CARA MENGATASI TANAH SAWAH YANG ASAM/MASAM

Posted on

Cara Cepat Menguji Status Hara dan Kemasaman Tanah

Hingga saat ini, rekomendasi pemupukan untuk padi sawah di sebagian besar wilayah masih bersifat umum, baik jumlah maupun jenisnya, sehingga efisiensi pemupukan rendah dan tidak berimbang di dalam tanah. Agar pemupukan menjadi efisien dan berimbang, maka rekomendasi pemupukan harus didasarkan pada uji tanah, yaitu metode formulasi rekomendasi pemupukan dengan memperhatikan status dan dinamika hara tanah serta kebutuhan tanaman untuk mencapai hasil yang optimal. Uji tanah merupakan teknik yang tepat sebagai dasar menerapkan rekomendasi pemupukan berimbang spesifik lokasi.

967
Pemupukan berimbang bukan berarti pupuk diberikan secara lengkap, baik unsure makro maupun mikro seperti N, P dan K plus Cu, Zn, dan Mn. Untuk hara yang telah berada dalam status optimal tidak perlu ditambahkan, sebaliknya unsur hara yang kurang (kahat) harus ditambahkan sesuai tingkat kebutuhan tanaman. Penambahan hara yang tidak diperlukan tanaman justru dapat mencemari lingkungan (tanah dan perairan), terlebih bila status hara tanah sudah sangat tinggi. Penerapan pemupukan berimbang berdasar uji tanah memerlukan data analisis tanah. Di sisi lain, pengguna, penyuluh dan petani sulit untuk melakukan analisis contoh tanah karena biayanya relatif mahal, laboratorium uji tanah di sekitar wilayah pertanian masih sangat terbatas, dan sosialisasi belum menyeluruh ke tingkat pengguna. Hal ini menyebabkan rekomendasi pemupukan untuk padi sawah masih bersifat umum dan seragam untuk seluruh Indonesia.

Dalam tiga dasawarsa terakhir, penggunaan pupuk yang intensif dalam jumlah besar telah menyebabkan kejenuhan hara P di tanah sawah intensifikasi. Hal ini mengakibatkan hara di dalam tanah tidak seimbang, sehingga pupuk P yang diberikan tidak lagi memberikan peningkatan hasil tanaman secara nyata. Oleh karena itu, efisiensi pemupukan menjadi rendah karena kemungkinan suatu unsur hara diberikan secara berlebihan, sementara unsur hara lainnya diberikan lebih rendah dari yang dibutuhkan tanaman. Pemberian pupuk yang tidak tepat dapat menurunkan produktivitas serta menyebabkan polusi lingkungan. Untuk mengatasi kesenjangan penerapan teknologi pemupukan berimbang, Balai Penelitian Tanah telah menyusun suatu alat Bantu untuk menentukan kandungan (status) hara tanah yang dapat dikerjakan di lapangan disertai dengan rekomendasi pupuknya. Alat Bantu ini dinamakan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS). Penggunaan PUTS ini diharapkan mampu membantu petani meningkatkan ketepatan pemberian takaran pupuk N, P, dan K untuk padi sawah dengan produktivitas setara IR64.

Deskripsi PUTS
Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) terdiri atas satu set alat dan bahan kimia untuk menganalisis kadar hara tanah sawah, serta dapat digunakan di lapangan dengan relatif cepat, mudah, murah, dan cukup akurat. PUTS ini dirancang untuk mengukur kadar N, P, K, dan pH tanah. Hasil pengukuran kadar hara N, P, dan K tanah dengan PUTS dikategorikan menjadi tiga kelas status hara mengacu pada hasil penelitian uji tanah, yaitu rendah (R), sedang (S), dan tinggi (T).PUTS merupakan penyederhanaandari pekerjaan analisis tanah di laboratorium yang didasarkan pada hasil penelitian uji tanah. Kriteria penggolongan status N, P, K, dan pH tanah untuk PUTS disajikan pada Tabel 1. Satu paket kemasan PUTS terdiri atas: (a) satu set larutan ekstraksi untuk menetapkan N, P, K dan pH, (b) peralatan pendukung,
Untuk mengetahui status hara tanah sawah, petani atau penyuluh kini tidak perlu lagi mendatangi laboratorium uji tanah. Dengan perangkat uji tanah sawah, pengujian dapat dilakukan di lapangan dengan cepat, mudah, murah, dan hasilnya pun akurat.
Tabel 1. Kriteria pengukuran kadar hara P dan K serta pH tanah. Sifat kimia tanah Kriteria pengukuran Rendah Sedang Tinggi
N-KCl 1N (mg/kg) < 3 9 40-99 > 9 9
P-ekstrak HCl 25% < 2 0 20-40 4 0
(mg/100 g)
K-ekstrak HCl 25% < 1 0 10-20 > 2 0
(mg/100 g)
PH-tanah
Kriteria pengukuran
Sangat Masam Agak Netral Agak Alkalis
masam masam alkalis
4,5 4,6- 5,6- 6,6- 7,6- > 8 , 6
5,5 6,5 7,5 8,5
15
(c) bagan warna N, P, K, dan pH,
(d) bagan warna daun (BWD), serta
(e) buku petunjuk penggunaan.
PUTS dapat digunakan untuk menganalisis 50 contoh tanah. Jika dirawat dan ditutup rapat segera setelah digunakan maka masa kedaluwarsa bahan kimia yang ada dalam PUTS ini berkisar 1-1,5 tahun dari pertama kali kemasa dibuka.

Manfaat PUTS
Secara umum PUTS dapat digunakan untuk menilai status kesuburan tanah sawah secara cepat. Tanah sawah yang mempunyai kandungan hara N, P, dan K tinggi dinyatakan sebagai tanah sawah yang subur, sehingga upaya pelestarian produktivitas lahannya sedikit lebih ringan dibandingkan tanah sawah yang berstatus hara rendah. Manfaat khusus adalah pemberian rekomendasi pupuk N, P, dan K untuk padi sawah dapat lebih tepat dan efisien sehingga menghemat pemakaian pupuk. Jumlah pupuk yang diberikan untuk masing-masing kelas status hara tanah berbeda sesuai kebutuhan tanaman.

Prinsip Kerja PUTS
Prinsip yang digunakan dalam menyusun PUTS adalah dapat mengukur hara N, P, dan K tanah dalam bentuk tersedia untuk tanaman secara semikuantitatif dengan metode kolorimetri (pewarnaan). Bentuk hara tersedia menggambarkan suatu indeks ketersediaan hara yang terdapat dalam larutan tanah dan dapat dengan mudah diambil/ diserap oleh tanaman. Bentuk hara inilah yang diukur di laboratorium maupun dengan PUTS. Kadar hara dalam tanah ditentukan dengan cara mengekstrak hara tersedia dari tanah dan kemudian mengukur kadar hara yang terekstrak tersebut. Oleh karena itu, pereaksi atau bahan kimia yang digunakan dalam alat uji tanah pada umumnya terdiri atas larutan pengekstrak dan pembangkit warna. Bentuk hara yang diekstrak dengan PUTS untuk nitrogen adalah N-NO3- dan N-NH4+, untuk fosfat bentuk orthophosphate yaitu PO4 3-, HPO4 2, dan H2PO4- dan untuk kalium adala K + . PUTS ini telah diuji dengan menggunakan contoh tanah mineral dari lahan sawah dengan kandungan P dan K serta pH tanah rendah hingga tinggi. Uji validasi PUTS telah dilaksanakan pada tanah Inceptisol, Ultisol, Entisol, dan Vertisol yang tersebar di 146 lokasi di Pulau Jawa. Namun demikian, untuk lebih memantapkan hasil penetapan atau pengukuran N, P, K dan pH serta rekomendasinya pada jenis tanah yang lebih beragam, pada tahun 2005 tetap akan dilakukan pengujian atau validasi PUTS. Tingkat kesesuaian pengukuran hara N, P, K dan pH dengan PUTS dibandingkan dengan hasil analisis di laboratorium berturut-turut adalah 55% untuk N, 90% untuk P, 70% untuk K, dan 78% untuk pH. Rekomendasi pemupukan N, P, dan K pada berbagai kelas status hara tanah yang diberikan mengacu pada hasil kalibrasi uji tanah.

