dataran pantai selat Madura. Jarak terdekatnya hanya sekitar 12km. Daerah zona panasnya banyak dibudiyakan tanaman padi, jagung, kelapa, kopi, dan yang khas adalah tanaman randu. Tanaman randu ini terutama banyak diusahakan penduduk di daerah Sukorame, Purworejo, dan Purwodadi Kabupaten Pasuruan. Kapuk dari buah randu banyak dimanfaatkan penduduk setempat sebagai bahan baku industri kerajinan kasur, bantal, dan sejenisnya. Daerah yang masuk zona sedang di wilayah kecamatan Lawang Kabupaten Malang ditemukan adanya perkebunan teh. Sedangkan hutan yang mendominasi bagian gunung Arjuno yang berketinggian antara 1.500m–2.500m didominasi oleh tumbuhan berdaun jarum. Pinus dan cemara merupakan merupakan vegetasi yang mudah ditemukan. Bagian atas gunung Arjuno yang berketinggian di atas 2.500m sampai 3239m didominasi oleh padang rumput yang diselingi semak-belukar kerdil. Menurut pembagian iklim Koppen, puncak gunung Arjuno ini termasuk bertipe iklim Cw, yakni iklim hujan sedang (mesothermal humid) dengan musim dingin (winter) yang kering. Perlu diketahui di lereng gunung Arjuno yang bersambung ke gunung Welirang, bahkan juga ke gunung Penanggungan terdapat Cagar Alam “Lalijiwo”. Sedang di kaki bagian timur terdapat Kebun Raya Purwodadi yang menyimpan aneka ragam vegetasi tropis. Di samping itu, terdapat pula taman safari yang terletak di Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan.

Menurut R.W. Van Bemmelen (1948:570–571) bahwa gunung Arjuno merupakan gunung berapi yang masuk dalam kompleks gunung berapi Anjasmoro-Arjuno-Kelut-Kawi-Kawi-Butak. Deskripsinya dalam terjemahan bahasa Indonesia sebagai berikut:

Gunung Anjasmoro adalah bagian tertua dari kompleks gunung berapi di zona Solo. Kaki gunung kelompok ini membentuk lapisan Jombang dari zona Kendeng. Duyfjes (1938, halaman 55) berpendapat bahwa lapisan Jombang terbentuk pada Pleistosen Tengah teratas. Namun, tidak ada alasan bersifat koersi (memaksa) untuk berumur era Pleistosen tengah; sebagaimana mereka berhasil secara pasti bahwa lapisan Kabuh berumur pleistosen tengah kita mengutamakan untuk menganggap mereka, sementara itu, sebagai Pleistosen Atas, seperti breksi Notopuro yang lebih jauh di Barat.

Blok gunung berapi Anjasmoro rusak tidak teratur dan secara bersamaan terjadi lipatan tidak keras dari lapisan Jombang berlangsung di delta Brantas (antiklinal-antiklinal Jombang, Pojok, Watudakon, Sekarputih, Kedungwaruh dalam lembar 110 (Mojokerto) dan 116 (Sidoarjo); Duyfjes, 1938 c & d).

Tidak ada studi rinci telah membuat hubungan antara blok sesar ini pada satu sisi (ketegangan gerakan) dan lipatan di lain (kompresi gerakan); tetapi hubungan mereka saling sebagai pelengkap efek gravitasi tektogenesis tampaknya cukup memungkinkan.

Berikutnya dalam usia yang lebih tua dari Gunung Arjuno; puncak Arjuno tua ini mungkin adalah gunung Ringgit.

Bagian tertinggi dari gunung berapi Ringgit ini meluncur ke utara, membentuk lipatan di kakinya, Bangil-Raci antiklinal. Sebagian Gawir sesar meluncur terkena di punggungan Alas.

Tentang keruntuhan Arjuno kelompok penulis 1937 c, hal. 164) mengatakan:

“Gunung ini adalah dibangun di perbatasan selatan geosinkline Utara Jawa, dimana geosinklin ini dilewatkan ke dalam geantiklin bagian selatan pulau Jawa. Gunung ini, oleh karena itu, beristirahat di atas laut, dan sedimen neogen terdiri atas empat lebih tua dari geosinklin ini, yang dengan cepat meningkat dalam ketebalan di utara. Pada pra-miosen awal permukaan di bawah gunung ini memiliki inklinasi kuat ke utara atau bahkan tanah bungkuk (fleksur) yang rata.

Tanpa memperhatikan badan ini buruk, gerakan vulkanik yang dibangun gunung berapi, meningkatkan beban pada badan yang plastis. Bagian utara terpecah sepanjang celah sesar yang bersifat melengkung dan meluncur ke bagian-bagian yang lebih dalam dari geosinklin di utara. Sepanjang retakan ini aktifitas vulkanik diteruskan, membangun kerucut muda kelompok Arjuno-Welirang, yang saat ini, sebagian balur yang mendasari zona retakan.

Di kaki utara gunung longsor ke utara ini menyebabkan kompresi dari lapisan geosinklinal, yang menjelaskan asal-usul antiklin Bangil. Antiklin ini lebih muda dari breksi-breksi Arjuno tua dan lebih tua dari yang lebih muda. Dengan demikian, pemberian tekanan yang bertepatan dengan ketegangan patahan kelompok Arjuno di selatan itu.

Asal-usul serentak ini menunjukkan hubungan genetik antara kompresi (lipatan) di utara geosinklinal dataran rendah dan ketegangan patahan yang tergelincir di selatan dataran tinggi vulkanik. Demikian sesuai proses tektonik serempak sebagai ekspresi yang melengkapi berkaitan dengan gravitasi tektogenesis”.

Di ujung barat antiklin ini gunung berapi muda berukuran kecil Penanggungan terbentuk (dijelaskan oleh Kuenen 1935 b, dan d Duyfjes 1938). Gunung ini mungkin berhubungan dengan sesar melintang ke utara yang meluaskan lengan lengkung dari sesar Alas, membatasi antiklin Bangil ke barat. Dalam hal ini posisinya sebanding dengan gunung berapi Baluran di timurlaut yang memperpanjang lengan keretakan lengkungan besar melalui gunung tua Ijen, ditandai dengan gunung Raung-Merapi dari barisan gunung berapi.

Dengan antiklin Bangil-Raci dimulai serangkaian fitur kompresi yang terbentuk pada akhir Plestosen sepanjang pantai utara timur Jawa (misalnya struktur Ringgit-Beser).

Kelut, Kawi, Butak adalah kelompok gunung yang strukturnya lebih muda, terutama masa Holosen, menutupi struktur vulakanik yang lebih tua (masa pleistosen atas), mengubur juga sebagian lereng dari gunung-gunung ke arah selatan.

Saat ini, sebagaimana daerah gunung berapi yang subur, gunung Arjuno menjadi salah satu konsentrasi penduduk yang setiap tahun terus meningkat. Tidak hanya meningkat jumlah penduduknya itu sendiri, tetapi juga jumlah bangunan, serta ketinggian tempat yang dicapai untuk aktifitas mereka. Bangunan-bangunan mewah bertingkat semakin mendaki lereng curam menggeser hutan pinus yang multi fungsi itu. Selain itu, petani yang lapar lahan terus mengubah lereng tersebut menjadi lahan pertanian. Fenomena itu hampir merata di sekeliling gunung, tidak terkecuali di Kota mBatu.

Sumber:

  1. Ma’mur Tanudidjaja, Moh. dan Kartawidjaja. 1986. Penuntun Pelajaran Geografi. Bandung: Ganeca Exact.
  2. Marbun, M.A. 1982. Kamus Geografi. Jakarta Timur: Ghalia Indonesia.
  3. Nianto Mulyo, Bambang dan Suhandini, Purwadi. 2004. Kompetensi Dasar Geografi 1. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
  4. Sandy, I Made. 1982. Atlas Indonesia. Jakarta: P.T. Dhasawarna dan Jurusan Geografi – FPIA – UI.
  5. Van Bemmelen, R.W. 1948. The Geology of Indonesia Vol. 1A General Geology of Indonesia and Adjacent Archipelaoes. Batavia
  6. Wardiyatmoko, K. 2006. Geografi untuk SMA Kelas X. Ciracas, Jakarta: Erlangga.
  7. —-. 1993. Atlas Dunia untuk SD, SMTP & SMTA. Jakarta: Pustaka Amani.

Situs Internet:

Bing Translator

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *