Cara Mengetahui Ayam terserang ND, Flu Burung atau Infeksi bronchitis?

Posted on

Salah satu tujuan dari peternakan ayam petelur adalah mendapatkan produksi telur yang optimal. Namun bagaimana bila terdapat gangguan penurunan produksi telur? Tentu hal ini akan menurunkan tingkat produksi. Banyak faktor yang harus dievaluasi terhadap penyebab penurunan produksi telur tersebut diantaranya pakan, kondisi lingkungan, stres, kualitas ayam saat masa starter, grower atau setelah memasuki fase produksi serta penyakit.
Berbicara mengenai penyakit viral yang dapat menurunkan produksi telur, yang paling sering adalah ND (Newcastle disease), IB (infectious bronchitis), AI (avian influenza) dan EDS (egg drop syndrome). Dari hasil pengumpulan data di lapangan sebanyak 2428 kasus penyakit pada ayam layer di tahun 2009, ND, IB dan AI menunjukkan persentase masing-masing 10,63%, 2,84 % dan 1,85 %.
Tabel 1. Ranking penyakit pada ayam layer tahun 2009
Sumber : Data Technical Service Medion, 2009

Berdasarkan pengamatan di lapangan, memang relatif sulit membedakan kasus ND, AI maupun IB. Hal ini dikarenakan adanya gejala klinis maupun perubahan patologi anatomi yang relatif sama antara ketiga penyakit tersebut. Terlebih lagi kita dibingungkan dengan isu penyakit tertentu misalnya AI sehingga persepsi diagnosa kita mengarah ke AI meski bisa saja kasus yang terjadi adalah ND. Agar tidak terjadi kesalahan dalam mendiagnosa ND, AI maupun IB maka perlu dipelajari gejala-gejala penyakitnya secara detail.
Dalam mendiagnosa penyakit maka yang perlu dilakukan adalah mengumpulkan data-data berupa anamnesa, gejala klinis, serta perubahan patologi anatomi (bedah bangkai) dan juga uji laboratorium jika diperlukan.
1.   Anamnesa
Keterangan dari peternak merupakan informasi penting untuk mengarahkan diagnosa. Keterangan yang diperlukan antara lain umur dan tipe ayam, persentase kematian, lamanya penularan penyakit, sejarah vaksinasinya, kasus penyakit pada periode pemeliharaan sebelumnya, dll.
Pengamatan terhadap pola penularan penyakit dapat memberikan gambaran diagnosa. Menurut Tabbu (2002), pada infeksi alami leleran hidung yang mengandung virus ND akan dibebaskan dari ayam sakit sebagai akibat replikasi virus tersebut di dalam saluran pernapasan. Virus ND yang diekskresikan (dikeluarkan,red) bersama feses akan menyebar dengan lambat, terutama jika ayam tidak kontak secara langsung dengan ayam sakit. Masa inkubasi (waktu mulai bibit penyakit menginfeksi sampai munculnya gejala klinis) berkisar antara 2-15 hari dan rata-rata 5-6 hari.
Virus AI ditularkan dengan kontak langsung dari unggas peka melalui leleran hidung, konjungtiva dan feses. Penularan juga dapat terjadi secara tidak langsung seperti melalui debu, ransum, air minum maupun peralatan kandang yang terkontaminasi oleh virus AI. Masa inkubasi sangat cepat yaitu berkisar beberapa jam sampai 3 hari.
Masa inkubasi pada kasus IB hampir mirip dengan AI yaitu berkisar antara 18-36 jam. Penularan dapat terjadi melalui leleran hidung ataupun feses ayam yang sakit.
Penyakit ND, AI maupun IB dapat menunjukkan angka kematian tinggi. Pada kasus ND dan AI, dapat menyebabkan kematian hingga 90–100 % . Terlebih lagi jika ayam belum pernah divaksin AI, maka kematian drastis dan bahkan mencapai 100 % dalam waktu 3 hari. Sedangkan anak ayam yang terserang IB, tingkat kematian berkisar 0-40%, berbeda dengan ayam fase produksi yang mencapai 25%. Namun, banyaknya tingkat kematian tersebut juga dipengaruhi oleh jumlah maupun tingkat keganasan virus tantang yang ada di lapangan.
2.   Gejala Klinis
     a.  Penurunan produksi telur
Permasalahan yang paling terlihat nyata pada peternakan ayam layer yang sudah memasuki masa produksi adalah terjadinya penurunan produksi telur. Namun untuk mendiagnosa tidak hanya semata-mata berdasarkan penurunan produksi telur. Tetapi juga dari segi penurunan kualitas telur . Ketiga penyakit viral tersebut dapat menunjukkan warna telur yang pucat hingga berwarna putih dan terkadang kerabangnya tipis maupun lembek.

                                                                                                                (a)                                                 (b)
Kerabang telur pucat (a); putih telur encer spesifik penyakit IB (b)
(Sumber :
www.theranger.co.uk & Dok. Medion)

Serangan penyakit IB mampu menurunkan produksi telur hingga 60% dalam waktu 6-7 minggu. Penurunan produksi telur selalu diikuti dengan penurunan kualitas telur seperti gangguan bentuk telur, kerabang lembek dan cairan albumin (putih telur) lebih encer daripada biasanya. Putih telur yang encer merupakan ciri spesifik dari penyakit IB. Selain putih telur encer, terkadang juga ditemukan darah di dalam albumin atau kuning telur (blood spot). Sedangkan penurunan produksi pada AI dapat mencapai 80% dan ND bisa mencapai 100% dalam waktu cepat.


     b. 
Feses (kotoran ayam)

Feses juga bisa memberikan rambu untuk mengarahkan penyakit, namun tidak terlalu spesifik. Pada kasus AI, warna feses cenderung hijau pupus yang kadang disertai darah dan lendir yang dominan sehingga bentuknya seperti pasta dan menempel pada pantat. ND cenderung menunjukkan manifestasi feses berwarna hijau lumut campur keputihan dan biasanya lebih encer jika dibandingkan pada kasus AI. Tetapi yang perlu dicatat, jika peternak tidak biasa mengamati perubahan feses tersebut maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut karena pengamatan feses ini tidak bisa dijadikan patokan utama untuk menyimpulkan diagnosa.

                                                                  (a)                                             (b)
Feses berwarna hijau dan bercampur lendir pada kasus AI (a);
feses berwarna hijau campur warna keputihan dan cenderung encer pada kasus ND (b)
(Sumber : Tony Unandar)

     c.  Gejala tortikolis (leher terpuntir)
Gejala tortikolis selama ini identik dengan diagnosa ND sehingga penyakit ND sering disebut dengan istilah “tetelo”. Namun jika ditelaah lebih lanjut, tidak selamanya gejala tersebut spesifik mencirikan ND. Pada beberapa kasus AI dapat ditemukan pula kejadian tortikolis meskipun presentasinya sedikit. Gejala tortikolis ini juga spesifik pada serangan penyakit AE (Avian Enchephalomyelitis) dan SMS (Spiking Mortality Syndrome) namun sering disertai dengan tremor (gemetar,red) seluruh tubuh.


     d. 
Gejala pernapasan

Ketiga virus penyebab penyakit ND, AI dan IB selain menyerang saluran reproduksi, juga menyerang saluran pernapasan Manifestasi yang nampak adalah adanya gangguan pernapasan seperti ngorok, bersin, batuk, megap-megap, kesulitan bernapas maupun keluarnya leleran lendir dari hidung ataupun mulut.
3.   Perubahan Patologi Anatomi

     a.  Saluran pernapasan

Pengamatan perubahan patologi anatomi pada saluran pernapasan, akan terlihat lebih spesifik pada kasus IB dimana peradangan terjadi pada bronchus (percabangan trachea,red). Pada kasus ND terkadang menunjukkan gejala pernapasan namun tidak terlalu spesifik. Sedangkan AI, biasanya ditemukan ingus/lendir kental dalam jumlah banyak pada saluran pernapasan maupun rongga mulut sehingga ayam mengalami kesulitan dalam mengambil oksigen.
Pneumonia (radang paru-paru,red) menjadi ciri spesifik AI. Pneumonia ini mengakibatkan kurangnya kadar oksigen di dalam sistem sirkulasi darah sehingga gejala yang muncul jengger, muka dan pial akan tampak berwarna kebiru-biruan. Peradangan yang terjadi pada kasus AI lebih bersifat echimosa yaitu tipe perdarahan dalam bentuk bintik-bintik merah dengan ukuran yang tidak sama besar.
                                                                        (a)                                      (b)
                                                                      (c)                                         (d)
Lendir berlebihan pada saluran pernapasan (a); peradangan laryng (b);
trachea (c); paru-paru (d) pada kasus AI
(Sumber : Dok. Medion & Tony Unandar)

      b. Lemak jantung

ND dan AI sering menunjukkan perubahan berupa adanya perdarahan pada lemak jantung. Sedangkan pada IB tidak akan menunjukkan gejala perubahan ini. Jika dilihat dari peradangan di lemak jantung, tidak ada yang spesifik untuk membedakan kedua jenis penyakit tersebut.