Nitrogen
Tingkat kesesuaian PUTS untuk N termasuk rendah (55%) dibandingkan unsur lain. Hal ini disebabkan unsur N mudah bergerak (mobile) dan berubah bentuk menjadi gas dan unsur lain serta hilang melalui penguapan (volatilisasi) dan pencucian (leaching). Oleh karena itu, dalam aplikasinya di lapangan, efisiensi pupuk N hanya sekitar 30- 40% dari jumlah pupuk yang diberikan. Rendahnya efisiensi pupuk N dapat diatasi dengan:
(1) membagi pupuk (split application) menjadi 2-3 kali pemberian pada saat pertumbuhan tanaman optimal, yaitu setelah tanam, pembentukan anakan maksimal, dan menjelang berbunga;
(2) membenamkan urea ke dalam lapisan reduksi di dalam tanah (10-15 cm); penggunaan urea briket atau urea granul yang dibenamkan dapat meningkatkan efisiensi pupuk N hingga 20-30%;
(3) menggunakan pupuk N yang dilapisi belerang atau silika (silica coated urea/SiCU); dan
(4) menggunakan penghambat nitrifikasi dan urease inhibitor, seperti dicyandiamide. Dari keempat cara di atas, yang paling banyak diaplikasikan dan mudah diterapkan adalah cara pertama. Untuk meningkatkan ketelitian
rekomendasi N dengan PUTS dapat digunakan bagan warna daun (BWD) yang dikembangkan olehInternational Rice Research Institute (IRRI) dan Balai Penelitian Tanaman Padi. BWD digunakan untuk memantau kebutuhan N tanaman padi secara periodik selama masa pertumbuhannya.

Fosfat
Fosfor di dalam tanah tidak mudah bergerak (immobile) dan sebagian besar terikat atau terfiksasi oleh oksida, mineral liat, dan bahan organik. Karena tidak mudah bergerak, keberadaan hara P mudah dideteksi di dalam tanah. Hal ini sesuai dengan hasil pengujian nilai kesesuaian pengekstrak P dengan PUTS yaitu 90%. Perangkat Uji Tanah Sawah V.01.16 Ketersediaan hara P di dalam tanah sangat rendah karena:
(1) jumlah P-tanah sedikit,
(2) sebagian besar P terdapat dalam bentuk yang tidak dapat diambil tanaman, dan
(3) P terikat oleh Al dan Fe dalam bentuk Al-P dan Fe-P pada tanah masam serta dalam bentuk Ca-P pada tanah alkalin. Pada pH masam, P dalam tanah akan segera terikat oleh Fe dan Al sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Begitu pula bila P diberikan pada tanah alkalin akan diikat oleh Ca dan CaCO3 sebagai Ca-P yang tidak larut. Namun demikian, pada kondisi tanah sawah, pH tanah yang semula masam atau alkalin akan berubah menuju pH netral (6-7). Pada pH netral, bentuk P tanah terdapat dalam kondisi yang paling mudah diserap tanaman.

Kalium
Cadangan K dalam tanah cukup banyak, namun hanya sebagian kecil yang tersedia dan dapat dimanfaatkan oleh tanaman, yaitu yang terlarut dalam air serta K yang dapat dipertukarkan. Ion K tergolong unsur yang mudah bergerak sehingga mudah sekali hilang dari tanah melalui pencucian, karena K tidak ditahan dengan kuat di permukaan koloid tanah. Mengingat sifat K yang mudah hilang dari dalam tanah, maka efisiensinya rendah seperti halnya
N, sehingga pemberian pupuk K perlu dibagi minimal dua kali. Sebagian besar K yang diserap tanaman padi berada dalam jerami (80%). Oleh karena itu, pengembalian jerami ke lahan sawah sama dengan memupuk K. Selain dari pupuk, sumber K untuk tanah sawah adalah air irigasi dan jerami.

Kemasaman Tanah
Kemasaman atau pH tanah menunjukkan kadar H+ dan OH- dalam larutan tanah. Ketersediaan hara esensial bagi tanaman bergantung pada pH, di mana hara tanaman optimum pada kisaran pH 6-7. Tanah sawah pada umumnya mempunyai pH sekitar netral (6-7). Pada kondisi ini, ketersediaan semua unsur hara dalam kondisi optimal. Informasi tentang pH tanah sawah berguna dalam pemilihan jenis pupuk, pengelolaan tata air, dan mendeteksi peluang terjadinya keracunan suatu unsur mikro seperti Fe dan Mn pada tanah masam dan Na pada tanah alkalin.

Implikasi Penggunaan PUTS
Dengan adanya PUTS yang dapat dioperasikan oleh penyuluh pertanian atau petani terlatih, maka takaran pupuk untuk padi sawah dapat lebih tepat dan efisien serta penerapannya dapat menjangkau wilayah yang luas. Bagi petani,
penggunaan PUTS dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk dan menambah keuntungan. Dari sisi lingkungan, pemakaian pupuk yang tepat dan efisien dapat menekan pencemaran lingkungan dari badan air (nitrat) dan dalam tanah (logam berat dari pupuk). Penerapan pemupukan berimbang berdasar uji tanah dengan PUTS dapat menghemat pemakaian pupuk secara nasional serta devisa negara

pH Tanah

pH tanah menunjukkan derajat keasaman tanah atau keseimbangan antara konsentrasi H+ dan OH- dalam larutan tanah. Apabila konsentrasi H+ dalam larutan tanah lebih banyak dari OH- maka suasana larutan tanah menjadi asam, sebalikya bila konsentrasi OH- lebih banyak dari pada konsentrasi H+ maka suasana tanah menjadi basa. pH tanah sangat menentukan pertumbuhan dan produksi tanaman makanan ternak, bahkan berpengaruh pula pada kualitas hijauan makanan ternak. PH tanah yang optimal bagi pertumbuhan kebanyakan tanaman makanana ternak adalah antara 5,6-6,0. Pada tanah pH lebih rendah dari 5.6 pada umumnya pertumbuhan tanaman menjadi terhambat akibat rendahnya ketersediaan unsur hara penting seperti fosfor dan nitrogen. Bila pH lebih rendah dari 4.0 pada umumnya terjadi kenaikan Al3+ dalam larutan tanah yang berdampak secara fisik merusak sistem perakaran, terutama akar-akar muda, sehingga pertumbuhan tanaman menjadiaa terhambat.
Konsentrasi Alumunium dan besi (Fe) yang tinggi pada tanah memungkinkan terjadinya ikatan terhadap fosfor dalam bentuk alumunium fosfat atau Fe-fosfat. P yang terikat oleh alumunium tidak dapat digunakan oleh tanaman makanan ternak. Tanaman makanan ternak yang ditanam pada tanah yang memiliki pH rendah biasanya juga menunjukkan klorosis (peleburan klorofil sehingga daun berwarna pucat) akibat kekurangan nitrogen atau kekurangan magnesium.
Selain itu pH tanah rendah memungkinkan terjadinya hambatan terhadap pertumbuhan mikroorganisme yang bermanfaat bagi proses mineralisasi unsur hara seperti N dan P dan mikroorganisme yang berpengaruh pada pertumbuhan tanaman, misalnya bakteri tanah yang dapat bersimbiosis degan leguminosa seperti Rhizobium atau bersimbiosis dengan tanaman non leguminosa seperti Frankia sehingga sering dijumpai daun-daun tanaman makanan ternak pada tanah asam mengalami chlorosis akibat kekurangan N. Bakteri tanah yang lain seperti azotobakter (A. Chroococcum ) yang dapat berasosiasia dengan akar tanaman hanya dapat hidup apabila suasana larutan tanah netral hingga basa. Mikroorganisme tanah lain yang bermanfaat bagi tanaman, yang dapat terpengaruh pertumbuhannya bila berada pada suasana asam adalah mikoriza. Mikoriza adalah jamur yang dapat melarutkan fosfor organik menjadi fosfor inorganik yang tersedia bagi tanaman.
Sebaliknya bila tanah bersuasana basa (pH>7.0) biasanya tanah tersebut kandungan kalsiumnya tinggi, sehingga terjadi fiksasi terhadap fosfat dan tanaman makanan ternak pada tanah basa seringkali mengalami defisiesi P.
Pengaruh pH tanah terhadap petumbuhan, produksi dan kualitas tanaman makanan aterak dapat ilihat pada Gambar ….yang memperlihatkan bahwa pada tanah dengan pH 4.6 produksi biomassa tanaman legum pakan Arachis pintoi lebih rendah dibandingkan dengan produksi biomasa oada tanaman yang tumbuh pada tanah ber pH 5.2 atau 5.8.
Apabila pH tanah dinaikan sebanyak 0.6 unit dari 5.8, yaitu menjadi 6.4 maka produksi biomasa kembali menurun hingga selevel dengan produksi biomasa pada tanah dengan pH masam (4.6).

Keasaman dalam larutan itu dinyatakan sebagai kadar ion hidrogen disingkat dengan [H+], atau sebgai pH yang artinya –log [H+]. Dengan kata lain pH merupakan ukuran kekuatan suatu asam. pH suatu larutan dapat ditera dengan beberapa cara antara lain dengan jalan menitrasi lerutan dengan asam dengan indikator atau yang lebih teliti lagi dengan pH meter.

pH berkisar antara 10-1 sampai 10-12 mol/liter. Makin tinggi konsentrasi ion H, makin rendah –log [H+] atau pH tanah, dan makin asam reaksi tanah. Pada umumnya, keasaman tanah dibedakan atas asam, netral, dan basa. Ion H+ dihasilkan oleh kelompok organik yang dibedakan atas kelompok karboksil dan kelompok fenol.

Tipe keasaman aktif atau keasaman actual disebabkan oleh adanya Ion H+ dalam larutan tanah. Keasaman ini diukur menggunakan suspensi tanah-air dengan nisbah 1 : 1; 1 : 2,5; dan 1 : 5. Keasaman ini ditulis dengan pH (H2O).

Tipe keasaman potensial atau keasaman tertukarkan dihasilkan oleh ion H+ dan Al3+ tertukarkan yang diabsorbsi oleh koloid tanah. Potensial keasaman diukur dengan menggunakan larutan tanah-elektrolit, pada umumnya KCl atau CaCl2.

Karena ion H dan Al yang diabsorbsi koloid tanah dalam keadaan seimbang (equilibrium) dengan ion H+ dalam larutan tanah maka terdapat hubungan yang dekat antara kejenuhan (H+Al) dan pH, demikian juga dengan persentase kejenuhan basa pada pH. Tanah yang ekstrem asam dengan (H+Al) mendekati 100% kurang lebih mempunyai pH sama dengan asetat pH 3,5

Keasaman (pH) tanah diukur dengan nisbah tanah : air 1 : 2,5 (10 g tanah dilarutkan dengan 25 ml air) dan ditulis dengan pH2,5(H2O). Di beberapa laboratorium, pengukuran pH tanah dilakukan dengan perbandingan tanah dan air 1 : 1 atau 1 : 5. Pengukuran pada nisbah ini agak berbeda dengan pengukuran pH2,5 karena pengaruh pengenceran terhadap konsentrasi ion H.

Untuk tujuan tertentu, misalnya pengukuran pH tanah basa, dilakukan terhadap pasta jenuh air. Hasil pengukuran selalu lebih rendah daripada pH2,5 karena lebih kental dan konsentrasi ion H+ lebih tinggi.

Pengukuran pH tanah

Pengukuran pH tanah di lapangan dengan prinsip kolorimeter dengan menggunakan indikator (larutan, kertas pH) yang menunjukkan warna tertantu pada pH yang berbeda. Saat ini sudah banyak pH-meter jinjing (portable) yang dapat dibawa ke lapangan. Di samping itu, ada beberapa tipe pH-meter yang dilengkapi dengan elektroda yang secara langsung dapat digunakan untuk pH tanah, tetapi dengan syarat kandungan lengas saat pengukuran cukup tinggi (kandungan lengas maksimum atau mungkin kelewat jenuh). Kesalahan pengukuran dapat terjadi antara 0,1 – 0,5 unit pH atau bahkan lebih besar karena pengaruh pengenceran dan faktor – faktor lain.

Untuk mengukur pH basa kuat di lapangan, indikator fenolptalin (2 g indikator fenolptalin dalam 200 ml alkohol 90%) yang tidak berwarna sangat bermanfaat karena akan berubah menjadi ungu sampai merah pada pH 8,3 – 10,0. Kondisi yang sama dalam pengukuran pH di lapangan pada kondisi luar biasa asam digunakan indikator Brom Cresol Green (0,1 g dilarutkan dalam 250 ml 0,006 N NaOH) yang berubah menjadi hijau sampai kuning pada pH 5,3 dan lebih rendah daripada 3,8.

Untuk mengetahui pH tanah di lapangan, secara umum dapat digunakan indikator universal (campuran 0,02 g metil merah, 0,04 g bromotimol blue, 0,04 g timol blue, dan 0,02 g fenolptalin dalam 100 ml alkohol encer (70%)).

Hasil penelusuran:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *