Nelayan dan Akses Informasi Perikanan

Wilayah perairan laut indonesia memiliki kandungan sumberdaya alam khususnya sumberdaya hayati (ikan) yang berlimpah dan beraneka ragam. KOMNAS Pengkajian Sumberdaya Perikanan Laut menyebutkan bahwa potensi sumberdaya ikan laut di seluruh perairan Indonesia, diduga sebesar 6,26 juta ton per tahun, sementara produksi tahunan ikan laut Indonesia rata-rata mencapai 3,68 juta ton. Berarti tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan laut Indonesia baru mencapai 58,80%.

Disadari memang pemanfaatan sumberdaya ikan laut Indonesia di berbagai wilayah tidak merata. Di beberapa wilayah perairan masih terbuka peluang besar untuk pengembangan pemanfaatannya, sedangkan di beberapa wilayah yang lain sudah mencapai kondisi padat tangkap atau overfishing. Masalah utama yang dihadapi dalam upaya optimalisasi hasil tangkapan ikan adalah sangat terbatasnya data dan informasi mengenai kondisi oseanografi yang berkaitan erat dengan daerah potensi penangkapan ikan. Armada penangkap ikan teritama para kapal nelayan tradisional berangkat melaut bukan untuk menangkap tetapi untuk mencari lokasi penangkapan sehingga selalu berada dalam ketidakpastian tentang lokasi yang potensial untuk penangkapan ikan, sehingga hasil tangkapannya juga menjadi tidak pasti. Di samping itu, sebagai akibat dari ketidakpastian lokasi penangkapan mengakibatkan kapal penangkap banyak menghabiskan waktu dan bahan bakar untuk mencari lokasi fishing ground, dan ini berarti terjadi pemborosan bahan bakar.

Akibat akhir dari ketidakpastian ini adalah nelayan seringkalli menggunakan cara-cara illegal dalam penagkapan ikan selanjutnya. Misalnya dengan bom, racun maupun jaring pukat harimau. Aktiviutas ini nyata merupakan kegiatan melaut yang sangat membahayakan ekosistem laut. Dengan bom, semua ikan baik kecil dan besar mati, demikian juga dengan racun. Jaring pukat harimau juga tidak bisa memilah ikan besar ataupun kecil dalam penangkapannya. Bahkan kegiatan tersebut juga merusak terumbu karang. Sehingga diperlukan akses informasi dan komunikasi tentang zona potensi penangkapan ikan yang akurat dan program penyuluhan dan pendampingan nelayan yang tepat sasaran.
Informasi Zona Potensi Penangkapan Ikan
Informasi ZPPI bermanfaat bagi nelayan antara lain:
a. Meningkatkan pengetahuan nelayan dalam penggunaan teknologi informasi dalam mendukung operasi penangkapan ikan di laut.
b. Informasi harian zona potensi penangkapan ikan memberikan kepastian kepada para nelayan tentang lokasi potensi penangkapan, sehingga meningkatkan efisiensi biaya operasional, memperpendek masa operasi penangkapan, dan meningkatkan hasil tangkapan.
c. Mencegah atau memperkecil kemungkinan terjadinya konflik lokasi penangkapan antara nelayan kecil/tradisional dengan kapal-kapal besar, dengan cara pengaturan pemberian informasi zona potensi ikan yang berbeda.
d. Meningkatkan produksi ikan dalam rangka peningkatan pemberdayaan dan pengembangan ekonomi masyarakat nelayan.

Penerapan iptek untuk informasi ini adalah dengan teknologi penginderan jauh dengan bantuan satelit. Satelit mampu melakukan observasi terhadap fenomena yang terjadi di permukaan bumi termasuk di permukaan laut. Penggunaan teknologi penginderaan jauh (inderaja) dipadu dengan data cuaca, data oseanografi khususnya kesuburan perairan dan tingkah laku ikan, didukung dengan metode pengolahan dan analisis yang teruji akurasinya, merupakan salah satu alternatif yang sangat tepat dalam mempercepat penyediaan informasi zona potensi ikan harian untuk keperluan peningkatan hasil tangkapan ikan.

Saat ini ada tig satelit yang memberikan layanan informasi perikana tersebut, yaitu:
1. Satelit NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) milik Amerika. Satelit NOAA ini membawa berbagai sensor, dan salah satunya adalah sensor AVHRR (Advanced Very High Resolution Radiometer).
2. Satelit Sea Star yang membawa sensor SeaWIFs menghasilkan data konsentrasi khlorofil yang berkaitan erat dengan konsentrasi plakton di laut.
3. Satelit Feng Yun yang membawa sensor untuk mendeteksi suhu permukaan laut dan konsentrasi khlorofil di laut.

Identifikasi daerah potensi penangkapan ikan menggunakan teknologi penginderaan jauh merupakan cara identifikasi tidak langsung. Dari data penginderaan jauh dilakukan identifikasi parameter-parameter oseanografi yang berkaitan erat dengan habitat ikan atau daerah yang diduga potensial sebagai tempat berkumpulnya ikan, seperti daerah terjadinya termal front atau upwelling. parameter lain yang sekarang dapat dideteksi dengan menggunakan teknologi satelit penginderaan jauh adalah kesuburan perairan, yang sangat erat hubungannya dengan daerah potensi berkumpulnya ikan.

Zona potensi ikan ditentukan dengan kombinasi data/peta sebaran suhu permukaan laut, kandungan klorofil, pola arus laut, cuaca, serta karakter toleransi biologis ikan terhadap suhu air. Dari hasil pengamatan secara multitemporal dapat diketahui bahwa sebaran suhu permukaan laut di wilayah perairan laut indonesia berubah dengan cepat. dengan demikian pengamatan terhadap berbagai parameter oseanografi yang berkaitan erat dengan lingkungan hidup ikan juga harus dilakukan dengan frekuensi pengamatan yang cukup tinggi, minimal 4 kali dalam sehari. sebagai contoh, saat ini terdapat 3 seri satelit NOAA yang sedang mengorbit di antariksa sehingga dalam sehari dapat diperoleh data suatu wilayah sebanyak 12 kali/hari atau 12 lintasan.
Metode Produksi Informasi Perikanan
Perolehan Dan Pengolahan Data Satelit
LAPAN memiliki dan mengoperasikan perangkat penerima data satelit NOAA-AVHRR dan Feng Yun yang merupakan inti dari fasilitas untuk mengembangkan informasi zona potensi harian, terdiri dari :
• dish antena & feedhorn
• azimuth-elevation rotator
• preamplifier
• satellite autotracking system
• hrpt receiver
• fasilitas pengolahan dan analisis data

Data AVHRR yang diterima terdiri dari 5 (lima) band radiometer dan data Feng Yun terdiri dari 8 (delapan) band radiometer masing-masing dengan resolusi spasial 1.1 km x 1.1 km, menghasilkan data utama berupa suhu permukaan laut dan kandungan khlorofil yang selanjutnya digabung dengan data sekunder, dikaji dan dianalisis untuk menyusun prediksi lokasi potensi penangkapan ikan secara harian.
Pengolahan Dan Analisis Data
Diantara parameter oseanografi yang mempunyai hubungan erat dengan kehidupan ikan khususnya jenis ikan pelagis adalah suhu air laut dan kesuburan perairan. dengan menggunakan data NOAA-AVHRR dapat diperoleh informasi tentang sebaran suhu permukaan laut untuk area yang sangat luas. Sedangkan dari data seawifs atau Feng Yun dapat diperoleh data kandungan khlorofil yang menunjukkan kesuburan perairan. dari sebaran suhu permukaan laut dan kesuburan perairan tersebut dapat diperoleh informasi tentang fenomena upwelling/front yang merupakan indikator daerah potensi berkumpulnya ikan. karena perairan laut indonesia yang sangat dinamis, maka penggunaan data NOAA-AVHRR dan sea wifs/Feng Yun untuk pengamatan fenomena oseanografi merupakan alternatif yang sangat tepat karena mempunyai resolusi temporal (repetitive time) yang cukup tinggi misalnya setiap 4 jam.
Penyebaran Informasi Perikanan
Penyampaian informasi ini akan disampaikan melalui perangkat faksimili. Program ini akan menyediakan perangkat faksimili bagi kud mina yang dipilih sebagai basis percontohan. untuk setiap desa nelayan atau kelompok nelayan, harus disepakati personil yang dipercaya untuk menerima data via faksimili. Setiap kapal peserta kegiatan percontohan diharapkan memiliki alat navigasi GPS (global positioning system). bilamana tidak terdapat peralatan navigasi tersebut, maka program ini akan menyediakan sebuah alat bagi kapal penangkap ikan yang bertindak selaku pemandu. Keberhasilan dari pemanfaatan teknologi penginderaan jauh untuk perikanan ini juga terpulang kepada improvisasi para nahkoda/nelayan yang secara naluri dengan pengalaman tradisionalnya dapat membaca variasi dan kondisi medan pada saat proses penangkapan berlangsung di sekitar zona potensi ikan dari data zona potensi ikan yang digunakan.
Perlengkapan Kerja Dan Sarana Komunikasi
Untuk mendukung pelaksanaan sosialisasi dan penerapan informasi zona potensi penangkapan ikan tersebut diperlukan sarana komunikasi dan perlengkapan kerja antara lain:
a. Mesin facsimile, dipergunakan untuk menerima peta zona potensi ikan
b. GPS handheld, untuk menentukan posisi lokasi kapal pada saat melakukan operasi penangkapan ikan di laut.
c. Fishfinder, untuk mendeteksi besarnya gerombolan ikan pada lokasi yang ditunjukkan pada peta zona potensi ikan.
d. Radio all band, sebagai sarana komunikasi antara petugas didarat dengan kapal penangkap ikan untuk menyampaikan informasi terbaru.
e. Life jackets, untuk pengamanan petugas pelaksana sosialisasi.
Sosialisasi dan Aplikasi Informasi ZPPI
Kegiatan ini harus secara aktif melibatkan dinas kelautan dan perikanan setempat, tokoh masyarakat perikanan, pengurus koperasi nelayan, dan para nelayan inti (tradisional dan kapal besar) yang menjadi perintis kegiatan penerapan informasi zona potensi ikan secara langsung. sosialisasi diperlukan baik ke kalangan birokrasi maupun tokoh masyarakat perikanan, nelayan dan pimpinan desa setempat, agar diperoleh hasil yang optimal. kegiatan ini terutama bertujuan untuk menyusun koordinasi di tingkat desa dalam pemanfaatan informasi harian yang akan diperoleh. untuk melakukan sosialisasi program diperlukan setidaknya 1 minggu, dilanjutkan dengan kegiatan pelatihan yang antara lain meliputi materi: pengenalan peta navigasi laut; penggunaan alat bantu navigasi laut (GPS); penggunaan fishfinder; serta pengenalan dan penggunaan informasi zona potensi penangkapan ikan.
Operasional Penerapan Informasi ZPPI
Kegiatan operasional penerapan informasi zona potensi penangkapan ikan harus dilaksanakan oleh suatu tim sosialisasi, yang terdiri dari personel inti yaitu personel yang berpengalaman dan ketahanan fisik yang prima, personel sektor swasta, personel dinas kelautan dan perikanan, personel koperasi nelayan, para nelayan dan personel dari kamla setempat. Kegiatan ini dilaksanakan mulai dari penerimaan informasi melalui mesin facsimile, pengaturan/pembagian lokasi penangkapan, pengawasan operasi penangkapan dan pengamatan kondisi lapangan. dalam kegiatan penerapan informasi zona potensi ikan ini, personel inti harus ikut serta dalam operasi penangkapan ikan sehingga dapat secara langsung memberikan informasi/petunjuk kepada nelayan tentang lokasi yang tepat untuk menebar jaring. Pelaksanaan kegiatan seperti ini mempunyai dampak yang sangat baik bagi produsen maupun pengguna informasi. Bagi produsen informasi, kegiatan ini dapat bermanfaat dalam membuktikan akurasi informasi yang dihasilkan dan didistribusikan kepada nelayan dan sekaligus membangun kepercayaan di kalangan masyarakat nelayan bahwa informasi tersebut diproduksi dengan sungguh-sungguh dan dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas nelayan. sementara bagi nelayan, kegiatan ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan kemampuannya dalam menggunakan teknologi khususnya teknologi informasi dan teknologi navigasi serta pendukung operasi penangkapan ikan.

Strategi Media Sosialisasi dan Akses Informasi Perikanan.
Langkah-langkah.
Pertama, mengumpulkan data mengeai masyarakat nelayan: seperti jumlah nelayan, jumlah produksi, jalur distribusi, penampung dan pasar, cara penangkapan, alat produksi, harga, latar belakang pendidikan, kondisi sosial, kultur melaut, hubungan dalam nasyarakat, kondisi ekonomi, data tentang mengetahui modus produksi.

Kedua, mengidentifikasi media komunikasi: ini termasuk radio, televisi, koran, majalah, bioskop, buku komik, video, media tradisional dan cerita rakyat seperti teater pembangunan, buletin informasi pedesaan, brosur, telepon genggam dan teknologi informasi. Radio dan televisi adalah media paling populer. Juga diidentifkasi bagaimana nelayan berkonsultasi atau mendapatkan informasi baik dari pejabat pemerintah dan non pemerintah, dan juga dari petugas-petugas pertanian dan perikanan kota dan organisasi masyarakat, politisi setempat dan para penegak hukum perikanan dan lain-lain.

Ketiga, pertukaran informasi: interaksi individu di dalam lembaga terjadi melalui saluran resmi. Interaksi ini umumnya memerlukan jasa pos dan fax, yang selalu ditulis dalam bahasa Inggris. Hubungan informal selanjutnya melalui jalur telepon, dan telepon genggam (termasuk pesan tertulis SMS) dan mesin faks.

Keempat, akses terhadap informasi: bagaimana fokus penyuluhan bagi nelayan dan masyarakat pantai, metoda penyuluhan meliputi seminar pelatihan, diskusi, leaflet dan poster serta kolam percontohan (termasuk untuk budidaya rumput laut dan budidaya tilapia, catfish atau bandeng di pekarangan).
Kelima, kebutuhan dan rekomendasi: bahan yang sudah terkumpul kemudian diolah menjadi bentuk bahan dasar yang akan digunakan untuk menyusun rencana strategis program kerja. Berdasarkan hasil perolehan data, ditentukan informasi dan kebutuhan sosialisasi atau penyuluhan bagi nelayan serta tanggungjawab para stakeholdernya, dan disampaikan rekomendas-irekomendasi yang berkaitan, antara lain:
a. Strategi penyuluhan perlu skala nasional bagi sektor perikanan dan aquaculture perlu dibuat dengan cara partisipatif.
b. Pelayanan penyuluhan perlu dirampingkan agar semua pengguna akhir memperolah pelayanan yang adil.
c. Informasi penyuluhan harus ditargetkan dan diuji coba untuk mengoptimalkan efisiensi komunikasi.
d. Mekanisme yang telah ada untuk memperoleh umpan balik dari masyarakat bagi penyuluh perlu diperkuat.

Dari langkah-langkah tersebut disusunlah rencana kerja lapangan yang harus dilakukan, seperti memberikan pelatihan kepada para nelayan, bagaimana cara melaut yang merusak, jenis ikan yang boleh ditangkap, waktu tangkap, lokasi tangkap dan perlengkapan keselamatan dan lain-lain.
Uji coba dan Implementasi
Berangkat dari situasi internal organisasi, pertama sumber daya organisasi yang ada, baik itu manusia, alat ataupun dana yang tersedia, dapat disimpulkan bahwa yang bisa dilakukan adalah bentuk sosialisasi dengan biaya murah. Dari sisi nelayan, dengan mempertimbangkan jumlah komunitas dan latar belakang pendidikannya yang relatif rendah, maka dipilihlah alat sosialisasi yang mudah dimengerti, diingat, dan bersifat menarik.

Kombinasi dari pertimbangan di atas, maka diputuskan untuk mengunakan alat sosialisasi berupa, poster dan video. Poster tersebut terdiri dari dua jenis, pertama poster yang berisi gambar-gambar jenis ikan dan terumbu karang, kedua poster yang berisi teknis menangkap ikan yang tidak ramah lingkungan. Poster tersebut akan dikemas semenarik mungkin, dengan gambar dan warna-warna yang mudah diliat dan diingat. Dalam poster akan digambarkan bentuk ikan dan terumbu karang dengan warna yang berbeda. Dan bahan poster tersebut juga di bagi dalam dua bahan, pertama yang tahan air, karena akan dibawa nelayan ketika melaut, kedua bahan yang mudah di tempel, kertas tersebut akan di tepel di rumah-rumah nelayan dan pengumpul. Sementara poster yang kedua berisikan tahapan dan tehnik menagkap ikan. Tujuan dari poster tersebut adalah dapat menghindarkan mereka dari salah teknis menangkap ikan.

Alat lain juga akan digunakan adalah video. Biasanya alat sosialisasi yang bersifat visual akan menarik dan cepat diingat. Pilihan ini juga dilatarbelakangi oleh pendidikan nelayan tersebut. Dengan gambar yang bergerak diharapkan dapat lebih mempercepat proses pendidikan nelayan dalam memahami bagaimana menangkap ikan yang kurang yang baik. Untuk merangsang para nelayan dan untuk melihat sejauh mana efektivitas program tersebut, maka para nelayan yang berhasil, paling tidak, melakukan tingkat kesalahan yang relative kecil, akan diberikan penghargaan tertentu. Dengan begitu selain penghasilan mereka meningkat, ada rasa bangga dan penghargaaan yang diberikan atas prestasi kerja mereka.

Jadi dua alat sosialisasi tersebut akan saling mendukung program pendidikan untuk nelayan dengan harapan kesalahan dapat diminimalisir, kelestarian dapat dijaga, pendapatan dan kesejahteraan nelayan meningkat. Dan, yang lebih penting lagi adalah tujuan untuk memasyarakatkan iunformasi perikanan dan melaut ramah lingkungan dapat diwujudkan.

Dalam sosialisasi dan akses informasi dan komuikasi perikanan ini ada semacam alur yang menggambarkan adanya sebuah proses. Dari proses pengenalan, pemahaman, hingga latihan praktik para nelayan. Yang harus disadari, tak ada “resep generik” tentang cara “meramu” program strategi sosialisasi dan akses informasi dan komunikasi. Sebab, semua terkait dengan rencana strategis masing-masing stakeholders, sasaran dan juga kapasitas organisasi secara kualitatif maupun kuantitatif.

Dalam sosialisasi dan akses informasi dan komunikasi kepada masyarakat nelayan, terdapat 2 hambatan utama yaitu hambatan yang disebabkan oleh faktor birokrasi dan rendahnya tingkat pendidikan nelayan. Guna mengatasi hambatan tersebut, perlu dilakukan beberapa pendekatan baik untuk produksi maupun penerapan informasi. dari sisi produksi informasi perlu dilakukan pendekatan dengan cara membentuk tim pakar yang bertugas melakukan evaluasi, verifikasi dan validasi terhadap metode produksi dan penerapan sosialisasi dan informasi.

Sosialisasi dan akses informasi dan komunikasi pada kenyataannya bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan sebuah kerangka atau struktur kerja yang tersusun atas berbagai pengetahuan lain. Seperti, teori ilmu-ilmu psikologi, sosiologi, antropologi dan komunikasi dalam rangka memahami cara mempengaruhi perilaku masyarakat, dipengaruhi oleh perilaku interaktif yang terus berubah, dalam iklim ekonomi, sosial dan politik yang kompleks. Jadi, perlu disyadari bahwa strategi pelaksanaan sosialisasi dan informasi dan komunikasi perikanan perlu dikaji dan ditinjau secara berkala.
Kepustakaan
————–, Pengelolaan Spasial Lingkungan Hidup Terpadu Kawasan Aliran Sungai, Proyek Kerja Sama Jerman-Indonesia.
————-, 2003, Belajar Dan Berkomunikasi Tentang Matapencaharian Nelayan Dan Pembudidaya, Jurnal STREAM (Support To Regional Aquatic Resources Management).

Nelayan dan Akses Informasi Perikanan | budidarma | 4.5
error: Content is protected !!