      c.
Proventrikulus

Proventrikulus menghasilkan asam klorida (HCl) yang berperan dalam membantu proses pencernaan sehingga kondisi proventrikulus menjadi asam. Pada kasus AI, perdarahan lebih terjadi di proventrikulus bagian depan dan cenderung pada perbatasan proventrikulus dan oesophagus (kerongkongan,red). Hal ini dikarenakan virus AI memiliki sifat tidak tahan asam. Jika ND yang menyerang maka besar kemungkinan peradangan terjadi pada puncak/bintik-bintik proventrikulus, namun ketika serangan sudah parah maka peradangan bisa menyeluruh pada proventrikulus.
                                   (a)                                         (b)
Peradangan pada perbatasan proventrikulus & esophagus kasus AI (a),
puncak proventrikulus kasus ND (b)
(Sumber : Dok. Medion)


      d. Usus

Usus terbagi menjadi usus halus, usus besar dan usus buntu. Usus tersebut merupakan organ pencernaan dimana bakteri patogen dan non patogen dapat tumbuh dengan mudah. Hampir semua jenis penyakit pada ayam menunjukkan adanya peradangan pada usus baik ringan maupun berat. Bahkan pada ayam yang tidak mau makan atau ukuran pakan yang terlalu besar juga dapat menyebabkan peradangan di usus.
Ciri spesifik ND adalah adanya peradangan pada peyer patches (lempeng peyer,red) yang disertai peradangan pada proventrikulus. Terjadinya perdarahan di usus memang agak relatif sulit dibedakan antara ND, AI ataupun dengan penyakit bakterial.
(a)
(b)
Peradangan pada usus (a); peradangan pada lempeng peyer kasus ND (b)
(Sumber : Dok. Medion)

      e. Organ reproduksi

Adanya penurunan produksi telur erat kaitannya dengan organ reproduksi. Terjadinya gangguan pada salah satu bagian organ maka manifestasinya berbeda pula.
Organ reproduksi ayam betina
(Sumber : Dok. Medion)
Keterangan gambar :
01. Ovarium 
02. Infundibulum 
03. Magnum 
04. Istmus
05. Uterus
06. Vagina
07. Oviduct kanan
08. Ureter
09. Kloaka

Gejala putih telur encer pada IB memang diakibatkan oleh kerusakan pada oviduct (saluran telur) di bagian magnum. Magnum merupakan tempat dimana terjadi proses pembentukan albumin (putih telur, red).
Berbeda halnya dengan ND dan AI, dimana virus tersebut menyerang pada bagian ovarium/ calon kuning telur. Terkadang kuning telur mengalami pengecilan ukuran, selaput telur membengkak serta mengalami perdarahan.
                            (a)                                                                  (b)
Peradangan pada ovarium kasus AI (a); cystic oviduct kasus IB (b)
(Sumber : Dok. Medion)

Apabila organ reproduksi tersebut parah maka manifestasinya adalah penurunan produksi telur yang drastis serta relatif sulit untuk disembuhkan kembali. Pada beberapa tahun terakhir ini, manifestasi IB sering berupa cystic oviduct dimana terdapat penimbunan cairan bening dengan volume hingga 1,5 liter di oviduct.
Dari anamnesa, gejala klinis maupun perubahan patologi anatomi yang jelas dan spesifik, kita dapat menyimpulkan diagnosa penyakit yang sedang menyerang. Sehingga kita sudah dapat mengambil langkah yang tepat. Sebagai contoh, apabila data-data yang dikumpulkan mengarah ke kasus ND maka kita dapat segera melakukan revaksinasi darurat dengan Medivac ND Clone 45.Jika ayam terindikasi IB maka dapat segera dilakukan revaksinasi menggunakan Medivac IB H-120. Namun yang perlu diingat, revaksinasi sebaiknya dilakukan pada ayam-ayam yang terlihat masih agak sehat. Sedangkan pada ayam-ayam yang sudah parah sebaiknya diafkir. Setelah dilakukan revaksinasi darurat, perlu diberikan vitamin seperti Vita Stress atau Fortevit guna meningkatkan stamina ayam serta membantu pemulihan kesehatan. Yang tidak boleh terlupakan adalah tetap memperketat biosekuriti serta mengurangi faktor penyebab stres pada ayam.
Medivac ND Clone 45 untuk vaksinasi pertama, revaksinasi dan vaksinasi darurat.
(Sumber : Dok. Medion)

Pada beberapa kasus di lapangan, meskipun sudah dilakukan pencarian data meliputi riwayat kasus, gejala klinis, perubahan patologi anatomi, namun belum ada yang spesifik untuk mengindikasikan suatu penyakit. Dalam menghadapi kondisi yang demikian, maka diperlukan data pendukung berupa uji serologi. Uji yang dilakukan berupa HI Test (Haemagglutination Inhibition Test) atau ELISA (Enzym Linked Immunosorbent Assay). SampeI yang digunakan untuk uji serologi ini adalah serum sebanyak 0,5 % dari total populasi atau minimal 15-20 sampel tiap flok. Tujuan uji HI test atau ELISA tersebut adalah untuk mengetahui gambaran titer antibodi dalam tubuh ayam sehingga terdapat kemungkinan gambaran titer yang terbaca merupakan indikasi adanya virus tantang di lapangan.
Dalam beberapa kasus di ayam broiler, ayam tidak menunjukkan gejala klinis maupun perubahan patologi anatomi namun dalam 3 hari kematian mencapai 90%. Ketika dilakukan uji serologi HI test terhadap AI, semua sampel tidak menunjukkan adanya titer antibodi dan ayam belum pernah divaksin. Dalam menyimpulkan data-data seperti ini, peternak pun terkadang masih ragu apakah diagnosa tersebut AI. Namun jika dilihat dari tingkat kematian, diagnosa bisa mengarah ke AI.
Untuk mengetahui secara pasti virus penyebab sakit tersebut, dapat dilakukan uji PCR (Polymerase Chain Reaction) dimana pada uji ini berfungsi untuk mendeteksi ada tidaknya virus di dalam tubuh ayam. Uji PCR menggunakan sampel berupa organ ayam yang mengalami perubahan patologi anatomi, swab (usap,red) trachea atau kloaka. Sampel yang akan diuji tidak boleh dicuci dengan menggunakan desinfektan karena virus akan mati. Hasil dari uji PCR ini dapat digunakan sebagai pedoman dalam perbaikan manajemen dan kesehatan ayam pada pemeliharaan berikutnya.

Mengapa Harus Tepat Diagnosa?
Terkadang banyak peternak mengeluhkan karena meskipun sudah diobati ataupun dilakukan revaksinasi darurat, namun produksi tidak kunjung pulih padahal juga sudah didukung dengan biosekuriti yang ketat. Hal tersebut bisa saja terjadi karena adanya kesalahan diagnosa penyakit.
Ketika gejala-gejala adanya infeksi penyakit ditangani sedini mungkin maka tidak menutup kemungkinan produksi dapat pulih kembali. Pada beberapa kasus ND proses recovery (pemulihan,red) produksi telur memerlukan waktu yang relatif lebih singkat dibandingkan proses recovery pada kasus IB meskipun produksi tidak seoptimal seperti sebelumnya.
Selain untuk mendapatkan penanganan yang tepat, manfaat lain dari diagnosa yang benar ini dapat dijadikan sebagai pembelajaran untuk pemeliharaan berikutnya. Dengan demikian perlu dilakukan antisipasi sbb :
  • Evaluasi kembali program vaksinasi yang sudah ada. Jika belum tepat maka perlu dilakukan penyusunan program vaksinasi sesuai dengan kondisi di peternakan tersebut. Minimal dilakukan vaksinasi pada 3-4 minggu untuk vaksin inaktif atau 2-3 minggu vaksin aktif sebelum penyakit sering terjadi sehingga ketika terdapat serangan dari virus lapangan, ayam telah memiliki antibodi yang cukup untuk melawan infeksi lapangan.
  • Pada masa produksi, perlu dilakukan monitoring / pemeriksaan titer antibodi secara rutin setiap bulan terhadap penyakit yang sering menyebabkan penurunan produksi telur terutama ND dan AI untuk mengetahui gambaran titer antibodi dalam tubuh sehingga bisa menentukan jadwal revaksinasi dengan tepat.

Jika pada pemeliharaan periode berikutnya terjadi penurunan produksi telur maka peternak perlu melakukan langkah-langkah yang sudah diuraikan di atas antara lain :
  • Mengumpulkan data secara lengkap meliputi anamnesa, gejala klinis maupun perubahan patologi anatomi
  • Tidak mudah terpengaruh oleh isu penyakit yang sedang berkembang
  • Diskusikan dengan dokter hewan maupun technical service yang ada di lapangan
  • Lakukan uji serologi di laboratorium
Demikian, sukses dan semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *