SENTRA PENJUALAN KEBAYA TANAH ABANG, JAKARTA


Peluang Usaha

Kamis, 13 Oktober 2011 | 14:00  oleh Dea Chadiza Syafina
SENTRA PENJUALAN KEBAYA TANAH ABANG, JAKARTA
Sentra kebaya Tanah Abang: Berbelanja Kebaya di Blok A dan F Tanah Abang (1)

Kalau ingin membeli kebaya jadi, datang saja ke Pasar Tanah Abang, terutama di Blok A dan Blok F. Harga kebaya di Blok F relatif lebih terjangkau dibanding dengan di Blok A. Maklum, selisih harga itu bisa jadi lantaran suasana di Blok A lebih nyaman dan lebih adem.

Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, sudah lama tenar sebagai sentra penjualan kain dan pakaian. Tidak hanya menjadi rujukan bagi konsumen yang ingin membeli produk fashion berkualitas dan murah, Pasar Tanah Abang juga menjadi rujukan bagi pedagang fashion yang ingin menjual kembali ke daerah asalnya.

Salah satu area yang menarik untuk dikunjungi di Pasar Tanah Abang adalah tempat penjualan baju kebaya siap pakai. Tersebar di beberapa lokasi seperti Blok F dan Blok A, ada sekitar 25 pedagang di Blok F. Sedangkan di Blok A ada sekitar 30 pedagang.

Di Blok F, area kebaya berada di lantai 1; di Blok A area kebaya berada di lantai dasar (SLG). Walaupun sama-sama menjual kebaya, harga yang ditawarkan di Blok F relatif lebih murah. Contohnya, untuk kebaya berbahan dasar tile, di Blok A ditawarkan dengan harga mulai dari Rp 70.000 per potong. Sedangkan di Blok F, untuk bahan yang sama ditawarkan dengan harga Rp 50.000 per potong.

Penawaran harga yang lebih murah, mungkin disebabkan fasilitas bangunan di blok F tidak sebaik Blok A. Selain tidak berpendingin ruangan (AC), untuk menuju area kebaya Blok A harus menggunakan tangga manual bukan tangga berjalan. Sedangkan di Blok A suasana lebih mirip mal. Di blok ini pengunjung bisa merasakan dinginnya AC dan ber-eskalator.

Namun, meski ada selisih harga, dagangan kebaya itu sama larisnya. “Kebaya sekarang lagi digandrungi jadi penjualan lumayan,” kata Sylvia, pemilik Toko Fedora di Blok A. Ia menambahkan, kebaya sudah menjadi pakaian yang tak hanya bisa dipakai untuk acara formal namun non formal.

Berbagai bentuk, warna, dan bahan kebaya dijual di Blok A maupun Blok F, Tanah Abang. Kebaya polos, kebaya bordir, kebaya dengan hiasan sulam pita, kebaya payet, kebaya dengan hiasan manik batu-batuan juga tersedia di sini.

Walau lebih banyak menjual bentuk jadi, namun pembeli tak perlu khawatir kebayanya kedodoran. Sebab, kalau ukurannya tidak ada, pembeli bisa meminta untuk dijahitkan sesuai dengan ukuran tubuh. Sebab sebagian dari toko-toko kebaya di Tanah Abang juga menjual bahan kain kebaya dan bawahan. “Bisa juga ditambah hiasan bordir dan payet,” kata Susiana, pemilik toko Natasha Collection di Blok F.

Susiana mengaku, punya banyak pelanggan tetap yakni para pedagang kebaya eceran di luar Jawa. Pedagang-pedagang tersebut rata-rata membeli grosiran untuk dijual kembali. Selain pedagang, tentu masyarakat lain yang butuh kebaya juga datang ke sini.

Erik Budiyanto, pemilik Toko Mitra Niaga di Blok F juga menjual kebaya jadi dan bahan kebaya. Menurut Erik, lonjakan penjualan terjadi selama empat bulan setelah Hari Raya Idul Fitri. “Bulan-bulan itu merupakan musim kawin,” katanya. Selain itu, pembelian kebaya juga ramai setiap kali musim wisuda, terutama di awal dan akhir tahun. Selama empat bulan musim kawin, Erik mengaku bisa menjual hingga 20 kodi atau 400 potong kebaya siap pakai.

Tak hanya Erik yang merasakan keuntungan dari penjualan kebaya di Tanah Abang. Sylvia juga mampu menjual sekitar 1.000 potong kebaya siap pakai per bulan. Dari hasil penjualan itu dia mampu memperoleh omzet hingga Rp 100 juta per bulan. “Banyak yang membeli kodian, sehingga lebih murah,” kata Sylvia.

Untuk mendapat harga lebih murah, pembeli Blok A dan Blok F di Tanah Abang selain harus pandai menawar harga, juga disarankan membeli secara partai besar. Untuk jenis kebaya berbahan dasar silk yang dibanderol Rp 110.000 untuk satuan, bisa didapatkan dengan harga Rp 85.000 jika membeli minimal setengah lusin atau enam potong.


Peluang Usaha

 
Jumat, 14 Oktober 2011 | 15:02  oleh Dea Chadiza Syafina
SENTRA PENJUALAN KEBAYA TANAH ABANG, JAKARTA
Sentra kebaya Tanah Abang: Pembeli kian sesak, omzet malah turun (2)
Share
dibaca sebanyak 229 kali

0 Komentar

Walau masih ramai pembeli, namun beberapa pedagang kebaya di Tanah Abang mengaku mengalami penurunan omzet. Selain bahan baku yang kian mahal, beberapa bahan aksesori kebaya dan ongkos produksi juga terus naik. Inilah yang membuat harga konsumen naik.

Meski nama tenar Pasar Tanah Abang tak lekang oleh waktu, beberapa pedagang kebaya di Blok A dan F mengaku terus mengalami penurunan omzet. “Mulai agak turun setelah 2009,” kata Susiana, pemilik Toko Natasha Collection di Blok F Tanah Abang.

Mengaku mulai membuka toko pada 2004, Susiana saat ini hanya mampu memperoleh omzet antara Rp 25 juta hingga 50 juta per bulan. Angka itu lebih rendah dibanding sebelum 2009 yang bisa mencapai lebih dari Rp 65 juta per bulan. Bahkan selama dua tahun terakhir ini, dia mengaku mengalami penurunan omzet sebesar 30%.

Menurutnya, harga bahan baku kebaya yang terus melonjak dari tahun ke tahun menjadi penyebab jumlah pembeli menurun. Apalagi bahan baku kebaya yang banyak didatangkan dari luar negeri harus dibeli dengan mata uang dolar Amerika, sehingga memberatkan pedagang.

Tak hanya bahan baku kain kebaya, harga beberapa bahan aksesori yang lain seperti payet dan manik-manik juga naik sebesar 10% dari tahun sebelumnya. Kenaikan ini, tentu saja mempengaruhi harga jual kebaya siap pakai.

Selain terbebani peningkatan bahan baku, kebaya-kebaya itu harus melewati beberapa proses produksi sebelum bisa menjadi produk siap pakai. Inilah yang membuat harga kebaya di tingkat konsumen menjadi jauh lebih mahal.

Pertama, bahan kain kebaya dibuat pola oleh para tukang jahit yang sebagian besar tinggal di Bandung. Selanjutnya, dibordir oleh perajin di Tasikmalaya agar terlihat lebih mewah dan cantik.

Setelah itu, bahan tadi dijahit menjadi pakaian jadi oleh perajin konveksi yang juga banyak terdapat di Tasikmalaya, Jawa Barat. Sebelum dikirim ke Tanah Abang, kebaya tadi akan harus melalui tahapan akhir berupa penambahan hiasan manik-manik, payet maupun batu-batuan.

Menurut Susiana, tahapan produksi yang panjang akan menambah biaya yang harus ditanggung penjual. Ia mengatakan, ongkos jahit satu pakaian kebaya setidaknya membutuhkan dana Rp 30.000. “Itu pun harga untuk pelanggan tetap,” katanya. Untuk mencari penjahit kebaya yang bagus menurutnya bukanlah hal yang mudah.

Selain kenaikan bahan baku dan ongkos produksi, faktor pengiriman barang juga dikeluhkan. Setelah melewati proses produksi di Bandung dan di Tasikmalaya, pemilik toko atau pedagang baru bisa menerima barang setelah satu atau dua minggu kemudian. Selain itu, ongkos kirim yang mahal, membuat pedagang harus berhemat dengan mengirimkan kebaya minimal 20 kodi atau 400 potong sekali kirim.

Berbagai kondisi inilah yang membuat harga jual kebaya juga meningkat. “Saya tidak mungkin jual eceran dengan harga di bawah Rp 100.000 per potong untuk kualitas premium. Karena memang ongkos produksi yang sudah mahal,” keluh Sylvia, pemilik Toko Fedora di Blok A.

Namun begitu, ia mengaku, tak jarang pembeli yang masih menawar harga untuk mendapatkan harga kebaya yang lebih murah.


Peluang Usaha

 
Senin, 17 Oktober 2011 | 13:33  oleh Dea Chadiza Syafina
SENTRA PENJUALAN KEBAYA TANAH ABANG, JAKARTA
Sentra kebaya Tanah Abang: Jual kebaya ngetren sembari jadi desainer (3)
Share
dibaca sebanyak 109 kali

0 Komentar

Pedagang kebaya di Pasar Tanah Abang melakukan beragam cara untuk menggaet pelanggan. Salah satunya dengan memberi servis terbaik bagi pelanggan. Selain melayani model kebaya sesuai dengan permintaan pelanggan, para pedagang juga selalu memperbarui model-model kebaya dengan tren terkini.

Meski menjadi pusat penjualan kebaya grosir dan eceran di Indonesia, bukan berarti pedagang kebaya di Pasar Blok A dan F Tanah Abang mudah membukukan omzet gede.

Jika tak pandai-pandai berdagang, bisa-bisa pembeli enggan untuk belanja. Kondisi itulah yang membuat pedagang mesti kreatif membuat kebaya yang akan dijual ke pelanggan.

Seperti yang dilakukan Erik Budianto, pedagang kebaya toko Mitra Niaga di pasar Blok F, Tanah Abang. Agar dapat pelanggan, Erik menjual kebaya berbahan tile dengan desain yang bisa dipesan pelanggan. “Jenis kebaya bahan tile digemari di daerah,” terang Erik.

Agar pelanggannya suka, Erik memodifikasi kebaya itu agar terlihat mewah. Salah satunya dengan membubuhkan payet pada kebaya itu. “Saat ini, saya rutin mengirim kebaya tile ke Banjarmasin, Kupang, Surabaya dan Cirebon,” jelas Erik.

Untuk setiap kebaya, Erik menjualnya mulai dari Rp 150.000 hingga ratusan ribu rupiah. Menurutnya, harga jual tergantung tawar menawar. Kalau beli dalam jumlah banyak, Erik tak sungkan menurunkan harga.

Susiana, pemilik toko Natasha Collection di pasar Blok F Tanah Abang yang menempuh cara berbeda untuk menggaet pelanggan. “Saya fokus menyediakan kebaya model terbaru,” kata Susiana yang sudah membuka usaha sejak 2004 ini.

Susiana mengaku menjual kebaya populer di masyarakat. Belakangan jenis kebaya milik Susiana yang laris itu adalah kebaya bordir dengan bahan velvet dan katun yang mengilat.

Ia bilang, kebaya berbahan velvet dan katun merupakan pilihan kedua setelah kebaya sutra. Sebab dari sisi harga, kebaya velvet dan katun lebih murah ketimbang kebaya berbahan sutra.

Selain desain, Susiana juga memperhatikan warna kebaya populer. Ia memberi contoh, tahun ini, warna kebaya yang populer adalah warna ungu dan abu-abu. “Tren warna itu sudah sejak tahun 2010 lalu,” kata Susiana yang melayani pelanggan dari Kalimantan, Sumatera dan Sulawesi itu.

Cara berbeda juga ditempuh oleh Sylvia, pemilik toko Fedora di Blok A Pasar Tanah Abang. Untuk menggaet pelanggan, Sylvia secara spesifik menyediakan kebaya model Betawi dengan desain sederhana.

Sylvia bilang, kebaya sederhana ala Betawi itu digemari anak muda karena bisa dikombinasikan dengan aksesori kalung dan ikat pinggang. “Kami harus ciptakan model kebaya sendiri, kalau tidak kami bisa kalah bersaing,” jelas Sylvia.

Ia menambahkan, pedagang kebaya di Tanah Abang tidak hanya sekadar menjadi pedagang saja. Ia juga harus bisa menjadi seorang desainer. Makanya, para pedagang harus bisa membaca selera pasar. Majalah dan televisi menjadi rujukan mereka melihat tren.

Di tengah upaya inovasi, mereka mengaku harus berhadapan dengan kenaikan bahan baku kain kebaya dan sewa toko. “Ini dilema rutin kami hadapi tiap tahun,” ungkap Susiana masygul.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/79908/Sentra-kebaya-Tanah-Abang-Berbelanja-Kebaya-di-Blok-A-dan-F-Tanah-Abang-1
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1318579346/80037/Sentra-kebaya-Tanah-Abang-Pembeli-kian-sesak-omzet-malah-turun-2-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/80184/Sentra-kebaya-Tanah-Abang-Jual-kebaya-ngetren-sembari-jadi-desainer-3-

SENTRA PENJUALAN KEBAYA TANAH ABANG, JAKARTA | budidarma | 4.5
error: Content is protected !!