PERAN KELUARGA DALAM PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN GIZI BURUK

Advertisement

 

BAB I
PENDAHULUAN
A.      DEFINISI GIZI BURUK
KEP atau gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan nutrisi, atau dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori.
Menurut Menkes No. 9201 menkes/SK/VIII/2002 status gizi ditentukan berdasarkan Z-SCORE berdasarkan berat badan (kg) terhadap umur (bulan) yang diklasifikasikan sebagai berikut :
  • Gizi Lebih: apabila berat badan balita berada > +2 SD (Standar Deviasi)
  • Gizi Baik : apabila berat badan balita berada antara <-2 SD
  • Gizi Buruk/KEP : apabila berat badan balita <-3 SD
Klasifikasi KEP menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (1975) :
Derajat KEP
Berat badan
% dari baku
0 = Normal
1 = Gizi kurang
2 = Gizi buruk
=/> 80%
60-79%
<60%
Sebagai baku patokan dipakai persentil 50 Harvard.
B.       FAKTOR PENYEBAB GIZI KURANG ATAU GIZI BURUK
Asupan yang kurang disebabkan oleh banyak faktor antara lain:
1.         Tidak tersedianya makanan secara adekuat Tidak tersedinya makanan yang adekuat terkait langsung dengan kondisi sosial ekonomi. Kadang kadang bencana alam, perang, maupun kebijaksanaan politik maupun ekonomi yang memberatkan rakyat akan menyebabkan hal ini. Kemiskinan sangat identik dengan tidak tersedianya makan yang adekuat. Data Indonesia dan negara lain menunjukkan bahwa adanya hubungan timbal balik antara kurang gizi dan kemiskinan. Kemiskinan merupakan penyebab pokok atau akar masalah gizi buruk. Proporsi anak malnutrisi berbanding terbalik dengan pendapatan. Makin kecil pendapatan penduduk, makin tinggi persentasi anak yang kekurangan gizi.
2.         Anak tidak cukup mendapat makanan bergizi seimbang makanan alamiah terbaik bagi bayi yaitu Air Susu Ibu (ASI), dan sesudah usia 6 bulan anak tidak mendapat Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat, baik jumlah dan kualitasnya akan berkonsekuensi terhadap status gizi bayi. MP-ASI yang baik tidak hanya cukup mengandung energi dan protein, tetapi juga mengandung zat besi, vitamin A, asam folat, vitamin B serta vitamin dan mineral lainnya. MP-ASI yang tepat dan baik dapat disiapkan sendiri di rumah. Pada keluarga dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah seringkali anaknya harus puas dengan makanan seadanya yang tidak memenuhi kebutuhan gizi balita karena ketidaktahuan.
3.         Pola makan yang salah satu studi “positive deviance” mempelajari mengapa dari sekian banyak bayi dan balita di suatu desa miskin hanya sebagian kecil yang gizi buruk, padahal orang tua mereka semuanya petani miskin. Dari studi ini diketahui pola pengasuhan anak berpengaruh pada timbulnya gizi buruk. Anak yang diasuh ibunya sendiri dengan kasih sayang, apalagi ibunya berpendidikan, mengerti soal pentingnya ASI, manfaat posyandu dan kebersihan, meskipun sama-sama miskin, ternyata anaknya lebih sehat. Unsur pendidikan perempuan berpengaruh pada kualitas pengasuhan anak.
C.      UPAYA KESEHATAN MENGATASI MASALAH GIZI BURUK
Upaya Kesehatan Kuratif dan Rehabilitatif
1.         Penemuan aktif dan rujukan kasus gizi buruk.
2.         Perawatan balita gizi buruk
3.         Pendampingan balita gizi buruk pasca perawatan
Upaya Kesehatan Promotif dan Preventif
1.         Pendidikan (penyuluhan) gizi melalui promosi kadarzi
2.         Revitalisasi posyandu.
3.         Pemberian suplementasi gizi.
4.         Pemberian MP – ASI bagi balita gakin
Kerangka kerja pencegahan dan penanggulangan gizi buruk:
  • Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi
  • Komponen SKPG:
1.         Keluarga
2.         Masyarakat dan Lintas Sektor
3.         Pelayanan Kesehatan
Dari kerangka kerja di atas, diketahui bahwa keluarga merupakan komponen utama dalam mencegah dan menanggulangi masalah gizi buruk.
Keluarga adalah dua atau lebih individu yang bergabung karena ikatan tertentu untuk berbagi pengalaman dan pendekatan emosional dan mengidentifikasi diri mereka sebagai bagian dari keluarga (Friedman, 1998)
Peran keluarga tersebut diantaranya:
  1. Memberikan:
a.         ASI eksklusif dan MP-ASI
ASI Eksklusif (menyusui dengan ASI saja sampai bayi berumur 6 bulan) merupakan nutrisi bagi bayi berupa air susu ibu tanpa memberikan makanan tambahan, cairan, ataupun makanan lainnya, hingga berumur 6 bulan.
Manfaat ASI:
1)        Pemberian ASI merupakan metode pemberian makan bayi yang terbaik, terutama pada bayi umur kurang dari 6 bulan, selain juga bermanfaat bagi ibu. ASI mengandung semua zat gizi dan cairan yang dibutuhkan untuk memenuhi seluruh gizi bayi pada 6 bulan pertama kehidupannya
2)        Komposisi ASI ideal untuk bayi
3)        Dokter sepakat bahwa ASI mengurangi resiko infeksi lambung-usus, sembelit, dan alergi
4)        Bayi ASI memiliki kekebalan lebih tinggi terhadap penyakit. Contohnya, ketika si ibu tertular penyakit (misalnya melalui makanan seperti gastroentretis atau polio), antibodi sang ibu terhadap penyakit tersebut diteruskan kepada bayi melalui ASI
5)        Bayi ASI lebih bisa menghadapi efek kuning (jaundice). Level bilirubin dalam darah bayi banyak berkurang seiring dengan diberikannya kolostrum dan mengatasi kekuningan, asalkan bayi tersebut disusui sesering mungkin dan tanpa pengganti ASI.
6)        ASI selalu siap sedia setiap saat bayi menginginkannya, selalu dalam keadaan steril dan suhu susu yang pas
7)        Dengan adanya kontak mata dan badan, pemberian ASI juga memberikan kedekatan antara ibu dan anak. Bayi merasa aman, nyaman dan terlindungi, dan ini mempengaruhi kemapanan emosi si anak di masa depan.
8)        Beberapa penyakit lebih jarang muncul pada bayi ASI, di antaranya: kolik, SIDS (kematian mendadak pada bayi), eksim, Chron’s disease, dan Ulcerative Colitis.
9)        IQ pada bayi ASI lebih tinggi 7-9 point daripada IQ bayi non-ASI. Menurut penelitian pada tahun 1997, kepandaian anak yang minum ASI pada usia 9 1/2 tahun mencapai 12,9 poin lebih tinggi daripada anak-anak yang minum susu formula.[4]
10)    Menyusui bukanlah sekadar memberi makan, tapi juga mendidik anak. Sambil menyusui, eluslah si bayi dan dekaplah dengan hangat. Tindakan ini sudah dapat menimbulkan rasa aman pada bayi, sehingga kelak ia akan memiliki tingkat emosi dan spiritual yang tinggi. Ini menjadi dasar bagi pertumbuhan manusia menuju sumber daya manusia yang baik dan lebih mudah untuk menyayangi orang lain.
Pada umur 6 sampai 12 bulan, ASI masih merupakan makanan utama bayi, karena mengandung lebih dari 60% kebutuhan bayi. Guna memenuhi semua kebutuhan bayi, perlu ditambah dengan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang disesuaikan dengan umur balita.
b.        Gizi seimbang
Gizi seimbang adalah susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat-zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman atau variasi makanan, aktivitas fisik, kebersihan, dan berat badan ideal. Seorang ibu sebagai pengelola atau penyelenggara makanan dalam keluarga mempunyai peranan yang besar dalam peningkatan status gizi anggota keluarga. Oleh karena itu semestinya seorang ibu dibekali pengetahuan yang cukup tentang perilaku gizi yang baik dan benar bagi setiap anggota keluarganya, serta mampu menyiapkan hidangan sebagai penerapan pesan utama gizi seimbang
c.         Pola asuh
1)      Pola asuh ibu
Agar pola hidup anak bisa sesuai dengan standar kesehatan, disamping harus mengatur pola makan yang benar juga tak kalah pentingnya mengatur pola asuh yang benar pula. Pola asuh yang benar bisa ditempuh dengan memberikan perhatian yang penuh serta kasih sayang pada anak, memberinya waktu yang cukup untuk menikmati kebersamaan dengan seluruh anggota keluarga.
Dalam masa pengasuhan, lingkungan pertama yang berhubungan dengan anak adalah orang tuanya. Anak tumbuh dan berkembang di bawah asuhan dan perawatan orang tua oleh karena itu orang tua merupakan dasar pertama bagi pembentukan pribadi anak. Melalui orang tua, anak beradaptasi dengan lingkungannya untuk mengenal dunia sekitarnya serta pola pergaulan hidup yang berlaku dilingkungannya. Dengan demikian dasar pengembangan dari seorang individu telah diletakkan oleh orang tua melalui praktek pengasuhan anak sejak ia masih bayi (Supanto, 1990).
2)      Perhatian / Dukungan Ibu terhadap Anak dalam Praktek Pemberian Makanan
Semua orangtua harus memberikan hak anak untuk tumbuh. Semua anak harus memperoleh yang terbaik agar dapat tumbuh sesuai dengan apa yang mungkin dicapainya dan sesuai dengan kemampuan tubuhnya. Untuk itu perlu perhatian/dukungan orangtua. Untuk tumbuh dengan baik tidak cukup dengan memberinya makan, asal memilih menu makanan dan asal menyuapi anak nasi. Akan tetapi anak membutuhkan sikap orangtuanya dalam memberi makan. Semasa bayi, anak hanya menelan apa saja yang diberikan ibunya. Sekalipun yang ditelannya itu tidak cukup dan kurang bergizi. Demikian pula sampai anak sudah mulai disapih. Anak tidak tahu mana makanan terbaik dan mana makanan yang boleh dimakan. Anak masih membutuhkan bimbingan seorang ibu dalam memilih makanan agar pertumbuhan tidak terganggu. Bentuk perhatian/dukungan ibu terhadap anak meliputi perhatian ketika makan, mandi dan sakit (Nadesul, 1995).
Wanita yang berstatus sebagai ibu rumah tangga memiliki peran ganda dalam keluarga, terutama jika memiliki aktivitas di luar rumah seperti bekerja ataupun melakukan aktivitas lain dalam kegiatan sosial. Wanita yang bekerja di luar rumah biasanya dalam hal menyusun menu tidak terlalu memperhatikan keadaan gizinya, tetapi cenderung menekankan dalam jumlah atau banyaknya makanan. Sedangkan gizi mempunyai pengaruh yang cukup atau sangat berperan bagi pertumbuhan dan perkembangan mental maupun fisik anak. Selama bekerja ibu cenderung mempercayakan anak mereka diawasi oleh anggota keluarga lainnya yang biasanya adalah nenek, saudara perempuan atau anak yang sudah besar bahkan orang lain yang diberi tugas untuk mengasuh anaknya (Sunarti, 1989).
3)      Rangsangan Psikososial
Rangsangan psikososial adalah rangsangan berupa perilaku seseorang terhadap orang lain yang ada di sekitar lingkungannya seperti orang tua, saudara kandung dan teman bermain (Atkinson dkk, 1991).
Fahmida (2003) yang mengutip pendapat Myers mengemukakan konsep bahwa kesehatan dan status gizi tidak saja menentukan tapi juga ditentukan oleh kondisi psikososial.
Konsep ini selaras dengan penelitian sebelumnya oleh Zeitlin dkk (1990) yang meniliti anak-anak yang tetap tumbuh dan berkembang dengan baik dalam keterbatasan lingkungan dimana sebagian besar anak lainnya mengalami kekurangan gizi. Dalam penelitian tersebut terungkap bahwa kondisi dan asuhan psikososial seperti keterikatan antara ibu dan anak merupakan salah satu faktor penting yang menjelaskan mengapa anak-anak tersebut tumbuh dan berkembang dengan baik. Diperkirakan bahwa kondisi psikososial yang buruk dapat berpengaruh negatif terhadap penggunaan zat gizi didalam tubuh, sebaliknya kondisi psikososial yang baik akan merangsang hormon pertumbuhan sekaligus merangsang anak untuk melatih organ-organ perkembangannya. Selain itu, asuhan psikososial yang baik berkaitan erat dengan asuhan gizi dan kesehatan yang baik pula sehingga secara tidak langsung berpengaruh positif terhadap status gizi, pertumbuhan dan perkembangan (Engle,1997).
Menurut Soetjiningsih (1995), ada beberapa faktor psikososial antara lain :
a)        Stimulasi : anak yang mendapat stimulasi yang terarah dan teratur akan lebih cepat berkembang dibandingkan dengan anak yang kurang atau tidak mendapat stimulasi.
b)        Motivasi belajar : dengan memberikan lingkungan yang kondusif untuk belajar misalnya tersedianya buku-buku, suasana yang tenang dan sarana lainnya.
c)        Ganjaran ataupun hukuman yang wajar : hukuman yang diberikan harus yang objektif bukan hukuman untuk melampiaskan kebencian terhadap anak.
d)        Kelompok sebaya : untuk proses sosialisasi dengan lingkungannya anak memerlukan teman sebaya.
e)        Stress : stress dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak misalnya terlambat bicara, nafsu makan menurun dan sebagainya.
f)         Cinta dan kasih sayang : salah satu hak anak adalah hak untuk dicintai dan dilindungi sehingga anak memerlukan kasih sayang dan perlakukan yang adil dari orangtuanya.
g)        Kualitas interaksi anak dan orang tua : interaksi timbal balik antara anak dan orang tua akan menimbulkan keakraban dalam keluarga.
Beberapa informasi mutakhir menunjukkan bahwa intervensi psikososial meningkatkan perkembangan kognitif anak. Program untuk memperbaiki dorongan psikososial melalui pendidikan orang tua tentang interaksi orang tua dan anak melalui kegiatan kunjungan rumah telah dapat menurunkan angka kurang gizi pada anak balita. Penelitian lainnya membuktikan bahwa perubahan pola asuh psikososial telah meningkatkan derajat pertumbuhan anak. Penelitian di Bogota, Columbia membuktikan bahwa anak-anak yang menderita kurang gizi, dikunjungi rumahnya setiap minggu selama 6 bulan oleh kader desa, ternyata pertumbuhan pada umur 3 tahun lebih tinggi daripada yang tidak dikunjungi. Dengan dikunjungi rumahnya, ibu- ibu menjadi lebih memahami kebutuhan anak dan memberi makan pada saat anak sedang lapar. Didapatkan juga bahwa ibu-ibu yang memahami tentang kebutuhan untuk perkembangan kognitif anak, anak-anaknya lebih pintar daripada ibu yang lalai dalam pengasuhan anaknya (Anwar, 2008).
  1. Pemantauan pertumbuhan anak
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisik dari waktu kewaktu. Sedangkan perkembangan adalah bertambahnya fungsi tubuh seperti pendengaran, penglihatan, kecerdasan, tanggung jawab dan lain-lain. Setiap anak memiliki garis pertumbuhan yang berbeda-bedah, anak tersebut akan tumbuh mengikuti pola pertumbuhan normalnya. Demikian pula dengan perkembangan fungsi tubuh, setiap anak memiliki tahapan perkembangan  menujuh ke fungsi  yang lebih baik. Cirinya adalah  dapat diukur secara kuantitatif, mengikuti perjalanan waktu dan dalam keadaan normalsetiap anak memiliki jalur pertumbuhan tertentu.
Pemantauan perkembangan status gizi bayi secara berkala setiap bulan dengan cara menimbang berat badan bayi dan mengukur panjang badannya. Idealnya, berat badan bayi berada di garis normal pada grafik pertumbuhan. Ini artinya, pertambahan berat badannya seimbang dengan pertambahan tinggi badan dan usia. Pemantauan pertumbuhan anak sejak lahir sangat penting. Selain dapat menentukan pola normal pertumbuhan pada anak, juga dapat menentukan permasalahan dan faktor yang mempengaruhi dan mengganggu pertumbuhan pada anak sejak dini. Bila diketahui gangguan pertumbuhan sejk dini maka pencegahan dan penanganan gangguan pertumbuhan tersebut dapat diatasi sejak dini
Sayangnya, hampir 85% lebih buku kesehatan anak yang berobat ke dokter anak atau ke dokter justru tidak pernah digambarkan grafik pertumbuhan berat badan. Justru grafik pertumbuhan berat badan sering digambar oleh kader posyandu bagi bayi yang menimbang di posyandu. Sehingga banyak kelainan dan gangguan kesehatan sering terjadi keterlambatan deteksi dan penanganannya.
Sebanyak 50% bayi mengalami gangguan kenaikkan sejak usia 6 bulan yang tidak pernah terdeteksi oleh orangtua dan dokter hanya karena dalam buku kesehatannya tidak pernah tergambar grafik kenaikan berat badan. Gangguan kenaikkan berat badan sejak usia 6 bulan seringkali terjadi hanya karena timbulnya reaksi simpang makanan (alergi makanan, intoleransi makanan dan seliak) pada bayi yang dapat mengganggu saluran cerna dan mengganggu nafsu makan dan berat badan bayi. Karena, saat usia 6 bula mulai diberi makanan tambahan baru.
Bagaimana  mengetahui pertumbuhan normal anak balita:
·            Ukur berat badan dan tinggi badannya.
·            Pertumbuhan fisik anak, diukur antara lain dengan Berat Badan (BB), Tinggi Badan (TB) dan Lingkar Kepala (LK). Salah satu cara untuk memantau pengukuran ke 3 parameter tsb, adalah dengan menggunakan grafik pertumbuhan (growth chart).
·            Tentukan berat badan ideal anak, anda juga bisa melihat apakah anak anda tinggi atau pendek, gemuk atau kurus..
·            Isi  berat badam balita anda  tentunya sesuai umur dan tarik garis grafik pertumbuhan pada KMS.
  1. Penggunaan garam beryodium
GAKY atau gangguan akibat kekurangan yodium merupakan salah satu masalah gizi yang banyak terjadi. Peran keluarga sangat penting dalam pencegahan dan penanggulangan masalah GAKY. Penggunaan garam beryodium di keluarga diketahui dapat mencegah dan menanggulangi masalah tersebut.
  1. Pemanfaatan pekarangan
Komoditi yang diusahakan dipekarangan sebaiknya disesuaikan dengan kesesuaian komoditi dengan daerah yang bersangkutan, peluang pasar, dan nilai guna meliputi:
a)         Tanaman pangan: umbi-umbian, kacang-kacangan, sayuran, buah-buahan, bumbu-bumbuan, obat
b)        Tanaman  bernilai ekonomi tinggi: buah, sayuran, hias (bunga potong, tanaman pot, tanaman taman, anggrek)
c)         Ternak: ternak unggas hias, ternak petelur, ternak pedaging
d)        Ikan: ikan hias, ikan produksi daging, pembenihan dan lain-lain.
  1. Peningkatan daya beli keluarga miskin
Daya beli masyarakat dan kondisi ekonomi terkait dengan kemampuan keluarga untuk menyediakan pangan dan memenuhi kebutuhan gizi anak. Peningkatan jumlah balita gizi buruk yang meninggal dunia setiap tahun adalah buah kemiskinan. Minimnya lapangan kerja membuat masyarakat tak sanggup membeli makanan bergizi. Meski telur dan susu tersedia di pasar, sebagian besar warga tidak mampu mengakses karena terpuruknya daya beli. Peraih Nobel Ekonomi Amartya Sen menyimpulkan, kelaparan terjadi bukan karena tak ada makanan di pasar, tetapi warga terlalu miskin, tidak mampu membelinya.
Oleh karena itu harus ada peningkatan daya beli masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya keluarga yang dimiliki. Misalnya dengan usaha berkebun, bertani dan yang lainnya.
  1. Bantuan pangan darurat: PMT balita
Pemberian makanan pada bayi merupakan salah satu upaya pemenuhan kebutuhan gizi  bayi sehingga bayi dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal (Sulastri, 2004). Pemberian makanan tambahan pada bayi adalah pemberian makanan atau minuman mengandung zat gizi pada bayi atau anak usia 6-24 bulan untuk memenuhi kebutuhan gizi setelah pemberian ASI ekslusif (Depkes RI, 2007). Pemberian makanan tambahan pada bayi harus diberikan secara bertahap untuk mengembangkan kemampuan bayi mengunyah, menelan dan mampu menerima bermacam-macam bentuk makanan yaitu dari bentuk bubur cair ke bentuk bubur kental, sari buah, buah segar, makanan lunak, makanan lembek dan akhirnya makanan padat (Sulistijani, 2001).
D.      TEMUAN KASUS
1.         Senin, 05 Desember 2011 | 15:26 WIB Senin, 05 Desember 2011 | 15:26 WIB.
KULONPROGO—Sebanyak enam anak balita di Tawangsari, Kecamatan Pengasih, Kulonprogo, dilaporkan menderita gizi buruk. Sementara 46 anak balita lainnya dari 300 balita di Tawangsari, masuk katagori kelompok gizi kurang. Sayangnya, sejak Januari hingga Oktober 2011 Dinas Kesehatan hanya mampu menekan kasus gizi buruk 0.05% saja.
Kepala Bidang Kesejahteraan Sosial Pemerintah Desa Tawangsari, Kecamatan Pengasih, Muryadi menjelaskan, masalah gizi buruk masih terjadi di wilayahnya. Menurut dia, masih adanya kasus gizi buruk disebabkan banyak faktor. Selain masalah ekonomi dan pendidikan, kesadaran warga juga masih perlu dipupuk lagi. Pasalnya, tambah dia, meski semua anak yang mengalami gizi buruk atau kurang gizi sudah diberi pemberian makanan tambahan (PMT), karena keterbatasan ekonomi warganya, PMT juga dinikmati anggota keluarga balita gizi buruk.
PMT memang sudah diberikan setiap bulan. Namun, karena rata-rata kasus gizi buruk berasal dari keluarga miskin, PMT seperti susu dan sebagainya yang diberikan, juga dinikmati anggota keluarga lainnya,” ujarnya, Senin (5/11).
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kulonprogo Lestaryono mengakui jika kasus gizi buruk masih terjadi di wilayahnya. Sayang, saat disinggung soal data kasus gizi buruk yang terekam selama 2011, Lestaryono belum bersedia menjawab. Namun, menurut Hartini salah seorang staff gizi Dinas Kesehatan Kulonprogo, angka kasus gizi turun dari 0.88% (2010) menjadi 0.83% hingga Oktober 2011 atau hanya turun 0.05%.(Harian Jogja/Abdul Hamied Razak)
2.         Magetan. Kasus gizi buruk di Magetan meningkat karena pola asuh orang tua yang salah. Mayoritas penderita gizi buruk tidak hanya dari kalangan orang tidak mampu saja. ” Sesuai pendataan kami dari lapangan balita yang menderita Gizi buruk akibat pola asuh yang salah  sekitar 51 persen,sisanya penyakit infeksi, dan kemiskinan.” jelas Toto Aprijanto Kepala Seksi Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan.
Sesuai data daro Dinas Kesehatan, tahun 2010 dari bulan Januari sampai Desember berjumlah 257, meninggal satu, sedangkan tahun 2011 dari bulan Januari sampai Mei jumlah penderita gizi buruk 251 meninggal satu. “ kemungkinan dari jumlah tersebut bisa bertambah, bila cara pola asuh anak tidak segera di rubah dengan benar,” katanya.
“Kalau melihat orang tua sekarang, mungkin karena sibuk dengan pekerjaan, balita sering di asuhkan oleh ke neneknya atau tetangga. Terkadang saat di suapi pembantu, biar terkesan lekas habis,  makanannya  di habiskan pembantu,” ungkapnya.
Menurutnya, Makanan bergizi bukan bearti makan yang mahal, akan tetapi makan dengan cukup, seperti sayur-sayuran , tempe, dan tahu. Makan ikan tidak harus sering-, 2 sampai 3 hari sekali sudah baik,” tuturnya.
Upaya Dinas Kesehatan tidak pernah berhenti untuk memberi pembinanan tentang pola asuh anak yang benar melalui masing-masing Pukesmas, Posyandu, dan bidan Desa. “ Yang terpenting pola asuh terhadap anak adalah sering memperhatikan, terutama makanan yang di konsumsi,” jelasnya.Cahyo Nugroho.
(http://www.magetankumandang.com/2011/07/01/penderita-gizi-buruk-di-magetan-75-persen-akibat-pola-asuh.php)
3.         Metrotvnews.com, Dompu: Sebanyak 36 bayi usia di bawah lima tahun di sejumlah kecamatan di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, menderita gizi buruk. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu Gatot Gunawan di Dompu, Rabu (29/6), mengatakan, data itu mencakup tiga kecamatan.
Gunawan mengatakan, kasus gizi buruk terbanyak di Kecamatan Huu mencapai 15 kasus, 11 kasus di Kecamatan Kempo dan 10 kasus di Kecamatan Dompu. Sementara di wilayah yang pertaniannya berhasil tidak ada kasus gizi buruk.
Dari hasil pengecekan di lapangan, kata Gunawan, kasus gizi buruk terjadi akibat pola asuh dan pola makan yang salah. Ada di antaranya karena ditinggal ibunya bekerja sebagai tenaga kerja wanita di luar negeri dan sebagian karena orang tuanya bercerai dan anaknya dirawat orang oleh keluarganya.
Gatot Gunawan mengatakan, kasus gizi buruk yang ditemukan di Kabupaten Dompu bukan karena kekurangan pangan, karena rata-rata cadangan pangan masyarakat mencukupi. “Penyebab utama kasus gizi buruk adalah karena pola asuh yang sala. Kalau soal kekurangan pangan rasanya tidak mungkin sebab cadangan makan masyarakat mencukupi,” kata Gunawan.
Menurut dia, masyarakat kurang memanfaatkan kunjungan pelayanan kesehatan gratis di Puskesmas juga menjadi faktor penyebab masih adanya kasus gazi buruk di Kabupaten Dompu.(Ant/DOR). (http://www.metrotvnews.com/read/news/2011/06/29/56270/Sebanyak-36-Balita-di-Dompu-Menderita-Gizi-Buruk)
4.         PADANG: Berdasarkan penelitian, tercatat bahwa sebanyak 30 persen balita di daerah terpencil di Sumatra Barat kini masih mengalami gizi kurang, diyakini daerah itu akan kehilangan generasi berkualitas pada masa datang.
“Kekurangan gizi yang dialami balita di daerah itu lebih akibat antara lain pelayanan kesehatan belum terjangkau dengan baik ke daerah itu,” kata Pakar gizi dari Poltekkes Kemenkes Padang, Andarfikar di Padang, Kamis 23 Juni 2011.
Menurut Andarfikar, di Sumatra Barat memiliki banyak daerah terpencil, sebagaian berada pada daerah perbukitan yang sulit terjangkau dengan transportasi sehingga pelayanan kesehatan tidak tersebar secara merata.
Kondisi alam Sumbar yang menyulitkan secara geografis tersebut, mempengaruhi pola berfikir orang tua dalam berprilaku hidup sehat karena minimnya informasi tentang asupan gizi dan menjaga kesehatan keluarga dengan baik.
“Padahal Sumbar dalam program ketahanan pangan sudah mencapai peringkat surplus beras,” katanya seraya menambahkan kondisi demikian sangat berbanding terbalik dengan kekurangan gizi yang dialami balita di provinsi itu.
Banyaknya balita yang mengalami kekurangan gizi juga lebih akibat prilaku orang tua dan pola asuh ibu, dalam memberikan gizi bagi balitanya.
Selama ini, katanya, kaum ibu di daerah terpencil masih menganut kebiasaan yang salah bahwa balita cukup diberikan makan kerupuk. Selain itu jika makan ikan anak akan bisa cacingan.
“Anggapan yang salah itu akan mengakibatkan anak berpotensi terjangkit infeksi penyakit seperti lumpuh layu atau polio dan terserang penyakit lainnya karena asupan gizi anak yang kurang sekaligus menurunkan kekebalan dan daya tahan tubuh anak pada penyakit,” katanya.
Karena itu pendidikan tentang asupan gizi yang baik yakni empat sehat lima sempurna di daerah terpencil perlu terus digencarkan. Selain itu pemerintah daerah secara rutin mengerahkan petugas kesehatan untuk memberikan informasi tentang pola makan yang sehat dan baik pada anak.
Ia menambahkan, berdasarkan penelitian di Sumbar ditemukan juga balita yang mengalami gizi buruk yang tercatat sebesar 3-4 persen. (ant). (http://www.bisnis-sumatra.com/index.php/2011/06/gizi-buruk-di-sumbar/)
5.         Data UNICEF tahun 1999 menunjukan, 10 -12 juta (50 – 69, 7 %) anak balita di Indonesia (4 juta diantaranya dibawah satu tahun) bersatus gizi sangat buruk dan mengakibatkan kematian, malnutrisi berkelanjutan meningkatkan angka kematian anak. Setiap tahun diperkirakan 7 % anak balita Indonesia (sekitar 300. 000 jiwa) meninggal ini berarti setiap 2 menit terjadi kematian satu anak balita dan 170. 000 anak (60 %) diantaranya akibat gizi buruk. Dari seluruh anak usia 4 -24 bulan yang berjumlah 4, 9 juta di Indonesia, sekitar seperempat sekarang berada dalam kondisi kurang gizi (Wahyuni, 2001, dalam Herwin. B. 2004).
Masih banyaknya bayi dan balita di Makassar yang berstatus gizi buruk (marasmus kwasriorkor) terutama disebabkan oleh masalah ekonomi, karena ternyata, sebagian besar penderita marasmur berasal dari keluarga kurang mampu.
Hingga kini pemerintah di Sulawesi Selatan belum melihat masalah kekurangan gizi dan rawan pangan sebagai persoalan serius dan mendesak untuk ditangani. Buktinya persentase balita yang kurang gizi tingkat berat masih stagnan di angka 43,59 persen (sekitar 352.000 balita) sejak tahun 1998 lalu. Padahal bila keadaan itu dibiarkan, 30 tahun ke depan Sulsel terancam lost generation, (http://www.litbang.depkes.go.id/aktual/kliping/.htm)
Sulawesi Selatan (Sulsel) yang dikenal luas sebagai lumbung pangan nasional ternyata memiliki angka kejadian gizi kurang yang tinggi. Survei Konsumsi Gizi menunjukkan bahwa sejak tahun 1995 sampai tahun 1998 terjadi peningkatan persentase keluarga di Sulsel yang mengalami defisit konsumsi energi dari 39% menjadi 57% (Latief dan kawan-kawan, 2000, Thaha, 2003).
Padahal, pada saat yang sama produksi beras, sumber utama kalori di daerah ini, mengalami surplus 1,4 juta sampai 1,5 juta ton (BKP Sulsel, 2001 dan 2002, dalam Thaha, 2003), (http://www.gizi.net/cgi-bin/berita/fullnews.cgi. newsid)
Sejalan dengan sasaran global dan perkembangan keadaan gizi masyarakat, rumusan tujuan umum program pangan dan gizi tahun 2001-2005 yaitu menjamin ketahanan pangan tingkat keluarga, mencegah dan menurunkan masalah gizi, mewujudkan hidup sehat dan status gizi optimal.
Menurut kerangka yang disusunn oleh WHO, terjadinya kekurangan gizi dalam hal ini gizi kurang dan gizi buruk lebih dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni, penyakit infeksi dan asupan makanan yang secara langsung berpengaruh terhadap kejadian kekurangan gizi, pola asuh serta pengetahuan ibu juga merupakan salah satu faktor yang secara tidak langsung dapat berpengaruh terhadap kekurangan gizi, seperti pada bagan UNICEF berikut ini yang telah dimodifikasi oleh Prof. Dr. Soekirman, (Herwin. B. 2004).
Makanan untuk anak harus mengandung kualitas dan kuantitas cukup untuk menghasilkan kesehatan yang baik. Kekurangan gizi akan mengakibatkan anak mudah diserang penyakit, pengetahuan gizi dan pemberian makanan bergizi disarankan untuk anak wajib diketahui bagi pendidik di Taman Kanak-Kanak. Anak membiasakan diri makan melalui makanan disekolah, anak belajar memilih makanan yang baik, jika makanan masuk kebadan adalah makanan bergizi, maka anak akan memiliki daya tahan tubuh yang kuat.
Pengasuhan anak oleh Ibu (Orang Dewasa) terhadap pemenuhan kebutuhan gizi, perawatan dasar termasuk imunisasi, pengobatan bila sakit, tempat tinggal yang layak, higyene perorangan, sanitasi lingkungan, sandang, kesegaran jasmani, (Soetjiningsih, 1995 dalam Herwin. B. 2004).
Masalah gizi kurang dan gizi buruk bila tak ditangani secara serius akan mengakibatkan bangsa Indonesia akan mengalami “LOS GENERATION“ keterlibatan keluarga yang selama 24 jam mendampingi anak yang menderita kekurangan gizi tersebut. Perhatian cukup dan pola asuh anak yang tepat akan memberi pengaruh yang besar dalam memperbaiki status gizinya.
Dengan melihat tabel Distribusi Anak Balita Gizi Kurang Menurut Jenis Kelamin Di Wilayah Puskesmas Kecamatan Maiwa Kabupaten Enrekang Tahun 2003 menunjukan bahwa, status gizi buruk/kurang menunjukan bahwa kejadian kerawanan gizi pada keluarga adanya berbagai multifaktor pada pola pengasuhan dan perawatan anak balita, (Herwin. B. 2004).
Anak balita adalah anak – anak yang berusia dibawah lima tahun yang sedang menunjukan pertumbuhan badan yang pesat sehingga memerlukan zat-zat gizi yang lebih tinggi setiap kilogram berat badan.
Hal ini kemungkinan dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya asupan makanan yang diterima setiap harinya tidak sesuai dengan kebutuhan untuk beraktifitas, adanya penyakit infeksi yang diderita oleh anak balita sehingga daya tahan tubuh menurun berakibat menurunnya berat badan dan kehilangan energi dalam tubuh. Hal tersebut dapat pula disebabkan oleh karena kuranya kontrol / pola asuh pada balita baik terhadap asuhan makanan, higyene perorangan maupun kebersihan lingkungan sekitar tempat balita berinteraksi dan beraktifitas. (http://www.ibudanbalita.com/diskusi/pertanyaan/66567/pola-asuh-dalam-hubungannya-dg-status-gizi-anak-daerah-sul_sel)
6.         Mataram, 4/12 (ANTARA) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat terus menggencarkan sosialisasi penganekaragaman pangan kepada masyarakat untuk menekan angka bayi bawah lima tahun yang mengalami kekurangan gizi.
“Badan Ketahanan Pangan (BKP) bersama Dinas Kesehatan, Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Nusa Tenggara Barat (NTB) terus memotivasi masyarakat untuk mengonsumi pangan beranekaragam sehingga provinsi ini bebas dari gizi buruk,” kata Kepala BKP NTB Hj Husnanidiaty Nurdin, di Mataram, Minggu.
Ia mengatakan, sosialisasi penganekaragaman pangan dan pemberian makanan tambahan bergizi kepada anak-anak juga mendapat dukungan dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang pangan dan gizi masyarakat.
Lembaga lain yang juga memberikan perhatiannya adalah “World Food Programme” (WFP) atau program pangan dunia yang memprogramkan bantuan pangan bersama antarnegara. WFP dibentuk oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1963 dan diawasi Organisasi Pangan Dunia (FAO).
Menurut dia,  kasus kekurangan gizi di NTB, bukan disebabkan masyarakat kekurangan pangan atau NTB tidak memiliki cadangan pangan, tetapi lebih karena pola asuh orang tua dan pola konsumsi pangan masyarakat yang harus diperbaiki.
Pola konsumsi yang sehat dan bergizi tidak harus mahal karena sumber gizi, energi dan protein bisa diperoleh dengan memanfaatkan pekarangan yang tersedia, meskipun luasnya relatif kecil.
“Tanaman kelor dan kacang-kacangan atau biji-bijian memiliki kandungani gizi yang bagus untuk mendukung pertumbuhan bayi bawah lima tahun (balita). Tanaman itu bisa ditanam di sekitar pekarangan rumah,” ujarnya.
Masyarakat, kata Husnanidiaty, juga bisa memanfaatkan pekarangan untuk memelihara ternak unggas seperti ayam, sehingga bisa memenuhi kebutuhan protein hewani dari telur yang dihasilkan.
Upaya mendorong masyarakat memanfaatkan pekarangan untuk memenuhi kebutuhan energi dan protein keluarga terus dilakukan agar capaian skor pola pangan harapan (PPH) yang ditargetkan sebesar 77,2 persen pada 2011 dapat tercapai.
Skor PPH NTB masih berada di bawah nasional, yakni sebesar 88,1 persen. Salah satu yang menyebabkan skor PPH NTB berada di bawah nasional karena kendala akses.
“Untuk itu, BKP tidak henti-hentinya menganjurkan  seluruh masyarakat untuk memanfaatkan pekarangan walaupun hanya sejengkal tanah. Kalau sudah mampu memanfaatkan pekarangan, masyarakat tidak perlu jauh-jauh ke pasar membeli pangan untuk kebutuhan energi dan protein keluarga,” ujarnya.
Sebelumnya, Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Pembiayaan dan Pemberdayaan Masyarakat Dr Untung Suseno Sutarjo MKes menyebutkan angka kekurangan gizi pada balita di NTB tertinggi di Indonesia, yakni mencapai 30,5 persen. Angka itu berada di atas rata-rata nasional 17,9 persen.
“Hasil survei Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan pada 2010, kasus kekurangan gizi di NTB tertinggi di Indonesia, sedangkan terendah di Provinsi Sulawesi Utara 10,6 persen,” katanya pada acara sosialisasi program Bidang Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 2011, di kawasan wisata Senggigi, Kabupaten Lombok Barat, Rabu (30/11).
(http://www.antaramataram.com/berita/?rubrik=5&id=20322)
7.         Serang, (tvOne). Sebanyak 9.620 anak usia bawah lima tahun (balita) di Provinsi Banten menderita status gizi buruk sehingga perlu penanggulangan serius untuk meningkatkan asupan gizi yang baik.
“Saya merasa prihatin dengan tinggiya jumlah kasus gizi buruk,” kata Wakil Gubernur Banten, Masduki, Selasa (5/5/2009).
Saat ini, katanya, penyebab tingginya kasus penderita gizi buruk akibat lilitan kemiskinan, rendahnya pendidikan, pola asuh yang salah dan budaya setempat.
Bahkan, masih banyak ditemukan orangtua memberikan makanan anak dengan kepala ikan asin atau kerupuk yang tidak memiliki gizi yan baik.
Oleh karena itu, pihaknya menargetkan tahun 2009, jumlah kasus gizi buruk bisa menurun sekitar 50 persen.
Saat ini, pemerintah daerah sudah menganggarkan dana sekitar Rp3 miliar untuk penanggulangan gizi buruk dengan memberikan program pemberian makanan tambahan (PMT) air susu ibu (ASI). Makanan tersebut berupa biskuit, susu, bubur, dan vitamin A.

Pemberian makanan tambahan itu akan diberikan secara langsung pada posyandu di seluruh daerah di Banten. Jumlah posyandu yang aktif melayani kesehatan balita di Banten mencapai 8.989 posyandu.

Selain itu, pihaknya terus meningkatkan pelayanan kesehatan gizi di puskesmas maupun posyandu.
“Kami berharap petugas puskesmas dan kader posyandu lebih optimal untuk membantu penuntasan balita gizi buruk,” katanya.
Penanganan gizi buruk, kata Masduki, bukan hanya tanggung jawab dinas kesehatan saja, melainkan seluruh elemen masyarakat juga turut membantu.
“Jika di kampung terdapat orang mampu secara ekonomi, maka berikanlah bantuan kepada warga yang tak mampu,” ujarnya.
Dia menyebutkan, pemerintah memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi penderita gizi buruk yang terserang penyakit penyerta seperti tuberchulosis, pneumonia, paru-paru, diare, demam tinggi.
Mereka penderita gizi buruk bisa dirawat di kelas tiga di rumah sakit milik pemerintah.
Sementara tu, Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Dadang Epid mengatakan, saat ini kasus gizi buruk terus mengalamai penurunan dibandingkan tahun 2007 yang mencapai tiga persen.
“Tahun 2009, penderita gizi buruk turun sekitar 1,2 persen,” ujarnya. (http://nusantara.tvonenews.tv/berita/view/13239/2009/05/05/sebanyak_9627_balita_di_banten_alami_gizi_buruk.tvOne)
BAB II
PERKEMBANGAN MUTAKHIR
A.      DEFINISI KADARZI
Keluarga sadar gizi adalah keluarga yang berperilaku gizi seimbang, mampu  mengenali dan mengatasi masalah gizi anggotanya.
Perilaku gizi seimbang adalah pengetahuan, sikap dan praktek keluarga meliputi mengkonsumsi makanan seimbang dan berperilaku hidup sehat
Mengapa sasarannya Keluarga:
1.         Pengambilan keputusan dalam bidang pangan, gizi dan kesehatan dilaksanakan terutama di tingkat keluarga
2.         Sumber daya dimiliki dan dimanfaatkan di tingkat keluarga
3.         Masalah gizi yang terjadi di tingkat keluarga, erat kaitannya dengan perilaku keluarga, tidak semata-mata disebabkan oleh kemiskinan dan ketidaktersediaan pangan
4.         Kebersamaan antar keluarga dapat memobilisasi masyarakat untuk memperbaiki keadaan gizi dan kesehatan.                                  
B.       INDIKATOR KADARZI
1.      Menimbang berat badan secara teratur
a)      Pengertian: Balita ditimbang berat badannya setiap bulan dan  dicatat dalam KMS
b)      Cara Pengukuran: Lihat catatan penimbangan balita pada KMS selama 6 bulan terakhir.
c)      Kesimpulan
·           Bila bayi berusia > 6 bulan
Baik: Bila ≥ 4 kali berturut-turut
Belum baik:Bila < 4 kali berturut-turut
·           Bila bayi berusia 4-5 bulan
Baik: Bila ≥ 3 kali berturut-turut
Belum baik: Bila < 3 kali berturut-turut
·           Bila bayi berusia 2-3 bulan
Baik: Bila ≥ 2 kali berturut-turut
Belum baik:Bila < 2 kali berturut-turut
2.      Memberikan asi saja kepada bayi sejak lahir sampai usia 6 bulan (asi eksklusif)
a)      Pengertian: Bayi berumur 0-6 bulan diberi ASI saja, tidak diberi makanan dan minuman lain.
b)      Cara Pengukuran
Lihat catatan status ASI eksklusif pada KMS dan kohort (catatan pemberian ASI pada bayi). Lalu tanyakan kepada ibunya apakah bayi usia 0 bln, 1 bln, 2 bln, 3 bln, 4 bln, 5 bln dan 6 bln selama 24 jam terakhir sudah diberikan makanan atau minuman selain ASI?
c)      Kesimpulan
·           Baik: Bila hanya diberikan ASI saja, tidak diberi makanan dan minuman lain (ASI eksklusif 0 bln,1 bln, 2 bln, 3 bln, 4 bln, 5 bln dan 6 bln)
·           Belum baik: Bila sudah diberi makanan dan minuman lain selain ASI
3.      Makan aneka ragam makanan
a)      Pengertian
Balita mengkonsumsi makanan pokok, lauk pauk, sayur dan buah setiap hari. ATAU (bila tidak ada anak balita)
Keluarga mengkonsumsi makanan pokok, lauk pauk, sayur dan buah setiap hari
b)      Cara Pengukuran
Menanyakan kepada ibu tentang konsumsi lauk hewani dan buah dalam menu anak balita selama 2 (dua) hari terakhir. atau (bila tidak ada anak balita) Menanyakan kepada ibu tentang konsumsi lauk hewani dan buah dalam menu keluarga selama 3 (tiga) hari terakhir.
c)      Kesimpulan
·           Jika Ada Balita:
Baik: Bila setiap hari makan lauk hewani dan buah
Belum baik: Bila tidak tiap hari makan lauk hewani dan buah
·           Jika Tidak Ada Balita:
Baik: Bila sekurangnya dalam satu hari keluarga makan lauk hewani dan buah
Belum baik: Bila tidak makan lauk hewani dan buah
4.      Menggunakan garam beryodium
a)      Pengertian
Keluarga menggunakan garam beryodium untuk memasak setiap hari
b)      Cara Pengukuran
Menguji contoh garam yang digunakan keluarga dengan tes yodina/tes amilum.
c)      Kesimpulan
Baik: Beryodium (warna ungu)
Belum baik: Tidak beryodium (warna tidak berubah/muda)
5.      Memberikan suplemen gizi sesuai anjuran
a)      Pengertian
 Bayi 6-11 bulan mendapat kapsul vitamin A biru pada bulan Februari atau Agustus.
Anak balita 12-59 bulan mendapat kapsul vitamin A merah setiap bulan Februari dan Agustus.
b)      Cara Pengukuran
Lihat catatan pada KMS/catatan posyandu/buku KIA, bila tidak ada tanyakan pada ibu.
c)      Kesimpulan
Bayi 6-11 bulan dan Anak balita 12-59 bulan:
Baik:
• Bila mendapat kapsul biru pada bulan Feb atau Agt (6-11 bln).
• Bila mendapat kapsul merah setiap bulan Feb dan Agt (12-59 bln).
Belum baik: Bila tidak mendapat kapsul biru/merah.
C.      PENILAIAN KELUARGA SADAR GIZI    
Penilaian keluarga sadar gizi dapat dinilai jika syarat-syarat sudah terpenuhi, antara lain:
1.         Status gizi seluruh anggota keluarga khususnya ibu dan anak baik
2.         Tidak ada lagi bayi berat lahir rendah pada keluarga
3.         Semua anggota keluarga mengkonsumsi garam beryodium
4.         Semua ibu memberikan hanya ASI saja pada bayi sampai usia 6 bulan
5.         Semua balita dalam keluarga yang ditimbang naik berat badannya sesuai umur
6.         Tidak ada masalah gizi lebih dalam keluarga. (Depkes,2004)
BAB III
KESIMPULAN
A.      KESIMPULAN
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa  keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan kesehatan  terutama dalam hal mencegah dan menanggulangi gizi buruk. Hal ini salah satunya dapat dilakukan dengan program kesehatan kadarzi.
B.       HARAPAN
Dengan program kadarzi ini diharapkan kesehatan masyarakat dapat meningkat terutama untuk mengurangi angka kejadian gizi buruk di negeri ini. Sejalan dengan dilaksankannya program kadarzi ini pemerintah hendaknya tetap memberikan perhatiannya kepada masyarakat yang dilakukan antara lain dengan secara terus menerus melakukan promosi dan menyediakan sarana prasarana guna pencapaian program kadarzi. Sedangkan untuk masyarakat diharapkan dapat senantiasa berpartisipasi dengan melaksanakan program tersebut secara baik.
 


DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI.2000. Buku Modul akademi Gizi Tatalaksana Penanggulangan Gizi Buruk. Jakrta : Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI.
Pudjiadi, Solihin. 1990. Ilmu Gizi Klinis Pada Anak. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
http://www.scribd.com/doc/6549689/GIZI-BURUK
http://dr-suparyanto.blogspot.com/2010/12/penanggulangan-gizi-buruk.html
http://medicastore.com/artikel/284/Kenali_Tanda_dan_Gejala_Gizi_Buruk.html
http://www.blogster.com/manjilala/indikator-kadarzi
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16927/4/Chapter%20II.pdf
http://koranindonesiasehat.wordpress.com/2010/11/04/monitoring-pertumbuhan-anak-sejak-bayi-sering-diabaikan/

Hasil penelusuran:

  • penanggulangan gizi buruk dari tingkat keluarga
  • mengatasi ekonomi mampu tapi gizi kurang
  • penanggulangan gizi buruk
  • peran lingkunhan dalam menangani gizi buruk

PERAN KELUARGA DALAM PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN GIZI BURUK | budidarma | 4.5