BAMBU-BAMBU YANG TERMARJINALKAN

Posted on

Siapa yang tidak kenal dengan bambu? Mungkin ada yang belum pernah melihat pohon bambu, tetapi pasti tidak asing lagi dengan tusuk sate, sumpit, tusuk gigi bahkan beberapa perabotan rumah tangga banyak yang terbuat dari bambu.

Dari kurang lebih 1.000 species bambu dalam 80 genera, sekitar 200 species dari 20 genera ditemukan di Asia Tenggara (Dransfield dan Widjaja, 1995), sedangkan di Indonesia ditemukan sekitar 60 jenis. Tanaman bambu Indonesia ditemukan di dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian sekitar 300 m dpl. Pada umumnya ditemukan ditempat-tempat terbuka dan daerahnya bebas dari genangan air.Tanaman bambu hidup merumpun, kadang-kadang ditemui berbaris membentuk suatu garis pembatas dari suatu wilayah desa yang identik dengan batas desa di Jawa.

Bambu (Inggris : Bamboo) dikenal dengan nama daerah/local yang berbeda-beda seperti pring (jawa), awi (sunda), buluh (sumbar), aur dan ada juga yang menyebutnya eru. Pohon bambu ini hamper merata tumbuh di seluruh wilayah Indonesia, oleh karena itu wajar jika bambu sangat dikenal sampai ke pelosok-pelosok desa. Dalam kehidupan masyarakat pedesaan di Indonesia, bamboo memegang peranan sangat penting.

Bahan bambu dikenal oleh masyarakat memiliki sifat-sifat yang baik untuk dimanfaatkan, antara lain batangnya kuat, ulet, lurus, rata, keras, mudah dibelah, mudah dibentuk dan mudah dikerjakan serta ringan sehingga mudah diangkut. Selain itu bambu juga relatif murah dibandingkan dengan bahan bangunan lain karena banyak ditemukan di sekitar pemukiman pedesaan. Bambu menjadi tanaman serbaguna bagi masyarakat pedesaan.

Pada awal tahun 80-an pengiriman bamboo antar daerah di jawa banyak dilakukan dengan menggunakan jalur air melalui sungai-sungai yang banyak terdapat di Pulau Jawa. Dari hulu yang kebetulan banyak terdapat hutan bambu, kemudian bambu-bambu ini dirakit membentuk sebuah rakit yang nantinya dihanyutkan menuju ke hilir yang biasanya terdapat pasar-pasar tempat untuk menjual bambu-bambu tersebut. Fenomena yang sangat menarik dari konvoi beberapa rakit bambu yang sedang menyusuri sungai seperti ini sekarang jarang kita lihat lagi. Hal ini ada beberapa kemungkinan yaitu karena hutan bambu di hulu sudah habis ditebang atau karena system transportasi darat yang sudah lebih maju atau mungkin juga karena penggunaan bambu sudah jauh berkurang dibanding waktu dulu.

Di waktu dulu masih banyak bambu dalam bentuk bulat dipakai untuk berbagai macam konstruksi seperti rumah, gudang, jembatan, tangga, pipa saluran air, tempat air, serta alat-alat rumah tangga. Dalam bentuk belahan dapat dibuat bilik, dinding atau lantai, reng, pagar, kerajinan dan sebagainya. Beberapa jenis bamboo akhir-akhir ini mulai banyak digunakan sebagai bahan industri supit, alat ibadah, serta barang kerajinan, peralatan dapur, topi, tas, kap lampu, alat musik, tirai dan lain-lain.

Dahulu pada awal tahun 90-an di sekitar pegunungan So seperti wilayah Jering dan Pare masih banyak terlihat hutan bambu (dapuran pring), tetapi kini seiring dengan majunya industry genting yang banyak memanfaatkan tanah pegunungan tersebut juga menyebabkan hilangnya hutan bambu dan ekosistem yang merupakan habitat burung Bubut, Kucing Hutan, Ayam Hutan bahkan Alap-alap yang sudah terlebih dahulu hilang pada awal tahun 70-an.

Di samping itu dahulu penduduk desa sering menanam bambu disekitar rumahnya untuk berbagai keperluan. Bermacam-macam jenis bambu bercampur ditanam di pekarangan rumah. Pada umumnya yang sering digunakan oleh masyarakat di Indonesia adalah bambu tali (pring apus), bambu petung (pring petung), bambu hitam (pring wulung), bambu ori (pring ori) dan bambu tutul (pring tutul).

Bambusa maculate atau pring tutul/bambu tutul

Dendrocalamus asper atau pring petung/bambu petung

Gigantochloa atroviolacea atau pring wulung/bambu hitam

Gigantochloa apus atau pring apus/bambu tali

Bambusa arundinacea atau pring ori/bambu ori

Bambusa vulgaris atau pring gading/bambu kuning

Seperti halnya tebu, bambu mempunyai ruas dan buku. Pada setiap ruas tumbuh cabang-cabang yang berukuran jauh lebih kecil dibandingkan dengan buluhnya sendiri. Pada ruas-ruas ini pula tumbuh akar-akar sehingga pada bambu dimungkinkan untuk memperbanyak tanaman dari potongan-potongan setiap ruasnya, disamping tunas-tunas rimpangnya.

Dalam penggunaannya di masyarakat, bahan bambu kadang-kadang menemui beberapa keterbatasan. Sebagai bahan bangunan, faktor yang sangat mempengaruhi bahan bambu adalah sifat fisik bambu yang membuatnya sukar dikerjakan secara mekanis, variasi dimensi dan ketidakseragaman panjang ruasnya serta ketidakawetan bahan bambu tersebut menjadikan bambu tidak dipilih sebagai bahan komponen rumah. Sering ditemui barang-barang yang berasal dari bambu yang dikuliti khususnya dalam keadaan basah mudah diserang oleh jamur biru dan bulukan sedangkan bambu bulat utuh dalam keadaan kering dapat diserang oleh serangga bubuk kering dan rayap kayu kering.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *